Kamis, 27 Desember 2012

Secret of Love



“Aldo!!!!!!!!!! Lu itu jail banget sih jadi orang!” teriakku kepada sahabat karibku Aldo. “hahaha ayoo nit lari elo sih kegedean” saut Aldo. Aku masih mengejar Aldo, kami  adalah teman satu sekolah menengah di Bandung. Aldo, dia adalah salah satu idola di sekolah Harapan Bangsa, tapi entah kenapa Aldo selalu memilih berteman dengan Aku  yg super jutek itu, memang Aldo mempunyai sahabat satu klubnya dibasket, tapi tetap Aldo memilih Aku untuk bermain. “nah, ketangkep kan lu! Siniin hp gue” kata ku dan merebut hpku. “iya iya hahaha tampang lu nit sok cantik gitu hahaha yuk pulang” kata Aldo.
            Aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti Aldo, dia memang sahabat satu satunya di sekolahku. Seperti yang kukatakan Aldo adalah idola di sekolahku, selain dia selalu mengikuti perlombaan bahasa inggris, matematika dan sains di tingkat provinsi dia juga kapten tim basket disekolahku, jadi aku sama sekali ga heran kalo dia selalu banyak dapat surat cinta ataupun coklat ditasnya. Mungkin aku juga sudah mulai terpikat oleh terpesona sahabatku ini.
            Diawalan pertemuanku dengan Aldo karena Aldo melempar bola basket dan mengenai kepalaku. Hahaha kalo diinget inget lucu juga sih, dan setelah peristiwa itu Aldo semakin baik kepadaku, padahal aku adalah anak baru diHarapan Bangsa. Yang aku heranin selama ini sampai sekarang si Aldo itu sama sekali belum punya pacar. Aldo yang mempunyai badan super ideal seperti top model majalah terkenal malah sama sekali tidak tertarik dengan cewek manapun.
           
Mentari bersinar terang membawa semangat dipagi ini, “mah, pah nita berangkat dulu ya assalammualaikum” pamitku. Aku berjalan menyusuri kota Bandung yang sangat sejuk ini. Angin sepoi sepoi menandakan bahwa Bandung mulai tambah dingin. Memang sekolahku dekat dengan rumahku, jadi aku memilih berjalan dan menikmati kota Bandung. Aku bangga tinggal dikota Bandung, karena dikota ini aku menemukan sahabat sejatiku sekaligus cinta pertamaku. Aldo Dwi Baskoro, itulah nama orang yang ku sayangi.
“nit, ntar pulang sekolah elu ikut gue ya?” ajak Aldo. “kemana? Tapi ada kak Tama ga? Kalo ada gue ikut deh” jawabku. “yeeeee elo itu yaa naksir banget ya sama kakak gue? Mending sama adiknya ga kalah ganteng pula hahaha” saut Aldo sambil mengacak-acak rambutku.  “idiiiih gue mah ogaaaah naksir sama orang sejail elo.mending sama ka Tama, uda ganteng, kuliah kedokteran, baik, haduuuuh jadi malu” tangkis nita. Aldo lalu meninggalkan kelas dengan sedikit gusar. “eh do, elu mau kemana??” teriakku. “mau mukulin kak Tama kenapa dia lebih ganteng dan lebih pinter dari pada gue” ketus Aldo. Memang Aldo itu adalah sahabat yang bisa bikin aku ketawa. Aku memang ngefans banget sama kak Pratama Bagus Baskoro, kakaknya Aldo. Dan aku sangat akrab dengan keluarga Baskoro, keluarga yang selalu ku dambakan, keluarga yang begitu harmonis, aku selalu nyaman bila main kerumah Aldo. Dan kak Tama hanyalah satu satunya orang yang mengetahui aku  menyukai  Aldo. Kak Tama orang yang baik, tapi dia juga betah menjomblo, dia seperti Aldo banyak cewek-cewek yang menyukainya, tapi ga ada satupun cewe yang dibawa kerumah oleh kak Tama.
