“Aldo!!!!!!!!!! Lu itu jail banget sih jadi orang!” teriakku
kepada sahabat karibku Aldo. “hahaha ayoo nit lari elo sih kegedean” saut Aldo.
Aku masih mengejar Aldo, kami adalah
teman satu sekolah menengah di Bandung. Aldo, dia adalah salah satu idola di
sekolah Harapan Bangsa, tapi entah kenapa Aldo selalu memilih berteman dengan Aku
yg super jutek itu, memang Aldo
mempunyai sahabat satu klubnya dibasket, tapi tetap Aldo memilih Aku untuk
bermain. “nah, ketangkep kan lu! Siniin hp gue” kata ku dan merebut hpku. “iya
iya hahaha tampang lu nit sok cantik gitu hahaha yuk pulang” kata Aldo.
Aku sangat beruntung memiliki
sahabat seperti Aldo, dia memang sahabat satu satunya di sekolahku. Seperti
yang kukatakan Aldo adalah idola di sekolahku, selain dia selalu mengikuti
perlombaan bahasa inggris, matematika dan sains di tingkat provinsi dia juga
kapten tim basket disekolahku, jadi aku sama sekali ga heran kalo dia selalu
banyak dapat surat cinta ataupun coklat ditasnya. Mungkin aku juga sudah mulai
terpikat oleh terpesona sahabatku ini.
Diawalan pertemuanku dengan Aldo
karena Aldo melempar bola basket dan mengenai kepalaku. Hahaha kalo diinget
inget lucu juga sih, dan setelah peristiwa itu Aldo semakin baik kepadaku,
padahal aku adalah anak baru diHarapan Bangsa. Yang aku heranin selama ini
sampai sekarang si Aldo itu sama sekali belum punya pacar. Aldo yang mempunyai
badan super ideal seperti top model majalah terkenal malah sama sekali tidak
tertarik dengan cewek manapun.
Mentari bersinar terang membawa semangat dipagi ini, “mah,
pah nita berangkat dulu ya assalammualaikum” pamitku. Aku berjalan menyusuri
kota Bandung yang sangat sejuk ini. Angin sepoi sepoi menandakan bahwa Bandung
mulai tambah dingin. Memang sekolahku dekat dengan rumahku, jadi aku memilih
berjalan dan menikmati kota Bandung. Aku bangga tinggal dikota Bandung, karena
dikota ini aku menemukan sahabat sejatiku sekaligus cinta pertamaku. Aldo Dwi Baskoro,
itulah nama orang yang ku sayangi.
“nit, ntar pulang sekolah elu ikut gue ya?” ajak Aldo.
“kemana? Tapi ada kak Tama ga? Kalo ada gue ikut deh” jawabku. “yeeeee elo itu
yaa naksir banget ya sama kakak gue? Mending sama adiknya ga kalah ganteng pula
hahaha” saut Aldo sambil mengacak-acak rambutku. “idiiiih gue mah ogaaaah naksir sama orang
sejail elo.mending sama ka Tama, uda ganteng, kuliah kedokteran, baik, haduuuuh
jadi malu” tangkis nita. Aldo lalu meninggalkan kelas dengan sedikit gusar. “eh
do, elu mau kemana??” teriakku. “mau mukulin kak Tama kenapa dia lebih ganteng
dan lebih pinter dari pada gue” ketus Aldo. Memang Aldo itu adalah sahabat yang
bisa bikin aku ketawa. Aku memang ngefans banget sama kak Pratama Bagus Baskoro,
kakaknya Aldo. Dan aku sangat akrab dengan keluarga Baskoro, keluarga yang
selalu ku dambakan, keluarga yang begitu harmonis, aku selalu nyaman bila main
kerumah Aldo. Dan kak Tama hanyalah satu satunya orang yang mengetahui aku menyukai
Aldo. Kak Tama orang yang baik, tapi dia juga betah menjomblo, dia
seperti Aldo banyak cewek-cewek yang menyukainya, tapi ga ada satupun cewe yang
dibawa kerumah oleh kak Tama.