Pulang sekolah, yah saat saat yang paling aku senangi karena aku bisa melewati waktu demi waktu bersama Aldo. “kita mau kemana sih?” tanyaku “udah lu naik aja repot amat sih? Jadi mau ketemu sama kak Tama ga?” jawab Aldo sambil melempar helm kepadaku. Siang itu kami berdua meyusuri kota indah Bandung tercintaku ini, dengan ditemani si “putih” motor matic kesayangan Aldo kami menuju salah satu kafe di Bandung, dimana kafe itu adalah tempat pertama kalinya aku bertemu dengan kak Tama. Aku yang waktu itu pertama kalinya datang dikota Bandung, dan memberanikan diri untuk melancong ke ruang demi ruang dikota ini, dan ak menuju kafe ini kafe “bubble gum” kata yang menurutku unik dan lucu, dan mempunyai tempat yang nyaman  dan memiliki sentuhan ornamen ornamen yang klasik membuat semua pelanggan terbuai akan tempat ini. Aku duduk di sebuah meja pojok dekat kaca, tempat favoritku entah ketika ak dimana pun, diSolo kota tempatku lahir, disalah satu kafenya pun ak duduk ditempat favoritku, dipojok dekat jendela, dan apabila tempat itu sudah ditempati orang, aku ga akan segan segan pergi dari tempat itu, itulah kebiasaan anehku. Ketika aku duduk menunggu pesananku datang, ak membaca novel yang membuatku jatuh hati yaitu “jingga dan senja”  hasil karya penulis  terkenal Esti Kinasih, tiba tiba saja aku mendengarkan suara lembut dan membuat merinding tubuh ini irama irama yang indah, melodi melodi yang begitu tersusun rapi dan seseorang yang menyanyikan penuh perasaan. Dan untuk pertama kalinya aku pindah dari tempat dudukku ke tengah supaya bisa melihat sesorang yang dapat menggetarkan jiwa ini dengan suaranya, cowok yang memakai baju putih dengan blazer abu abu memainkan piano itu, seakan jari jarinya menari dan mengerti akan perasaan sang cowok itu. Aku terus memandanginya, terus menikmati penampilan si cowok tersebut. Dan apa yang terjadi cowok itu berbalik senyum kepadaku, aku yang menjadi salah tingkah sangat malu, dan akupun kembali ketempat dudukku semula, ak merasa ge.er mana mungkin cewek segemuk aku bisa disukai oleh cowok bersuara merdu itu, pesananku datang dan aku menyantapnya dengan kembali aku membaca novel jingga dan senjaku itu, lalu aku hampir setiap sabtu aku datang ke kafe itu, untuk melihat si cowok bersuara merdu itu, dengan seragam SMAku yang baru aku datang, dan pengunjung dikafe itu terlihat sepi, ternyata baru aku sadari kafe itu baru saja buka dan aku adalah pelanggan pertama yg datang, terkejutnya aku ketika cowok itu sedang membersihkan piano tersebut, dia kembali tersenyum kepadaku, ini kedua kalinya dia tersenyum kepadaku, aku duduk ditempat favoritku, dia, dia si cowok bersuara merdu itu memperkenalkan diri kepadaku, aneh rasanya ketika pertama kalinya aku diajak kenalan cowok ganteng itu dia adalah Pratama Bagus Baskoro, yang ternyata kakak dari sahabatku Aldo.
“heh, nih anak kesambet apa yaa diajak ngobrol malah bengong! Nita!” hentak Aldo “eh iya do? Kenpa? Lu tadi bilang apa? Jawabku polos. “noh makanan elu ntar dingin tuh nasi goreng mata sapi tanpa berbau sayuran satupun” ungkap Aldo. “hehehehe iya iyaa kamu mau ngapain ajak aku ke sini do?” Tanyaku lagi. “bentar yaa, kak Tama mainkan” teriak Aldo. “happy birthday happy birthday happy birthday Anita” suara yang aku kenal, begitu ku kenal kak Tama, “hbd yah nit nih kado dari gue,” kata Aldo. “nih aku juga nih kado buat kamu nit” kata kak Tama. “thanks kak Tama , Aldo juga” jawabku. “yaelah kayaknya yang ngasih duluan gue deh kenapa kak Tama dulu yang dibilang makasih nya? Elu sih kak, ikutan aja jadi gue terlupakan deh” ungkap Aldo. “hahaha sorry deh do, gini gini gue abang elo, toh gue ga punya adik cewek, jadi Nita gue anggep adik gue, toh ntar kalian juga bakalan nyatu dalam pernikahan gue aminin deh” canda kak Tama. “idiiiiiih gue sama  Aldo enggak akh mending sama kak Tama hahaha” jawabku “sapa juga yang mau sama elooo genduuut” ejek Aldo “kak Tama kak Tama ak diejek” rengekku. “okey tugas gue kelar, nah nit elo kan ultah nih jadi gue bolehin elu diantar kak Tama oke?” kata Aldo “heeeeeeeh do! Sialan lu ga tanggung jawab banget sih jadi orang” jawabku kesal, “udaaaah elo juga suka kan? Gue cabut, kak, gue titip Nita ya” kata Aldo dan berlari menuju si “putih”.
Aku dan kak Tama melaju cepat dengan mobil sedan kesayangan kak Tama. “haduuuuh kak Tama kenapa tadi bilang gitu sih ke Aldo?” rengekku. “hahaha gpp kali nit, kita kasih kode ke adik gue yang ganteng itu haha” canda kak Tama. Aku bahagia, selain aku adalah anak tunggal tapi sekarang yang disebelahku ini adalah kakak bagiku, kakak yang dulu aku taksir tapi aku menyerah karena kak Tama memang cocok menjadi kakak buatku.dan aku tak mengerti hingga saat ini kenapa aku sekarang malah menyukai si sahabatku itu??
Hari demi hari aku lewati dikota yang baru ku singgahi ini, rasanya kangen sama kota kelahiranku Solo, kangen dengan kulinernya, kangen dengan suasananya, kangen pula sahabat sahabatku yang disana.
Ayahku adalah seorang pegawai negeri yang selalu sering berpindah pindah untuk menjalankan tugasnya, dan ibuku, ibuku adalah seorang ibu rumah tangga biasa, keluargaku cukup menyenangkan, tapi walaupun aku anak tunggal aku merasa selalu sendiri, jarang ada waktu untuk berkumpul, dan aku beruntung mengenal keluarga Baskoro. Kedua orang tuaku dan keluarga Baskoro sudah akrab karena, si Aldo itu, dia sering membuat acara untuk pengakraban keluarga kami.
Sekolahku mengadakan drama tentang kehidupan sehari hari, dengan judul “Cantik itu Natural” memang sih guruku yang bernama Bu Tari ini hobby banget kalo tentang percintaan, dan dia merupakan salah satu guru terfavorit disekolahku, beliau juga guru termuda, tercantik dan paling gaul atau bisa disebut “kece” di Harapan Bangsa.
Ketika pemilihan tokoh BuTa sering dipanggil seperti itu, mengadakan casting untuk semua siswa siswi di Harapan Bangsa, pemilihan tersebut cukup unik, setiap kelas harus menyiapkan seorang cewe dan cowo untuk casting sebagai peran utama. Dan sialnya, aku terpilih, cukup sebal sih, karena yang lebih menarik dikelas itu banyak tapi kenapa harus aku? Yang paling mendebarkan adalah pasanganku untuk casting adalah si Aldo,  yang kuherankan juga kenapa persyaratan tokoh utama sang cewek itu harus yang biasa biasa aja, ga boleh cantik, ga boleh kurus, yaa mungkin karena itu teman teman memilihku sial!