Pulang sekolah, yah saat saat yang paling aku senangi karena
aku bisa melewati waktu demi waktu bersama Aldo. “kita mau kemana sih?” tanyaku
“udah lu naik aja repot amat sih? Jadi mau ketemu sama kak Tama ga?” jawab Aldo
sambil melempar helm kepadaku. Siang itu kami berdua meyusuri kota indah
Bandung tercintaku ini, dengan ditemani si “putih” motor matic kesayangan Aldo
kami menuju salah satu kafe di Bandung, dimana kafe itu adalah tempat pertama
kalinya aku bertemu dengan kak Tama. Aku yang waktu itu pertama kalinya datang
dikota Bandung, dan memberanikan diri untuk melancong ke ruang demi ruang
dikota ini, dan ak menuju kafe ini kafe “bubble gum” kata yang menurutku unik
dan lucu, dan mempunyai tempat yang nyaman
dan memiliki sentuhan ornamen ornamen yang klasik membuat semua
pelanggan terbuai akan tempat ini. Aku duduk di sebuah meja pojok dekat kaca,
tempat favoritku entah ketika ak dimana pun, diSolo kota tempatku lahir,
disalah satu kafenya pun ak duduk ditempat favoritku, dipojok dekat jendela,
dan apabila tempat itu sudah ditempati orang, aku ga akan segan segan pergi
dari tempat itu, itulah kebiasaan anehku. Ketika aku duduk menunggu pesananku
datang, ak membaca novel yang membuatku jatuh hati yaitu “jingga dan
senja” hasil karya penulis terkenal Esti Kinasih, tiba tiba saja aku
mendengarkan suara lembut dan membuat merinding tubuh ini irama irama yang
indah, melodi melodi yang begitu tersusun rapi dan seseorang yang menyanyikan
penuh perasaan. Dan untuk pertama kalinya aku pindah dari tempat dudukku ke
tengah supaya bisa melihat sesorang yang dapat menggetarkan jiwa ini dengan
suaranya, cowok yang memakai baju putih dengan blazer abu abu memainkan piano
itu, seakan jari jarinya menari dan mengerti akan perasaan sang cowok itu. Aku
terus memandanginya, terus menikmati penampilan si cowok tersebut. Dan apa yang
terjadi cowok itu berbalik senyum kepadaku, aku yang menjadi salah tingkah
sangat malu, dan akupun kembali ketempat dudukku semula, ak merasa ge.er mana
mungkin cewek segemuk aku bisa disukai oleh cowok bersuara merdu itu, pesananku
datang dan aku menyantapnya dengan kembali aku membaca novel jingga dan senjaku
itu, lalu aku hampir setiap sabtu aku datang ke kafe itu, untuk melihat si
cowok bersuara merdu itu, dengan seragam SMAku yang baru aku datang, dan
pengunjung dikafe itu terlihat sepi, ternyata baru aku sadari kafe itu baru
saja buka dan aku adalah pelanggan pertama yg datang, terkejutnya aku ketika
cowok itu sedang membersihkan piano tersebut, dia kembali tersenyum kepadaku,
ini kedua kalinya dia tersenyum kepadaku, aku duduk ditempat favoritku, dia,
dia si cowok bersuara merdu itu memperkenalkan diri kepadaku, aneh rasanya
ketika pertama kalinya aku diajak kenalan cowok ganteng itu dia adalah Pratama Bagus
Baskoro, yang ternyata kakak dari sahabatku Aldo.
“heh, nih anak kesambet apa yaa diajak ngobrol malah bengong!
Nita!” hentak Aldo “eh iya do? Kenpa? Lu tadi bilang apa? Jawabku polos. “noh
makanan elu ntar dingin tuh nasi goreng mata sapi tanpa berbau sayuran satupun”
ungkap Aldo. “hehehehe iya iyaa kamu mau ngapain ajak aku ke sini do?” Tanyaku
lagi. “bentar yaa, kak Tama mainkan” teriak Aldo. “happy birthday happy
birthday happy birthday Anita” suara yang aku kenal, begitu ku kenal kak Tama,
“hbd yah nit nih kado dari gue,” kata Aldo. “nih aku juga nih kado buat kamu
nit” kata kak Tama. “thanks kak Tama , Aldo juga” jawabku. “yaelah kayaknya
yang ngasih duluan gue deh kenapa kak Tama dulu yang dibilang makasih nya? Elu
sih kak, ikutan aja jadi gue terlupakan deh” ungkap Aldo. “hahaha sorry deh do,
gini gini gue abang elo, toh gue ga punya adik cewek, jadi Nita gue anggep adik
gue, toh ntar kalian juga bakalan nyatu dalam pernikahan gue aminin deh” canda
kak Tama. “idiiiiiih gue sama Aldo
enggak akh mending sama kak Tama hahaha” jawabku “sapa juga yang mau sama elooo
genduuut” ejek Aldo “kak Tama kak Tama ak diejek” rengekku. “okey tugas gue
kelar, nah nit elo kan ultah nih jadi gue bolehin elu diantar kak Tama oke?”
kata Aldo “heeeeeeeh do! Sialan lu ga tanggung jawab banget sih jadi orang”
jawabku kesal, “udaaaah elo juga suka kan? Gue cabut, kak, gue titip Nita ya”
kata Aldo dan berlari menuju si “putih”.
Aku dan kak Tama melaju cepat dengan mobil sedan kesayangan
kak Tama. “haduuuuh kak Tama kenapa tadi bilang gitu sih ke Aldo?” rengekku.
“hahaha gpp kali nit, kita kasih kode ke adik gue yang ganteng itu haha” canda
kak Tama. Aku bahagia, selain aku adalah anak tunggal tapi sekarang yang
disebelahku ini adalah kakak bagiku, kakak yang dulu aku taksir tapi aku
menyerah karena kak Tama memang cocok menjadi kakak buatku.dan aku tak mengerti
hingga saat ini kenapa aku sekarang malah menyukai si sahabatku itu??
Hari demi hari aku lewati dikota yang baru ku singgahi ini,
rasanya kangen sama kota kelahiranku Solo, kangen dengan kulinernya, kangen
dengan suasananya, kangen pula sahabat sahabatku yang disana.
Ayahku adalah seorang pegawai negeri yang selalu sering berpindah
pindah untuk menjalankan tugasnya, dan ibuku, ibuku adalah seorang ibu rumah
tangga biasa, keluargaku cukup menyenangkan, tapi walaupun aku anak tunggal aku
merasa selalu sendiri, jarang ada waktu untuk berkumpul, dan aku beruntung
mengenal keluarga Baskoro. Kedua orang tuaku dan keluarga Baskoro sudah akrab
karena, si Aldo itu, dia sering membuat acara untuk pengakraban keluarga kami.
Sekolahku mengadakan drama tentang kehidupan sehari hari,
dengan judul “Cantik itu Natural” memang sih guruku yang bernama Bu Tari ini
hobby banget kalo tentang percintaan, dan dia merupakan salah satu guru
terfavorit disekolahku, beliau juga guru termuda, tercantik dan paling gaul
atau bisa disebut “kece” di Harapan Bangsa.
Ketika pemilihan tokoh BuTa sering dipanggil seperti itu,
mengadakan casting untuk semua siswa siswi di Harapan Bangsa, pemilihan
tersebut cukup unik, setiap kelas harus menyiapkan seorang cewe dan cowo untuk
casting sebagai peran utama. Dan sialnya, aku terpilih, cukup sebal sih, karena
yang lebih menarik dikelas itu banyak tapi kenapa harus aku? Yang paling
mendebarkan adalah pasanganku untuk casting adalah si Aldo, yang kuherankan juga kenapa persyaratan tokoh
utama sang cewek itu harus yang biasa biasa aja, ga boleh cantik, ga boleh
kurus, yaa mungkin karena itu teman teman memilihku sial!
Pengumuman pemilihan tokoh drama pun dimulai, pementasan
drama disekolahku memang banyak peminatnya, dan apabila bisa menjadi pemeran
utama, dia akan menjadi populer disekolah, itu sih udah hukum alamnya disekolah
ini, nah kalo Aldo yang kepilih mah dia uda terkenal, dan aku percaya dia akan
terpilih, dan pemenang pemeran utamanya adalah Aldo dan Dina, cukup kecewa sih,
tapi tak apalah mungkin Dina memang cocok, dia ga manis, ga juga cantik, tapi
memang sih juara pertama volly inilah yang mampu membius para lelaki untuk
naksir kepada dia, dia juga baik, ramah pula, dia pintar, dan dia tidak memilih
teman tidak seperti cewek cewek yang ku kenal disekolah ini, Dina adalah
temanku dikelas lain, jadi ak ikhlas menerima kekalahan itu.
Latihan demi latihan dijalani teman teman terutama Dina dan
Aldo yang harus berjuang keras untuk mempertampilkan yang terbaik. Disini, aku
memilih untuk mendampingi Aldo latihan, memang BuTa sering menyuruhku ambil
peran dalam drama itu, dari pada aku sakit hati dan kecewa melihat Aldo dan
Dina yang semakin akrab? Cemburu, itu yang aku hadapi saat ini, marah dan
kecewa melihat orang yang kita sayangi dekat dengan orang lain.
Aku memang hobby membaca, dan aku suka sekali dengan naskah
drama tersebut, aku membacanya berulang ulang hingga aku hafal, gilanya lagi
aku malah sering latihan dirumah dengan perannya Desi yg diperankan oleh Dina,
kadang ketika mereka latihan pun aku sering latihan juga didepan kaca kamar
madi cewek.