Pengumuman pemilihan tokoh drama pun dimulai, pementasan drama disekolahku memang banyak peminatnya, dan apabila bisa menjadi pemeran utama, dia akan menjadi populer disekolah, itu sih udah hukum alamnya disekolah ini, nah kalo Aldo yang kepilih mah dia uda terkenal, dan aku percaya dia akan terpilih, dan pemenang pemeran utamanya adalah Aldo dan Dina, cukup kecewa sih, tapi tak apalah mungkin Dina memang cocok, dia ga manis, ga juga cantik, tapi memang sih juara pertama volly inilah yang mampu membius para lelaki untuk naksir kepada dia, dia juga baik, ramah pula, dia pintar, dan dia tidak memilih teman tidak seperti cewek cewek yang ku kenal disekolah ini, Dina adalah temanku dikelas lain, jadi ak ikhlas menerima kekalahan itu.
Latihan demi latihan dijalani teman teman terutama Dina dan Aldo yang harus berjuang keras untuk mempertampilkan yang terbaik. Disini, aku memilih untuk mendampingi Aldo latihan, memang BuTa sering menyuruhku ambil peran dalam drama itu, dari pada aku sakit hati dan kecewa melihat Aldo dan Dina yang semakin akrab? Cemburu, itu yang aku hadapi saat ini, marah dan kecewa melihat orang yang kita sayangi dekat dengan orang lain.
Aku memang hobby membaca, dan aku suka sekali dengan naskah drama tersebut, aku membacanya berulang ulang hingga aku hafal, gilanya lagi aku malah sering latihan dirumah dengan perannya Desi yg diperankan oleh Dina, kadang ketika mereka latihan pun aku sering latihan juga didepan kaca kamar madi cewek.
Pementasannya pun dimulai, aku memilih sebagai seksi dokumentasi agar aku bisa memfoto wajah ganteng si Aldo ini. “Nita” panggil BuTa, “iya bu?” jawabku, “begini Nita, saya dengar dari Dina kamu selalu latihan perannya Desi kan? Kamu mau ga nggantiin Dina? Dina sakit,” mohon Bu Tari. Sial! Kapan Dina melihatku latihan? Itu pun Cuma iseng ak sama sekali demam panggung gimana nih? Semua  pernyataan dibenakku rasanya ingin membludak!. “tapi bu saya kan belum latihan adegan bersama Aldo? Bu, saya tidak bisa” jawabku, “ayolaaah Nita kamu pasti bisa, masalah tentang Aldo, kalian punya kemistri yang kuat kan jadi tak usah ragu nita.” Ungkap buTa. “tapi bu? Badan saya dengan Dina itu berbeda jauh bu,” pintaku. “tenang, ibu rasa ibu punya kostum yang pas untuk kamu, sekarang kamu ikut saya keruang ganti ya, kameramu itu nanti biar saya yang urus” kata BuTa.
Aku Cuma berharap yang aku alami saat ini adalah sebuah mimpi belaka. Pementasan drama pun dimulai, aku menjadi anak tiri yang selalu disiksa oleh keluarganya, yang ternyata aku hanyalah anak panti asuhan yang dulu diadobsi karena keluarga ini belum punya anak. Disekolah pun aku selalu dicaci maki karena aku jelek, tapi selalu ada seseorang yang datang menolong itulah Aldo. Aldo sangat tertarik dengan desi (tokoh yg ku mainkan) karena Aldo selalu melihat Desi begitu anggun, ramah baik dan suka membantu sesama, hingga pada akhirnya Aldo mengalami kecelakaan yang nmenyebabkan kedua mata Aldo buta, ak selalu merawatnya sebagai balas budiku terhadap Aldo, hingga ketika aku menyumbangkan kedua mataku untuk Aldo, dan aku memilih pergi menjauh dari kehidupan Aldo. Tapi Allah berkata lain, kami dipertemukan kembali beberapa tahun kemudian dalam pendidikan tuna netra dan Aldolah sebagai donatur terbesar, aku pun mendapatkan pendonor mata hingga aku bisa melihat lagi kehidupan dan bisa melihat Aldo, kamipun hidup bahagia dalam sebuah pernikahan.
Pementasan dramapun sukses, sekarang aku tau arti cantik itu natural, cantik itu bukan karena fisik, tapi karena hati dan perbuatanlah yang membuat diri ini cantik tanpa make up sekali pun.
“Nit gila loh, gue ga nyangka gue bisa main drama bareng elo” kata Aldo. “makasi Nita you’re the best” puji BuTa, “makasi bu, kalo bukan karena ibu yang memperkuatkan saya mungkin saya bisa gagal bu” ungkapku “hey Nita selamat ya” kata kak Tama yang benar benar membuatku kaget dan ak mendapatkan cium dikeningku oleh kak Tama, anehnya, Aldo pergi dengan kesal entah kemana, “kak Tama malu maluin” kataku, aku memang bila bersama kak Tama aku sangatlah manja. “hahaha gpp aku Cuma mau bikin adik gue cemburu noh, dan alhasil dia kabur haha puas gue” kata kak Tama “dasar sama sama jail adik kakak haduuuuh” balasku.
“Nita, hihihi cie impian nikah sama Aldo kesampaian tuh, acting elo juga keren nit” tiba tiba suara yang mengagetkanku dikamar mandi cewek, ternyata suara si Dian “eh elooo?? Impian apa ngarang lo, elo itu ya ian, bilang makasi kek, eh nih anak malah ngeledek” ketusku, “jangan jutek jutek gitu dong Nit, kalo aku enggak pura pura sakit elo kan ga bakalan bisa main bareng Aldo” ejeknya. “maksudnya?”tanyaku. “udalah nit elo ngaku aja, gue sama elo itu uda satu tahun berteman kali, iya sih kalo elo nganggep gue temen bukan si Aldo doang” kata Nita. Aku hanya diam, diam memikirkan Dian saja yang dekat denganku tanpa kuberitahu tentang perasaanku ke Aldopun dia tau jangan jangan Aldo juga menyadarinya.
Aku senang mulai sekarang aku mendapatkan teman lagi yaitu Dina, Dina Dina dasar kalo diinget inget kenapa juga dia bisa tau kalo aku menyukai Aldo?
“nita! Nita!” teriak Odi sahabat karibnya Aldo. “eh elo di, kenapa?”jawabku. “gini nih nit, gue mau minta tolong sama elo, tapi jangan bilang siapa siapa ya?” pinta Odi. “kalo gue bisa bantu gue bantu di.” Sahutku. “oke! Ntar deh nit gue telfon elo oke?” kata Odi.
Penasaran yah itulah yang kurasakan saat ini, melihat Odi yang begitu semangat merencanakan sesuatu dengan meminta bantuanku, hmmm semakin banyak pertanyaan dalam benakku.
Sore ini aku pergi ke toko buku untuk memburu novel, tapi entah kenapa aku memiliki perasaan aneh, perasaan yang begitu membuatku khawatir, dan ketika sampai ke toko buku tersebut. Aku langsung memilih novel yang ku inginkan. Novel yang selalu memberiku inspirasi untuk membuat kehidupanku lebih indah.
Aku menunggu taksi, dengan ditemani suara gemericik air yang turun dari langit, menunggu dan terus menunggu, tetapi hari semakin gelap, muncul dibenakku untuk menelfon sahabatku Aldo itu, tapi..... aku urungkan niatku, terlalu banyak aku merepotkan Aldo, aku memutuskan untuk jalan kaki, entah seberapa jauh yang akan aku tempuh, jalanan mulai sepi, aku mulai ketakutan, ketakutan dalam kesendirian dan kegelapan jalan raya. “nita, elo malem malem gini ngapain? Jalan sendirian pula, mau bareng gue ga?” tiba tiba Odi menanyaiku, dia memakai jazz biru kesukaannya. “hehehe tadi nungguin taksi dideket toko buku ga kunjung datang di, mau naik bis kemaleman juga, mana ada bis jam segini, jadi jalan kaki deh gue.” Sahutku polos. “ayo naik” pinta Odi dan membuka kan pintu untukku.
Didalam mobil Odi aku tak sengaja menemukan sebuah foto seseorang yang aku kenal. “Di, kayaknya gue kenal deh sama nih cewek di hayooo” aku terus mengejek Odi hingga Odi salah tingkah, memang Odi selain hobby basket dia juga hobby banget photografi, dan dia juga menjadi idola anak anak cewek diHarapan Bangsa.