Pementasannya pun dimulai, aku memilih sebagai seksi
dokumentasi agar aku bisa memfoto wajah ganteng si Aldo ini. “Nita” panggil
BuTa, “iya bu?” jawabku, “begini Nita, saya dengar dari Dina kamu selalu
latihan perannya Desi kan? Kamu mau ga nggantiin Dina? Dina sakit,” mohon Bu
Tari. Sial! Kapan Dina melihatku latihan? Itu pun Cuma iseng ak sama sekali
demam panggung gimana nih? Semua
pernyataan dibenakku rasanya ingin membludak!. “tapi bu saya kan belum
latihan adegan bersama Aldo? Bu, saya tidak bisa” jawabku, “ayolaaah Nita kamu
pasti bisa, masalah tentang Aldo, kalian punya kemistri yang kuat kan jadi tak
usah ragu nita.” Ungkap buTa. “tapi bu? Badan saya dengan Dina itu berbeda jauh
bu,” pintaku. “tenang, ibu rasa ibu punya kostum yang pas untuk kamu, sekarang
kamu ikut saya keruang ganti ya, kameramu itu nanti biar saya yang urus” kata
BuTa.
Aku Cuma berharap yang aku alami saat ini adalah sebuah mimpi
belaka. Pementasan drama pun dimulai, aku menjadi anak tiri yang selalu disiksa
oleh keluarganya, yang ternyata aku hanyalah anak panti asuhan yang dulu
diadobsi karena keluarga ini belum punya anak. Disekolah pun aku selalu dicaci
maki karena aku jelek, tapi selalu ada seseorang yang datang menolong itulah
Aldo. Aldo sangat tertarik dengan desi (tokoh yg ku mainkan) karena Aldo selalu
melihat Desi begitu anggun, ramah baik dan suka membantu sesama, hingga pada
akhirnya Aldo mengalami kecelakaan yang nmenyebabkan kedua mata Aldo buta, ak
selalu merawatnya sebagai balas budiku terhadap Aldo, hingga ketika aku
menyumbangkan kedua mataku untuk Aldo, dan aku memilih pergi menjauh dari
kehidupan Aldo. Tapi Allah berkata lain, kami dipertemukan kembali beberapa
tahun kemudian dalam pendidikan tuna netra dan Aldolah sebagai donatur
terbesar, aku pun mendapatkan pendonor mata hingga aku bisa melihat lagi
kehidupan dan bisa melihat Aldo, kamipun hidup bahagia dalam sebuah pernikahan.
Pementasan dramapun sukses, sekarang aku tau arti cantik itu
natural, cantik itu bukan karena fisik, tapi karena hati dan perbuatanlah yang
membuat diri ini cantik tanpa make up sekali pun.
“Nit gila loh, gue ga nyangka gue bisa main drama bareng elo”
kata Aldo. “makasi Nita you’re the best” puji BuTa, “makasi bu, kalo bukan
karena ibu yang memperkuatkan saya mungkin saya bisa gagal bu” ungkapku “hey Nita
selamat ya” kata kak Tama yang benar benar membuatku kaget dan ak mendapatkan
cium dikeningku oleh kak Tama, anehnya, Aldo pergi dengan kesal entah kemana,
“kak Tama malu maluin” kataku, aku memang bila bersama kak Tama aku sangatlah
manja. “hahaha gpp aku Cuma mau bikin adik gue cemburu noh, dan alhasil dia
kabur haha puas gue” kata kak Tama “dasar sama sama jail adik kakak haduuuuh”
balasku.
“Nita, hihihi cie impian nikah sama Aldo kesampaian tuh,
acting elo juga keren nit” tiba tiba suara yang mengagetkanku dikamar mandi
cewek, ternyata suara si Dian “eh elooo?? Impian apa ngarang lo, elo itu ya
ian, bilang makasi kek, eh nih anak malah ngeledek” ketusku, “jangan jutek
jutek gitu dong Nit, kalo aku enggak pura pura sakit elo kan ga bakalan bisa
main bareng Aldo” ejeknya. “maksudnya?”tanyaku. “udalah nit elo ngaku aja, gue
sama elo itu uda satu tahun berteman kali, iya sih kalo elo nganggep gue temen
bukan si Aldo doang” kata Nita. Aku hanya diam, diam memikirkan Dian saja yang
dekat denganku tanpa kuberitahu tentang perasaanku ke Aldopun dia tau jangan
jangan Aldo juga menyadarinya.
Aku senang mulai sekarang aku mendapatkan teman lagi yaitu
Dina, Dina Dina dasar kalo diinget inget kenapa juga dia bisa tau kalo aku
menyukai Aldo?
“nita! Nita!” teriak Odi sahabat karibnya Aldo. “eh elo di,
kenapa?”jawabku. “gini nih nit, gue mau minta tolong sama elo, tapi jangan
bilang siapa siapa ya?” pinta Odi. “kalo gue bisa bantu gue bantu di.” Sahutku.
“oke! Ntar deh nit gue telfon elo oke?” kata Odi.