“eh Nit elo itu yaaa, jangan gitu, gue Cuma iseng foto doang kog”
“masak sih di, gue liat enggak deh, tapi foto ini terkesan alami, natural gila temen gue bisa secantik ini Di, elu hebat juga ya Di hahaha”
“yah elo Nit, kalo elo kayak gini gue batal deh mminta tolong sama elu”
“oooooh jadi minta tolong tentang temenku ini?”
“udah deh Nit elu itu ya, kalo bukan elo deket sama Aldo udah gue jitakin nih kepala elu”
“haha jangan dong Di, gue takut sama anggota tim basket jitakkannya sakit tauk”
“makanya jadi orang jangan usil, gini nih gue minta tolong sama elo dan Aldo ya tentang ini”
            Pagi itu Odi menceritakan tentang rencananya tadi malam bersama aku dan Aldo, aku dan Aldo benar benar heran, Odi, yang terkenal suka gonta ganti cewek, dan cewek yang dipilihnya bukan main main pasti cewek tersebut mempunyai martabat tinggi, tapi sekarang kenpa dia sekarang mau deketin cewek, harus minta bantuaanku dan Aldo?
            “Nita!” teriak Dina.
            “Apaa dina? Gue masih sehat kali ga budek kenapa harus teriak teriak sih”
            “elu, kenapa deket dekat sama Odi deh, gue sebel liatnya, cowok sok keren gitu”
            “emang kenapa? Bukannya elu itu temenan dari kecil ya?”
            “idiiih gue mah nggak ngerasa dia temen gue”
            “jangan gitu entar elu malah naksir sama Odi rasain lu”
            “emang gue kayak elo Nit? Hahaha”
            “sialan lu!”
            Malam harinya aku dijemput oleh Aldo, yang aku suka berteman dari Aldo adalah, dia masih mempunyai sopan santun dalam bertamu kerumah orang, karena itulah orang tuaku selalu percaya dengan Aldo, kata Ayah “jarang ada anak cowok seperti Aldo” ayah selalu bilang seprti itu kepadaku, menambah nilai plus untuk ak menyukainya.
            Kami pun meluncur kerumah Odi, seluruh persiapan kami kerjakan bertiga, “Di, elo yakin? Mau nembak nih cewek? Jauh banget sama mantan mantan elu yang gue kenal Di.” Terdengar pertanyaan Aldo yang begitu polos, dan membuat Odi salah tingkah. Odi pun hanya diam seribu bahasa, sampai detik ini pun aku tak mengerti kenapa Odi sangat jauh hati terhadap cewek itu.
            Ketika di sekolah aku melihat Odi sangat cemas, begitu gugup, dan serba salah tingkah.
            “Aldo, gue jadi ikut deg degan deh do” sambarku dibahunya Aldo. “yang ngelakuin tuh si Odi, ngapain elo yang deg degan?” usap tangan Aldo tepat dirambutku. Aldo yah Aldo kata kata indah apalagi yang dapat mewakili perasaanku terhadapnya?
            Sore itu pertunjukan pun dimulai, “pameran foto karya Odi” aku dan Aldo pun mengajak Dian untuk datang ke pameran itu, tapi, ternyata, Dian sama sekali tidak mau datang, aku telah berusaha membujuknya, tapi, dia tetap saja tidak mau,
            “eh lu Dian, elu bakalan nyesel ga datang ke pameran itu! Inget kata gue” sentak Aldo, jujur saja, baru kali ini Aldo kasar dengan cewek, aku takut, dan aku sangat memahami kejengkelan Aldo.
            Aku dan Aldopun menuju pameran itu.
            “udalah tampang lu berdua itu jelek kali kalo murung gitu, gue uda tau kok, kalo dia ga bakalan datang mustahil juga sih” kata Odi. Odi sangat kecewa, terpukul, dan apalah itu, aku hanya bisa melihat air mata Odi jatuh, ini seperti bukan Odi yang biasanya.