Penasaran yah itulah yang kurasakan saat ini, melihat Odi
yang begitu semangat merencanakan sesuatu dengan meminta bantuanku, hmmm
semakin banyak pertanyaan dalam benakku.
Sore ini aku pergi ke toko buku untuk memburu novel, tapi
entah kenapa aku memiliki perasaan aneh, perasaan yang begitu membuatku
khawatir, dan ketika sampai ke toko buku tersebut. Aku langsung memilih novel
yang ku inginkan. Novel yang selalu memberiku inspirasi untuk membuat
kehidupanku lebih indah.
Aku menunggu taksi, dengan ditemani suara gemericik air yang
turun dari langit, menunggu dan terus menunggu, tetapi hari semakin gelap,
muncul dibenakku untuk menelfon sahabatku Aldo itu, tapi..... aku urungkan
niatku, terlalu banyak aku merepotkan Aldo, aku memutuskan untuk jalan kaki,
entah seberapa jauh yang akan aku tempuh, jalanan mulai sepi, aku mulai
ketakutan, ketakutan dalam kesendirian dan kegelapan jalan raya. “nita, elo
malem malem gini ngapain? Jalan sendirian pula, mau bareng gue ga?” tiba tiba
Odi menanyaiku, dia memakai jazz biru kesukaannya. “hehehe tadi nungguin taksi
dideket toko buku ga kunjung datang di, mau naik bis kemaleman juga, mana ada
bis jam segini, jadi jalan kaki deh gue.” Sahutku polos. “ayo naik” pinta Odi
dan membuka kan pintu untukku.
Didalam mobil Odi aku tak sengaja menemukan sebuah foto
seseorang yang aku kenal. “Di, kayaknya gue kenal deh sama nih cewek di hayooo”
aku terus mengejek Odi hingga Odi salah tingkah, memang Odi selain hobby basket
dia juga hobby banget photografi, dan dia juga menjadi idola anak anak cewek diHarapan
Bangsa.
“eh Nit elo
itu yaaa, jangan gitu, gue Cuma iseng foto doang kog”
“masak sih
di, gue liat enggak deh, tapi foto ini terkesan alami, natural gila temen gue
bisa secantik ini Di, elu hebat juga ya Di hahaha”
“yah elo
Nit, kalo elo kayak gini gue batal deh mminta tolong sama elu”
“oooooh jadi
minta tolong tentang temenku ini?”
“udah deh Nit elu itu ya, kalo bukan elo deket sama Aldo udah gue jitakin nih kepala elu”
“haha jangan dong Di, gue takut sama anggota tim basket jitakkannya sakit tauk”
“makanya jadi orang jangan usil, gini nih gue minta tolong sama elo dan Aldo ya tentang ini”
“udah deh Nit elu itu ya, kalo bukan elo deket sama Aldo udah gue jitakin nih kepala elu”
“haha jangan dong Di, gue takut sama anggota tim basket jitakkannya sakit tauk”
“makanya jadi orang jangan usil, gini nih gue minta tolong sama elo dan Aldo ya tentang ini”
Pagi itu Odi menceritakan tentang
rencananya tadi malam bersama aku dan Aldo, aku dan Aldo benar benar heran,
Odi, yang terkenal suka gonta ganti cewek, dan cewek yang dipilihnya bukan main
main pasti cewek tersebut mempunyai martabat tinggi, tapi sekarang kenpa dia
sekarang mau deketin cewek, harus minta bantuaanku dan Aldo?
“Nita!” teriak Dina.
“Apaa dina? Gue masih sehat kali ga budek kenapa harus teriak teriak sih”
“elu, kenapa deket dekat sama Odi deh, gue sebel liatnya, cowok sok keren gitu”
“emang kenapa? Bukannya elu itu temenan dari kecil ya?”
“idiiih gue mah nggak ngerasa dia temen gue”
“jangan gitu entar elu malah naksir sama Odi rasain lu”
“emang gue kayak elo Nit? Hahaha”
“sialan lu!”
“Apaa dina? Gue masih sehat kali ga budek kenapa harus teriak teriak sih”
“elu, kenapa deket dekat sama Odi deh, gue sebel liatnya, cowok sok keren gitu”
“emang kenapa? Bukannya elu itu temenan dari kecil ya?”
“idiiih gue mah nggak ngerasa dia temen gue”
“jangan gitu entar elu malah naksir sama Odi rasain lu”
“emang gue kayak elo Nit? Hahaha”
“sialan lu!”
Malam harinya aku dijemput oleh
Aldo, yang aku suka berteman dari Aldo adalah, dia masih mempunyai sopan santun
dalam bertamu kerumah orang, karena itulah orang tuaku selalu percaya dengan
Aldo, kata Ayah “jarang ada anak cowok seperti Aldo” ayah selalu bilang seprti
itu kepadaku, menambah nilai plus untuk ak menyukainya.