            “elooooo itu ya cacing, jadi selama ini elu diam diam ambil foto gue?” terdengar suara seseorang yang membuat kami terkejut.
            “Dian? Katanya elu ga mau dateng?” sindir Aldo
            “Dian?” terdengar kembali semangat Odi.
            “Do, kayaknya kita harus tau kondisi deh hahaha” sindirku.
            “jangan! Gue ingin kalian jadi saksi untuk kejadian ini, Dian, aku minta maaf, tentang selama ini yang terjadi Dian, maaf dulu aku pernah membentakmu hingga kamu menangis, sewaktu kamu membuka file dikomputerku. aku merasa sangat bodoh telah membuat kodok cantik menangis, dan aku merasa lebih menyesal sangat menyesal kenapa aku tidak melihatkan saja padamu, dan ketika aku tau kamu mulai menjauh dari kehidupanku, hidupku tak berwarna, tak ada candamu, tak ada suaramu aku sangat kehilangan kamu Dian, aku memang pengecut, tidak pernah memberanikan diriku untuk mengatakan semua ke kamu, melalui foto foto inilah kerinduanku sedikit terobati, semua kebahagiaanku adalah disaat bersamamu, aku mulai berfikir aku akan melupakanmu dengan cara mencari penggantimu tetapi hanya kamu kamulah pelangi dalam hatiku yang suram ini Dian, Dian, aku mencintaimu dari awal kita kenal, hingga detik ini aku bernafas, dan akan selalu mencintaimu ketika aku tak bernafas Dian, aku tak butuh jawaban bagaimana perasaanmu, yang ku inginkan kamu mengerti aku disini selalu menunggu dan selalu mencintaimu hingga kapanpun”
            Keadaan menjadi hening, keheningan ini menjadi sebuah saksi cinta mereka yang kutahui ketika, tiba tiba Dian berlari dan memeluk Odi. Aku bangga dengan pengakuan cinta Odi. Sedangkan aku, seperti yang dikatakan Odi, bersama orang kita cintai kehidupan semakin berwarna.
            Aku dan Aldo meninggalkan mereka, dan Aldopun mengantarku pulang kerumah mengingat sudah larut malam.
            Liburan sekolah kenaikan kelas 2 pun tiba. Akupun kembali ke kota asalku Solo. Berat juga ninggalin Aldo, dan keluarga Baskoro. Tapi aku juga kangen dengan suasana Solo.
            Setibanya diSolo aku tinggal bersama dengan Eyang dan Tanteku. Ayah dan Ibuku tidak ikut ke Solo karena Ayah akan dipindahkan di Riau.
            “Nita, kamu masih inget mas Bagus?” tanya Tanteku.
            “mas Bagus siapa tan? Emang ada ya?”
            “itu lhoo yang dulu tinggal disebelah rumah dinas ayah kamu dulu”
            “oh mas Bagus yang anaknya pak Edi itu?”
            “iyaa”
            “terus?”
            “katanya mas Bagus mau ke Solo, mau main kesini.”
            “loh? Kog tau rumah ini?”
            “kan dulu mas Bagus temenan sama masmu Zaky, anak Tante, Zaky juga mau liburan ke Solo dia suntuk dijogja katanya.
            “yeess oleh oleh nih hahaha”
            Mas Zaky adalah putra semata wayang tante Rini. Liburanku pun terasa mengembirakan karena kembalinya mas Zaky, yang sudah dari SD pindah tinggal bersama Ayahnya. Yah, tante Rini dan om Bayu telah bercerai, dan om Bayu berjanji akan membiayai sekolahnya mas Zaky di kota pelajar itu. Itulah impian mas Zaky, menjadi orang pintar di kota pelajar.
            Ketika eyang, tante dan mas Zaky berada diteras, sedang asyik berbincang dengan suasana indahnya Solo disaat senja menghampiri. “Assalamualaikum”terdengar suara seorang lelaki yang aku sangat hafal suara merdu itu. Aku berlari yang semulanya aku merapikan kamarku yang akan ditempati mas Bagus itu. Dan alangkah terkejutnya aku mas Bagus itu adalah kak Tama.
            “kak Tama?”
            “loh Anita? Kog kamu ada disini?”
            “inikan rumah eyangku”
            “jangan jangan kamu laras laras yang dulu putih cantik itu ya? Sial, kenapa aku ga sadar kalo nama kamu itu Anita Larasati teman kecilku itu?”
            “ternyata mas Bagus itu jangan jangan pak Baskoro itu, pak Edi?”
            “yaelah emang kan namanya Edi Baskoro.”
            Tawa kamipun mengakhiri senja dikotaku ini. Aku masih tak menyangka ternyata mas Bagus itu kak Tama. Hahaha aku ini memang bodoh.
            Aku, mas Bagus atau kak Tama dan mas Zaky siang ini akan menuju mall salah satu diSolo, kangen udah lama ga nonton bioskop di Solo.
“kak Tama, Aldo ga ikut ya?” tanyaku
“enggak dia acara sendiri.”
“yah, acara apaan kok aku ga dikasih tau? Padahal tadi malam aku habis ditelfon sama tuh anak”
“entah gue juga ga tau, eh, Nita, besok kalo pulang bareng gue aja”
“oke kak”
Kami pun nonton setelah mengantri bejibun seperti tadi. Hehehe walaupun tadi yang antri mas Zaky aku dan kak Tama jajan sendiri hehehe.
“laras, eh maksudku Nita, aku besok akan kembali ke jogja, kamu mau ikut ga? Lumayan juga itung itung jalan jalan.” Ajak mas Zaky.
            “gimana ya mas? Liburan juga udah mau usai, aku kan mesti sekolah”
            “iya udah deh, kamu pulang harus sama Bagus ya, hati hati dijalan, sini peluk mas Zaky dulu uda lama kangen banget sama kamu ras.”
“hehehe aku juga kangen sama mas Zaky,iya, aku nanti pulang bareng kak Tama.” Kataku dengan memeluk erat kakakku ini.
Perpisahan mas Zaky pun usai, dan aku pun juga ikut pulang ke Bandung. Aku dan kak Tama pergi meninggalkan Solo. Mobil meluncur menyelusuri setiap sudut sudut jalan. Entah kenapa perasaan yang begitu membuatku khawatir ini muncul lagi.
“Nita nanti kita mampir ke Bubble gum dulu ya”
“iya kak, oh iya, ajak Aldo juga ya, dari kemarin nih anak aku telfon aku sms ga pernah dijawab”
“ehmm ga usah, si Aldo ga dirumah kemarin dia ngabarin gue Nit,”
“yaelah kemana sih tuh anak, oh iya kakak kapan mau kerja lagi di kafe? Tapi kenapa kak Tama kerja sih? Kan Om Baskoro masih mampu?
“hahahaa iya aku tau, Cuma mau nambah nambah uang jajan Nit, lumayan”
Sekolah pun mulai menjelang mulai, tapi aku sama sekali tak melihat batang hidungnya sahabatku Aldo, kecemasanku pun mulai tak menentu. Aku segera ingin cepat cepat istirahat pertama. “tet....tet..tet...” akhirnya bel pun berbunyi aku berlari menuju kelasnya Odi.
“Odi!”
“eh elu Nit kenapa? Tumben nyari gue”
“gini di, kamu tau Aldo kemana?
“kamu? Biasanya elo gue, elo sih kelamaan diSolo jadi balik keasalmu hahaha”
“haha eh sialan lu! Gimana elu tau Aldo dimana?
“ehm eh ehm gue ga tau Nit” kata kata Odi tadi membuatku curiga, kata kata yang sangat meragukan.
Pulang sekolah aku kerumah Aldo. Tapi hasilnya nihil, rumah kosong tanpa seorang pun, Bi Inah pun tak ada, “kak Tama iya kak Tama” itulah harapan ku satu satunya.
           





Tidak ada komentar:

Posting Komentar