Kami pun meluncur kerumah Odi,
seluruh persiapan kami kerjakan bertiga, “Di, elo yakin? Mau nembak nih cewek?
Jauh banget sama mantan mantan elu yang gue kenal Di.” Terdengar pertanyaan
Aldo yang begitu polos, dan membuat Odi salah tingkah. Odi pun hanya diam
seribu bahasa, sampai detik ini pun aku tak mengerti kenapa Odi sangat jauh
hati terhadap cewek itu.
Ketika di sekolah aku melihat Odi sangat
cemas, begitu gugup, dan serba salah tingkah.
“Aldo, gue jadi ikut deg degan deh
do” sambarku dibahunya Aldo. “yang ngelakuin tuh si Odi, ngapain elo yang deg
degan?” usap tangan Aldo tepat dirambutku. Aldo yah Aldo kata kata indah
apalagi yang dapat mewakili perasaanku terhadapnya?
Sore itu pertunjukan pun dimulai,
“pameran foto karya Odi” aku dan Aldo pun mengajak Dian untuk datang ke pameran
itu, tapi, ternyata, Dian sama sekali tidak mau datang, aku telah berusaha
membujuknya, tapi, dia tetap saja tidak mau,
“eh lu Dian, elu bakalan nyesel ga
datang ke pameran itu! Inget kata gue” sentak Aldo, jujur saja, baru kali ini
Aldo kasar dengan cewek, aku takut, dan aku sangat memahami kejengkelan Aldo.
Aku dan Aldopun menuju pameran itu.
“udalah tampang lu berdua itu jelek kali kalo murung gitu, gue uda tau kok, kalo dia ga bakalan datang mustahil juga sih” kata Odi. Odi sangat kecewa, terpukul, dan apalah itu, aku hanya bisa melihat air mata Odi jatuh, ini seperti bukan Odi yang biasanya.
“udalah tampang lu berdua itu jelek kali kalo murung gitu, gue uda tau kok, kalo dia ga bakalan datang mustahil juga sih” kata Odi. Odi sangat kecewa, terpukul, dan apalah itu, aku hanya bisa melihat air mata Odi jatuh, ini seperti bukan Odi yang biasanya.
“elooooo itu ya cacing, jadi selama
ini elu diam diam ambil foto gue?” terdengar suara seseorang yang membuat kami
terkejut.
“Dian? Katanya elu ga mau dateng?”
sindir Aldo
“Dian?” terdengar kembali semangat Odi.
“Do, kayaknya kita harus tau kondisi deh hahaha” sindirku.
“jangan! Gue ingin kalian jadi saksi untuk kejadian ini, Dian, aku minta maaf, tentang selama ini yang terjadi Dian, maaf dulu aku pernah membentakmu hingga kamu menangis, sewaktu kamu membuka file dikomputerku. aku merasa sangat bodoh telah membuat kodok cantik menangis, dan aku merasa lebih menyesal sangat menyesal kenapa aku tidak melihatkan saja padamu, dan ketika aku tau kamu mulai menjauh dari kehidupanku, hidupku tak berwarna, tak ada candamu, tak ada suaramu aku sangat kehilangan kamu Dian, aku memang pengecut, tidak pernah memberanikan diriku untuk mengatakan semua ke kamu, melalui foto foto inilah kerinduanku sedikit terobati, semua kebahagiaanku adalah disaat bersamamu, aku mulai berfikir aku akan melupakanmu dengan cara mencari penggantimu tetapi hanya kamu kamulah pelangi dalam hatiku yang suram ini Dian, Dian, aku mencintaimu dari awal kita kenal, hingga detik ini aku bernafas, dan akan selalu mencintaimu ketika aku tak bernafas Dian, aku tak butuh jawaban bagaimana perasaanmu, yang ku inginkan kamu mengerti aku disini selalu menunggu dan selalu mencintaimu hingga kapanpun”
“Dian?” terdengar kembali semangat Odi.
“Do, kayaknya kita harus tau kondisi deh hahaha” sindirku.
“jangan! Gue ingin kalian jadi saksi untuk kejadian ini, Dian, aku minta maaf, tentang selama ini yang terjadi Dian, maaf dulu aku pernah membentakmu hingga kamu menangis, sewaktu kamu membuka file dikomputerku. aku merasa sangat bodoh telah membuat kodok cantik menangis, dan aku merasa lebih menyesal sangat menyesal kenapa aku tidak melihatkan saja padamu, dan ketika aku tau kamu mulai menjauh dari kehidupanku, hidupku tak berwarna, tak ada candamu, tak ada suaramu aku sangat kehilangan kamu Dian, aku memang pengecut, tidak pernah memberanikan diriku untuk mengatakan semua ke kamu, melalui foto foto inilah kerinduanku sedikit terobati, semua kebahagiaanku adalah disaat bersamamu, aku mulai berfikir aku akan melupakanmu dengan cara mencari penggantimu tetapi hanya kamu kamulah pelangi dalam hatiku yang suram ini Dian, Dian, aku mencintaimu dari awal kita kenal, hingga detik ini aku bernafas, dan akan selalu mencintaimu ketika aku tak bernafas Dian, aku tak butuh jawaban bagaimana perasaanmu, yang ku inginkan kamu mengerti aku disini selalu menunggu dan selalu mencintaimu hingga kapanpun”
Keadaan menjadi hening, keheningan
ini menjadi sebuah saksi cinta mereka yang kutahui ketika, tiba tiba Dian
berlari dan memeluk Odi. Aku bangga dengan pengakuan cinta Odi. Sedangkan aku,
seperti yang dikatakan Odi, bersama orang kita cintai kehidupan semakin
berwarna.
Aku dan Aldo meninggalkan mereka,
dan Aldopun mengantarku pulang kerumah mengingat sudah larut malam.
Liburan sekolah kenaikan kelas 2 pun
tiba. Akupun kembali ke kota asalku Solo. Berat juga ninggalin Aldo, dan
keluarga Baskoro. Tapi aku juga kangen dengan suasana Solo.
Setibanya diSolo aku tinggal bersama
dengan Eyang dan Tanteku. Ayah dan Ibuku tidak ikut ke Solo karena Ayah akan
dipindahkan di Riau.
“Nita, kamu masih inget mas Bagus?” tanya
Tanteku.
“mas Bagus siapa tan? Emang ada ya?”
“itu lhoo yang dulu tinggal disebelah rumah dinas ayah kamu dulu”
“oh mas Bagus yang anaknya pak Edi itu?”
“iyaa”
“terus?”
“katanya mas Bagus mau ke Solo, mau main kesini.”
“loh? Kog tau rumah ini?”
“kan dulu mas Bagus temenan sama masmu Zaky, anak Tante, Zaky juga mau liburan ke Solo dia suntuk dijogja katanya.
“yeess oleh oleh nih hahaha”
“mas Bagus siapa tan? Emang ada ya?”
“itu lhoo yang dulu tinggal disebelah rumah dinas ayah kamu dulu”
“oh mas Bagus yang anaknya pak Edi itu?”
“iyaa”
“terus?”
“katanya mas Bagus mau ke Solo, mau main kesini.”
“loh? Kog tau rumah ini?”
“kan dulu mas Bagus temenan sama masmu Zaky, anak Tante, Zaky juga mau liburan ke Solo dia suntuk dijogja katanya.
“yeess oleh oleh nih hahaha”
Mas Zaky adalah putra semata wayang
tante Rini. Liburanku pun terasa mengembirakan karena kembalinya mas Zaky, yang
sudah dari SD pindah tinggal bersama Ayahnya. Yah, tante Rini dan om Bayu telah
bercerai, dan om Bayu berjanji akan membiayai sekolahnya mas Zaky di kota
pelajar itu. Itulah impian mas Zaky, menjadi orang pintar di kota pelajar.
Ketika eyang, tante dan mas Zaky
berada diteras, sedang asyik berbincang dengan suasana indahnya Solo disaat
senja menghampiri. “Assalamualaikum”terdengar suara seorang lelaki yang aku
sangat hafal suara merdu itu. Aku berlari yang semulanya aku merapikan kamarku
yang akan ditempati mas Bagus itu. Dan alangkah terkejutnya aku mas Bagus itu
adalah kak Tama.
“kak Tama?”
“loh Anita? Kog kamu ada disini?”
“inikan rumah eyangku”
“jangan jangan kamu laras laras yang dulu putih cantik itu ya? Sial, kenapa aku ga sadar kalo nama kamu itu Anita Larasati teman kecilku itu?”
“ternyata mas Bagus itu jangan jangan pak Baskoro itu, pak Edi?”
“yaelah emang kan namanya Edi Baskoro.”
“kak Tama?”
“loh Anita? Kog kamu ada disini?”
“inikan rumah eyangku”
“jangan jangan kamu laras laras yang dulu putih cantik itu ya? Sial, kenapa aku ga sadar kalo nama kamu itu Anita Larasati teman kecilku itu?”
“ternyata mas Bagus itu jangan jangan pak Baskoro itu, pak Edi?”
“yaelah emang kan namanya Edi Baskoro.”
Tawa kamipun mengakhiri senja
dikotaku ini. Aku masih tak menyangka ternyata mas Bagus itu kak Tama. Hahaha
aku ini memang bodoh.
Aku, mas Bagus atau kak Tama dan mas
Zaky siang ini akan menuju mall salah satu diSolo, kangen udah lama ga nonton
bioskop di Solo.
“kak Tama, Aldo ga ikut ya?” tanyaku
“enggak dia acara sendiri.”
“yah, acara apaan kok aku ga dikasih tau? Padahal tadi malam aku habis ditelfon sama tuh anak”
“entah gue juga ga tau, eh, Nita, besok kalo pulang bareng gue aja”
“oke kak”
“enggak dia acara sendiri.”
“yah, acara apaan kok aku ga dikasih tau? Padahal tadi malam aku habis ditelfon sama tuh anak”
“entah gue juga ga tau, eh, Nita, besok kalo pulang bareng gue aja”
“oke kak”
Kami pun nonton setelah mengantri bejibun seperti tadi.
Hehehe walaupun tadi yang antri mas Zaky aku dan kak Tama jajan sendiri hehehe.
“laras, eh maksudku Nita, aku besok akan kembali ke jogja,
kamu mau ikut ga? Lumayan juga itung itung jalan jalan.” Ajak mas Zaky.
“gimana ya mas? Liburan juga udah mau usai, aku kan mesti sekolah”
“iya udah deh, kamu pulang harus sama Bagus ya, hati hati dijalan, sini peluk mas Zaky dulu uda lama kangen banget sama kamu ras.”
“gimana ya mas? Liburan juga udah mau usai, aku kan mesti sekolah”
“iya udah deh, kamu pulang harus sama Bagus ya, hati hati dijalan, sini peluk mas Zaky dulu uda lama kangen banget sama kamu ras.”
“hehehe aku juga kangen sama mas Zaky,iya, aku nanti pulang
bareng kak Tama.” Kataku dengan memeluk erat kakakku ini.
Perpisahan mas Zaky pun usai, dan aku pun juga ikut pulang ke
Bandung. Aku dan kak Tama pergi meninggalkan Solo. Mobil meluncur menyelusuri
setiap sudut sudut jalan. Entah kenapa perasaan yang begitu membuatku khawatir
ini muncul lagi.
“Nita nanti kita mampir ke Bubble gum dulu ya”
“iya kak, oh iya, ajak Aldo juga ya, dari kemarin nih anak aku telfon aku sms ga pernah dijawab”
“ehmm ga usah, si Aldo ga dirumah kemarin dia ngabarin gue Nit,”
“yaelah kemana sih tuh anak, oh iya kakak kapan mau kerja lagi di kafe? Tapi kenapa kak Tama kerja sih? Kan Om Baskoro masih mampu?
“hahahaa iya aku tau, Cuma mau nambah nambah uang jajan Nit, lumayan”
“iya kak, oh iya, ajak Aldo juga ya, dari kemarin nih anak aku telfon aku sms ga pernah dijawab”
“ehmm ga usah, si Aldo ga dirumah kemarin dia ngabarin gue Nit,”
“yaelah kemana sih tuh anak, oh iya kakak kapan mau kerja lagi di kafe? Tapi kenapa kak Tama kerja sih? Kan Om Baskoro masih mampu?
“hahahaa iya aku tau, Cuma mau nambah nambah uang jajan Nit, lumayan”
Sekolah pun mulai menjelang mulai, tapi aku sama sekali tak
melihat batang hidungnya sahabatku Aldo, kecemasanku pun mulai tak menentu. Aku
segera ingin cepat cepat istirahat pertama. “tet....tet..tet...” akhirnya bel
pun berbunyi aku berlari menuju kelasnya Odi.
“Odi!”
“eh elu Nit kenapa? Tumben nyari gue”
“gini di, kamu tau Aldo kemana?
“kamu? Biasanya elo gue, elo sih kelamaan diSolo jadi balik keasalmu hahaha”
“haha eh sialan lu! Gimana elu tau Aldo dimana?
“eh elu Nit kenapa? Tumben nyari gue”
“gini di, kamu tau Aldo kemana?
“kamu? Biasanya elo gue, elo sih kelamaan diSolo jadi balik keasalmu hahaha”
“haha eh sialan lu! Gimana elu tau Aldo dimana?
“ehm eh ehm gue ga tau Nit” kata kata Odi tadi membuatku
curiga, kata kata yang sangat meragukan.
Pulang sekolah aku kerumah Aldo. Tapi hasilnya nihil, rumah
kosong tanpa seorang pun, Bi Inah pun tak ada, “kak Tama iya kak Tama” itulah
harapan ku satu satunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar