Lanjutan SOL part 4
“nduuuuuuuuuuuuuuut!!!!!!!” teriak seseorang yang kukenal.
Aku pun tak mau menoleh karena aku tau siapa yang memanggilku.
“elu itu sombong banget sih?” tanyanya. Aku berusaha tak menghiraukannya, yah Ari yang memanggilku. Kalo ini bukan dikoridor kampus uda gue getok tuk kepala dia.
“gue punya nama kali yaaa dan gue ga budek kenapa harus teriak teriak sih? Ga malu apa sama semua orang?” jawabku sinis. Rasanya aku ingin cepat menghilang hari situasi ini.
“hahaha lupa lupa, sorry deh sorry”
“oke gue maafin, sekarang ada apa?”
“gpp gue Cuma manggil doang, gue kira gara gara elu sakit kemarin, elu jadi budek kan siapa tau gitu” kata Ari dengan tampang polos dan langsung lari menjauh dariku
“Anjriiiiiiiiiit lu Ri!” kalo gue bisa ngejar dia, dan dia bisa ketangkep, dia bakalan gue kuburin hidup hidup ditaman belakang!
“elu itu sombong banget sih?” tanyanya. Aku berusaha tak menghiraukannya, yah Ari yang memanggilku. Kalo ini bukan dikoridor kampus uda gue getok tuk kepala dia.
“gue punya nama kali yaaa dan gue ga budek kenapa harus teriak teriak sih? Ga malu apa sama semua orang?” jawabku sinis. Rasanya aku ingin cepat menghilang hari situasi ini.
“hahaha lupa lupa, sorry deh sorry”
“oke gue maafin, sekarang ada apa?”
“gpp gue Cuma manggil doang, gue kira gara gara elu sakit kemarin, elu jadi budek kan siapa tau gitu” kata Ari dengan tampang polos dan langsung lari menjauh dariku
“Anjriiiiiiiiiit lu Ri!” kalo gue bisa ngejar dia, dan dia bisa ketangkep, dia bakalan gue kuburin hidup hidup ditaman belakang!
Awal pagi yang sangat memperihatinkan. Yang seharusnya
menjadi pagi yang cerah untukku karena orang tua akan pulang siang ini, malah
menjadi suram karena bertemu sama cowo yang super rese itu. Andai aku tak
pernah bertemu dengan anak gila itu, pasti hidupku dikampus ini menyenangkan.
Ketika kelas dimulai, baru berjalan sekitar 15 menit, tiba
tiba seseorang datang dan mengetuk pintu, jujur saja itu sangat menghambat
pelajaran yang sedang dijelaskan oleh dosenku itu.
“tok.. tok.. permisi pak”
“iya ada yang bisa saya bantu?” dosenku pak Jodi, memang ramah dengan siapapun, dan sebenarnya pak Jodi, tak suka bila dia sedang menjelaskan tiba tiba ada yang mengganggu.
“begini pak, saya disuruh bu Sarah, katanya pak Jodi ganteng”
“apa katamu? Hey kamu Ari! Berhenti! Kamu mengganggu saya!” pak Jodipun marah marah, tapi beliau tersenyum aneh, ketika mendengar kata kata bu Sarah, memang bu Sarah dan pak Jodi adalah seorang single parents. Dan banyak juga yang ingin menyatukan mereka karena mereka memang cocok satu sama lain.
“tok.. tok.. permisi pak”
“iya ada yang bisa saya bantu?” dosenku pak Jodi, memang ramah dengan siapapun, dan sebenarnya pak Jodi, tak suka bila dia sedang menjelaskan tiba tiba ada yang mengganggu.
“begini pak, saya disuruh bu Sarah, katanya pak Jodi ganteng”
“apa katamu? Hey kamu Ari! Berhenti! Kamu mengganggu saya!” pak Jodipun marah marah, tapi beliau tersenyum aneh, ketika mendengar kata kata bu Sarah, memang bu Sarah dan pak Jodi adalah seorang single parents. Dan banyak juga yang ingin menyatukan mereka karena mereka memang cocok satu sama lain.
Gila tuh anak kurang kerjaan apa ngerjain dosen yang lagi
ngajar. Kesalku. Sumpah demi apa dunia ini harus terlahir cowo gila itu??
“nit, kayaknya si Ari caper banget ya?” kata Dian yang duduk disebelahku.
“he.em tuh ada penggemar nih si enduut” sahut Odi yang duduk dibelakangku.
“sialan! Amit amit udah deh gue ga mau ribut disini ya Di, elu belum pernah gue pukul ya?”
“hehehee ampun deh Nit, hahaha” jawab Odi dengan tertawa, dan Dian pun tertawa kecil.
“nit, kayaknya si Ari caper banget ya?” kata Dian yang duduk disebelahku.
“he.em tuh ada penggemar nih si enduut” sahut Odi yang duduk dibelakangku.
“sialan! Amit amit udah deh gue ga mau ribut disini ya Di, elu belum pernah gue pukul ya?”
“hehehee ampun deh Nit, hahaha” jawab Odi dengan tertawa, dan Dian pun tertawa kecil.
Matahari tepat diatasku, dan akupun sudah dijemput oleh kak
Tama. Kami berdua akan menyambut orang tuaku kembali kerumah, yah.. walaupun
Cuma sehari, tapi, aku senang mereka masih mau menengokku. Sebelum kami
kebandara, kami menyempatkan diri ke pemakaman Aldo.
Sesampainya dipemakaman, aku turun dengan membawa mawar
putih, tapi, aku melihat sesosok perempuan berdiri tepat disamping makamnya
Aldo. Sesosok perempuan yang sangat cantik. Cantik sekali. Dengan memakai
pakaian serba hitam dengan kerudung hitam dan membawa payung hitam, dia
menangis berseru disana.
“kak Tama, itu siapa ya? Kog ada dipemakaman Aldo?” tanyaku ke kak Tama. Dan kak Tama belum menjawab, dia mengamati seseorang itu. “wah, aku ga tau Nit, dia siapa ayo kita kesana aja.” Aku dan kak Tama menuju makam Aldo. Hatiku berdebar kencang entah kenapa.
“Silvi?”panggil kak Tama tiba tiba.
“Tama? Kenapa kamu ga bilang kalo Aldo sudah tiada? Kenapa Aldo pergi secepat itu? Kenapa Tam?” tangis sang cewek itu dan langsung memeluk kak Tama.
“dia kecelakaan, dan sebelum kecelakaan penyakitnya kambuh” jawab kak Tama seadanya. Aku bingung harus bagaimana. Jujur saja aku penasaran dan sangat takut dengan situasi ini.
“huhuhu Aldo, Aldo” tangis Silvi pecah, yah dia menangis dan terus menangis.
“kamu kapan kembali dari Bali?”
“tadi pagi karena kemarin aku tiba tiba kangen dengan Aldo.”. aku baru menyadari disinilah kak Tama murni memakai aku-kamu dengan cewek ini.
“oh ya, Silvi, kenalkan ini pacarnya Aldo.”
“Anita” kuulurkan tanganku, menjabat tangannya.
“hah? Aldo itu buta apa? Kenapa dia milih nih anak? Penampilannya aja kayak gitu. Kasihan si Aldo.” Caci maki menghampiriku. Tanpa dia membalas jabatan tanganku, dia pergi, pergi meninggalkan pemakaman ini.
“aku pulang Tam, uda cukup perkenalannya, Aldo pergi karena cewek ini kan? Konyol!” kata Silvi dan mulai pergi menjauh dari kami.
“kak Tama, itu siapa ya? Kog ada dipemakaman Aldo?” tanyaku ke kak Tama. Dan kak Tama belum menjawab, dia mengamati seseorang itu. “wah, aku ga tau Nit, dia siapa ayo kita kesana aja.” Aku dan kak Tama menuju makam Aldo. Hatiku berdebar kencang entah kenapa.
“Silvi?”panggil kak Tama tiba tiba.
“Tama? Kenapa kamu ga bilang kalo Aldo sudah tiada? Kenapa Aldo pergi secepat itu? Kenapa Tam?” tangis sang cewek itu dan langsung memeluk kak Tama.
“dia kecelakaan, dan sebelum kecelakaan penyakitnya kambuh” jawab kak Tama seadanya. Aku bingung harus bagaimana. Jujur saja aku penasaran dan sangat takut dengan situasi ini.
“huhuhu Aldo, Aldo” tangis Silvi pecah, yah dia menangis dan terus menangis.
“kamu kapan kembali dari Bali?”
“tadi pagi karena kemarin aku tiba tiba kangen dengan Aldo.”. aku baru menyadari disinilah kak Tama murni memakai aku-kamu dengan cewek ini.
“oh ya, Silvi, kenalkan ini pacarnya Aldo.”
“Anita” kuulurkan tanganku, menjabat tangannya.
“hah? Aldo itu buta apa? Kenapa dia milih nih anak? Penampilannya aja kayak gitu. Kasihan si Aldo.” Caci maki menghampiriku. Tanpa dia membalas jabatan tanganku, dia pergi, pergi meninggalkan pemakaman ini.
“aku pulang Tam, uda cukup perkenalannya, Aldo pergi karena cewek ini kan? Konyol!” kata Silvi dan mulai pergi menjauh dari kami.
Aku kesal,
sedih, semua jadi satu serta sangat terkejut ketika dia berkata cukup
perkenalannya, Aldo pergi karena cewek ini kan? Konyol!.
“uda nit, ntar gue ceritain, ayo kita ke bandara kasihan ayah ibumu menunggu.” Bujuk kak Tama.
“uda nit, ntar gue ceritain, ayo kita ke bandara kasihan ayah ibumu menunggu.” Bujuk kak Tama.
Akupun meletakkan mawar putih itu
diatas makam Aldo, dan mengambil mawar putih yang dulu kuletakkan, bunga itu
sudah layu, tidak pantas ada dimakamnya Aldo. Setelah selesai kami mendoakan
Aldo, kami langsung meluncur ke bandara.didalam mobil kesunyian ini terasa. Aku
terus memandangi wajah kak Tama yang masih shock ketika melihat kedatang Silvi.
“Silvi adalah, kembarannya Aldo,tapi karena adeknya ayah belum mempunyai anak, jadi, Silvi diangkat menjadi anak oleh om Amir. Silvi tidak pernah tau kalo Aldo adalah kembarannya, yah, walaupun wajah mereka berbeda, tapi ketika mereka bersama sama tertawa, disanalah kemiripan mereka.”
aku sangat kaget, seperi ada halilintar didekatku. Silvi adalah kembarannya Aldo? Pantes ketika dia menatapku, entah kenapa ku mengenal tatapannya itu.
“terus kak? Kenapa Silvi belum mengetahuinya sampai sekarang?”
“karena kami tau Silvi akan shock, apalagi kembarannya telah tiada. Mereka mempunyai sifat yang sama, dan ketika mereka tak sengaja dipertemukan dalam suatu olimpiade sains tingkat SMA di Bali waktu itu, Silvi jatuh cinta kepada Aldo. Tapi ya itulah Aldo, hanya menganggap Silvi sebagai adek saja, karena dia memilihmu Nita. Mereka hanya tau kalo mereka hanyalah sepupu.”
“oh.. tapi tatapan Silvi mirip dengan Aldo iya kan kak?”
“hanya kamu Nit, hanya kamu yang baru pertama bertemu dengan Silvi dan mengatakan itu. Iya tatapan mereka sama.”
“Silvi adalah, kembarannya Aldo,tapi karena adeknya ayah belum mempunyai anak, jadi, Silvi diangkat menjadi anak oleh om Amir. Silvi tidak pernah tau kalo Aldo adalah kembarannya, yah, walaupun wajah mereka berbeda, tapi ketika mereka bersama sama tertawa, disanalah kemiripan mereka.”
aku sangat kaget, seperi ada halilintar didekatku. Silvi adalah kembarannya Aldo? Pantes ketika dia menatapku, entah kenapa ku mengenal tatapannya itu.
“terus kak? Kenapa Silvi belum mengetahuinya sampai sekarang?”
“karena kami tau Silvi akan shock, apalagi kembarannya telah tiada. Mereka mempunyai sifat yang sama, dan ketika mereka tak sengaja dipertemukan dalam suatu olimpiade sains tingkat SMA di Bali waktu itu, Silvi jatuh cinta kepada Aldo. Tapi ya itulah Aldo, hanya menganggap Silvi sebagai adek saja, karena dia memilihmu Nita. Mereka hanya tau kalo mereka hanyalah sepupu.”
“oh.. tapi tatapan Silvi mirip dengan Aldo iya kan kak?”
“hanya kamu Nit, hanya kamu yang baru pertama bertemu dengan Silvi dan mengatakan itu. Iya tatapan mereka sama.”
Pembicaraan itu pun berakhir,
kamipun sampai dibandara. Kami menunggu ayah dan ibuku datang. Aku hanya
melamun memikirkan pertemuan dengan saudara kembarnya Aldo, Silvi.
“maaf, Nit, mungkin sekarang kita jarang bersama, aku harus menemani Silvi selama diBandung.” Kata kata kak Tama. Hampir saja air mataku jatuh. Entah kenapa aku berat ditinggal pergi oleh kak Tama.
“Nitaaaaaaaaaaaa!!! Tama!!!!!!” teriak ibuku. Memang ibuku itu selalu heboh ketika bertemu dengan kak Tama. Kata ibuku, kak Tama itu ganteng seperti Dimas Anggara. Gara gara ibuku sering melihat Dimas Anggara di tv.
“hallo tante, hallo om” kak Tama menyapa dan mencium kedua tangan ayah dan ibuku.
“ayaaah ibuu” aku pun memeluk mereka, kerinduan terbayar sudah ketika memeluk kedua orang tuaku ini.
“maaf, Nit, mungkin sekarang kita jarang bersama, aku harus menemani Silvi selama diBandung.” Kata kata kak Tama. Hampir saja air mataku jatuh. Entah kenapa aku berat ditinggal pergi oleh kak Tama.
“Nitaaaaaaaaaaaa!!! Tama!!!!!!” teriak ibuku. Memang ibuku itu selalu heboh ketika bertemu dengan kak Tama. Kata ibuku, kak Tama itu ganteng seperti Dimas Anggara. Gara gara ibuku sering melihat Dimas Anggara di tv.
“hallo tante, hallo om” kak Tama menyapa dan mencium kedua tangan ayah dan ibuku.
“ayaaah ibuu” aku pun memeluk mereka, kerinduan terbayar sudah ketika memeluk kedua orang tuaku ini.
Kamipun pulang menuju rumah kecilku
itu. Dalam perjalanan kami mengobrol dengan asyiknya. Hingga tak terasa kami
sudah sampai dirumah.
“om, tante, saya pamit pulang ya,” pamit kak Tama dan kembali kak Tama mencium kedua telapak tangan orang tuaku.
“Nita maafkan aku ya, besok aku ga bisa menemanimu.”
“iya kak maaf selama ini aku merepotkan kak Tama.”
“om, tante, saya pamit pulang ya,” pamit kak Tama dan kembali kak Tama mencium kedua telapak tangan orang tuaku.
“Nita maafkan aku ya, besok aku ga bisa menemanimu.”
“iya kak maaf selama ini aku merepotkan kak Tama.”
Kak tama pun pergi dengan jazznya.
Aku dan orang tuaku pun masuk, kami beristirahat capek. “gimana kuliahnya nak?”
tanya Ayahku. “its oke yah hahaha” jawabku enteng
“memang anak ibu ini hebat, tapi jangan sering ngerepotin Tama Nit, kasihan Tama. Dia masih sering nginep sini? Kalian ga pernah ngapa ngapain kan?” tanya ibuku.
“ya Allah ibu, enggak mungkinlah, aku dan kak Tama kan sudah seperti saudara sendiri. Iya bu, kak Tama masih sering menginap. Tapi Ayah dan ibu pulang ke Palembang kapan?”
“mungkin besok sore, kita sudah pesen tiket juga, iya kan yah?”
“kenapa cepet sekali? Untung besok Nita kuliah pagi.”
“semangat ya nak” kata Ayah. Akupun hanya membalas dengan memeluk mereka. Aku kangen dengan kedua orang tuaku ini.
“memang anak ibu ini hebat, tapi jangan sering ngerepotin Tama Nit, kasihan Tama. Dia masih sering nginep sini? Kalian ga pernah ngapa ngapain kan?” tanya ibuku.
“ya Allah ibu, enggak mungkinlah, aku dan kak Tama kan sudah seperti saudara sendiri. Iya bu, kak Tama masih sering menginap. Tapi Ayah dan ibu pulang ke Palembang kapan?”
“mungkin besok sore, kita sudah pesen tiket juga, iya kan yah?”
“kenapa cepet sekali? Untung besok Nita kuliah pagi.”
“semangat ya nak” kata Ayah. Akupun hanya membalas dengan memeluk mereka. Aku kangen dengan kedua orang tuaku ini.
“tok..tok.. assalammualaikum”
seseorang mengetuk pintu dari luar.
“iyaaa waalaikumsalam.” Jawab ibuku. “Siapa sih pagi pagi uda bertamu?” gumamku.
“nita! Ada temanmu ini, katanya maujemput kamu, kamu kuliah pagi kan?”
“iya ibuu sebentar, sebentar lagi selesai.” Teriakku. Siapa yang datang ya? Kak Tama ga mungkin, Dian? Odi? Ga mungkin, kalo mereka jemput pasti telfon dulu.
aku keluar dari kamar, menuju teras depan. “nita, temannya diajak masuk ya, tadi ibu suruh masuk, katanya nungguin kamu, diajak sarapan juga ya nit.” Kata Ibu. “iya ibu.”
“iyaaa waalaikumsalam.” Jawab ibuku. “Siapa sih pagi pagi uda bertamu?” gumamku.
“nita! Ada temanmu ini, katanya maujemput kamu, kamu kuliah pagi kan?”
“iya ibuu sebentar, sebentar lagi selesai.” Teriakku. Siapa yang datang ya? Kak Tama ga mungkin, Dian? Odi? Ga mungkin, kalo mereka jemput pasti telfon dulu.
aku keluar dari kamar, menuju teras depan. “nita, temannya diajak masuk ya, tadi ibu suruh masuk, katanya nungguin kamu, diajak sarapan juga ya nit.” Kata Ibu. “iya ibu.”
Siapa yang ga terkejut lagi lagi
pagiku hancur karena ketemu nih anak gila! Ari!. Tapi aneh kenapa dia kesini?
Dan pakaiannya tumben rapi. Baju abu abu dengan blazzer biru, celana hitam dan
sepatu ketsnya. Dia terlihat keren, dan tindiknya tak ada ditelinganya. Aneh
“ngapain cowok gila ada dirumah
gue?”
“elu itu ya, gue punya nama kali ya ndut! Gue disuruh Tama tadi, tengah malem dia nelfon gue, katanya gue disuruh jemput elo. Terus sama disuruh pake pakaian sopan sama gue disuruh buang tindik gue, ternyata orang tua elo datang.”
“oh, tapi gue bisa berangkat sendiri.”
“gue sih Cuma disuruh Tama yaa, kalo dia bukan sahabat gue dari SMA mana mau gue bawa bawa karung beras.”
“elo cari mati dirumah gue ya?”
“hahahaha udah udah, katanya Tama dia absen kuliah, dia mau pergi sama sepupunya. Jadi mau ga mau elu harus bareng gue. Ngerti?”
“nita, temannya disuruh sarapan dulu. Kasihan pagi pagi uda jemput kamu.” Teriak ibuku.
“katanya ga usah bu, dia tadi uda makan dedaunan di halaman depan”
“sialan lu nit, lu kira gue kambing apa” jawab Ari kesal.
“nita, ga boleh begitu, maafkan Nita ya mas, nita memang begini, ayo masuk makan dulu baru berangkat.”
“anak sama ibu beda jauh”
“loe bilang apa Ri? Ha?
“oh temannya Nita, ayo makan dulu” sapa ayahku.
“iyaa om makasih.”
“makan yang banyak ya mas, yang bikin Nita kog, ayoo makan yang banyak” kata ibuku. Dan Ari langsung melihatku khawatir dia pikir gue bakalan ngeracunin dia, itu pasti yang dibenaknya sekarang.
“elu itu ya, gue punya nama kali ya ndut! Gue disuruh Tama tadi, tengah malem dia nelfon gue, katanya gue disuruh jemput elo. Terus sama disuruh pake pakaian sopan sama gue disuruh buang tindik gue, ternyata orang tua elo datang.”
“oh, tapi gue bisa berangkat sendiri.”
“gue sih Cuma disuruh Tama yaa, kalo dia bukan sahabat gue dari SMA mana mau gue bawa bawa karung beras.”
“elo cari mati dirumah gue ya?”
“hahahaha udah udah, katanya Tama dia absen kuliah, dia mau pergi sama sepupunya. Jadi mau ga mau elu harus bareng gue. Ngerti?”
“nita, temannya disuruh sarapan dulu. Kasihan pagi pagi uda jemput kamu.” Teriak ibuku.
“katanya ga usah bu, dia tadi uda makan dedaunan di halaman depan”
“sialan lu nit, lu kira gue kambing apa” jawab Ari kesal.
“nita, ga boleh begitu, maafkan Nita ya mas, nita memang begini, ayo masuk makan dulu baru berangkat.”
“anak sama ibu beda jauh”
“loe bilang apa Ri? Ha?
“oh temannya Nita, ayo makan dulu” sapa ayahku.
“iyaa om makasih.”
“makan yang banyak ya mas, yang bikin Nita kog, ayoo makan yang banyak” kata ibuku. Dan Ari langsung melihatku khawatir dia pikir gue bakalan ngeracunin dia, itu pasti yang dibenaknya sekarang.
Setelah selesai kamipun pamit pergi
ke kampua. “om, tante saya berangkat dulu,” pamit Ari penuh sopan santun, dan
mencium kedua telapak tangan kedua orang tuaku.
“hiis muna banget sih, ayah ibu aku berangkat, doain anakmu ini, takut dibawa sama orang gila” kataku dan aku memeluk mereka. Kamipun berangkat ke kampus.
“hiis muna banget sih, ayah ibu aku berangkat, doain anakmu ini, takut dibawa sama orang gila” kataku dan aku memeluk mereka. Kamipun berangkat ke kampus.
Kami pun berpisah, dan Ari bilang kami
pulang harus bersama sama pula. Dikelas rasanya malas sekali karena kejadian
pagi ini. Dan yang benar saja aku sama sekali tak melihat kak Tama sama sekali.
“ciiiie berangkat berdua nih, mesra
banget pake motor boncengan gitu.” Celoteh Odi yang tiba tiba berjalan
disampingku.
“sialan lu Di. Dia disuruh sama kak Tama tauk, loh Dian mana?”
“Dian pergi ke Jakarta, katanya neneknya sakit gitu, gue mau ikut tapi ga boleh sama tuh anak.”
“aaaaaa gue iri sama kalian, andai saja Aldo masih disini ya..”
“udaaa kasihan Aldo, jangan ditangisi terus.” Kata Odi menenangkanku dan merangkulku. Odi dan Dian memang mereka yang benar benar mengetahui perasaanku saat ini.
“oh ya Di, tentang Aldo, gue mau nanya sama elo, Aldo punya saudara kembar ya?”
“iya, sih katanya, tapi emang Aldo pura pura ga tau, dulu dia dapat info, dari neneknya kalo ga salah, kalo saudara kembarnya itu mengikuti olimpiade sains tingkat provinsi. Makanya Aldo semangat banget belajar buat bisa ketemu sama kembarannya itu. Tapi elo kenapa tau tentang kembarannya Aldo?”
“gini, kemarin sewaktu jemput orang tua gue, gue sama kak Tama mampir ke makamnya Aldo. Dan disana ada kembarannya Aldo. Silvi, iya Silvi namanya.”
“dia dari Bali kan?”
“iya, tapi sekarang dia di Bandung, kak Tama mau menjaga dia selama dia diBandung. Makanya gue dijemput sama cowok gila itu.”
“hahaha cowok gila, ntar kalo dia yang diutus Aldo untuk menggantikan posisinya gimana coba?”
“idiiiiih amit amit jangan sampe, cukup Aldo aja, gue udah bahagia Di.”
“iyaaa deh Nita, oh ya, kapan ortu loe balik ke Palembang?”
“ntar sore Di.”
“yaelaah cepet amat, ntar sore biar gue yang anter ortu elo ke bandara ya, uda lama ga ketemu sama bokap nyokap elo.”
“oke makasih ya Di.”
“sialan lu Di. Dia disuruh sama kak Tama tauk, loh Dian mana?”
“Dian pergi ke Jakarta, katanya neneknya sakit gitu, gue mau ikut tapi ga boleh sama tuh anak.”
“aaaaaa gue iri sama kalian, andai saja Aldo masih disini ya..”
“udaaa kasihan Aldo, jangan ditangisi terus.” Kata Odi menenangkanku dan merangkulku. Odi dan Dian memang mereka yang benar benar mengetahui perasaanku saat ini.
“oh ya Di, tentang Aldo, gue mau nanya sama elo, Aldo punya saudara kembar ya?”
“iya, sih katanya, tapi emang Aldo pura pura ga tau, dulu dia dapat info, dari neneknya kalo ga salah, kalo saudara kembarnya itu mengikuti olimpiade sains tingkat provinsi. Makanya Aldo semangat banget belajar buat bisa ketemu sama kembarannya itu. Tapi elo kenapa tau tentang kembarannya Aldo?”
“gini, kemarin sewaktu jemput orang tua gue, gue sama kak Tama mampir ke makamnya Aldo. Dan disana ada kembarannya Aldo. Silvi, iya Silvi namanya.”
“dia dari Bali kan?”
“iya, tapi sekarang dia di Bandung, kak Tama mau menjaga dia selama dia diBandung. Makanya gue dijemput sama cowok gila itu.”
“hahaha cowok gila, ntar kalo dia yang diutus Aldo untuk menggantikan posisinya gimana coba?”
“idiiiiih amit amit jangan sampe, cukup Aldo aja, gue udah bahagia Di.”
“iyaaa deh Nita, oh ya, kapan ortu loe balik ke Palembang?”
“ntar sore Di.”
“yaelaah cepet amat, ntar sore biar gue yang anter ortu elo ke bandara ya, uda lama ga ketemu sama bokap nyokap elo.”
“oke makasih ya Di.”
Kamipun menuju kelas. Aku berfikir
kenapa Silvi muncul dikeadaan seperti ini? Aneh juga.
Siang aku pulang dengan lemas,
menuju perkiran sudah ada di cowok gila Ari itu. Ya Allah kenapa Engkau
mempertemukan hambamu ini dengan cowok gila ini. Melihat Ari yang duduk
dimotornya dengan ditemani cewek cewek yang naksir padanya. Yah Ari sangat
terkenal karena dia jago basket dan sangat pintar. Dan sangat jago dalam
bermusik. Entah kenapa semenjak kejadian aku menangis ketika mendengan
nyanyiannya dia sudah tidak ditaman lagi.
“genduuuuut
elo tu lama banget sih? Gue hampir jadi rebutan cewek cewek nih”
“idiiiih cewek cewek itu buta kali ya, ngapain dia mau ngerebutin cowok kayak elo, hello kampus ini gede, cowoknya juga banyak hadeeeeeh”
“jangan gitu nduuut ntar elo naksir sama gue gimana?”
“idiiiih amit amit hiiiiiiiii”
“emang siapa juga yang mauuu sama eloooo genduuuuut.”
langsung berhenti detak jantungku. Kata kata ini seperti yang dikatakan oleh Aldo. Aldo... Aldooo
“yaaelllaaaaah nih anak malah bengong ayo naik gue mau pergi nih”
“idiiiih cewek cewek itu buta kali ya, ngapain dia mau ngerebutin cowok kayak elo, hello kampus ini gede, cowoknya juga banyak hadeeeeeh”
“jangan gitu nduuut ntar elo naksir sama gue gimana?”
“idiiiih amit amit hiiiiiiiii”
“emang siapa juga yang mauuu sama eloooo genduuuuut.”
langsung berhenti detak jantungku. Kata kata ini seperti yang dikatakan oleh Aldo. Aldo... Aldooo
“yaaelllaaaaah nih anak malah bengong ayo naik gue mau pergi nih”
Kamipun pulang,tapi
untung orang tuaku tak ada mungkin sedang ketetangga sebelah, jadi nih cowo ga
usah masuk kerumah gue lagi. Ari pun pulang, jujur dia sangat manis ketika dia
kalem, tapi dia itu rese rese banget!!!
Odi pun datang, dia mengantarkan
orang tuaku kembali ke bandara menuju Palembang. Dimobil kami bercakap cakap
dengan diiringi tawa kami berempat. Memang Odi telah menganggap orang tuaku ini
orang tuanya juga, karena orang tua Odi meninggal ketika Odi masih kecil untung
sekarang Odi diasuh oleh tantenya.
“ayah, ibu hati hati yaa” tangisku.
“om tante. Hati hati yaa” pamit Odi.
“iyaa kalian jaga diri baik baik ya” kata ayahku, akupun memeluk kedua orang tuaku ini.
“om tante. Hati hati yaa” pamit Odi.
“iyaa kalian jaga diri baik baik ya” kata ayahku, akupun memeluk kedua orang tuaku ini.
Kami pulang aku dan Odi menuju kafe Bubble Gum, kafe
favoritku. Tapi dimobila kepalaku pusing dan perutku perih kembali lagi mengahampiriku.
Aku mimisan dan pingsan dimobil Odi. Dan Odi dengan siaga menuju rumah sakit
terdekat.
Aku sadar, dan aku telah memasuki ruang UGD. Perutku masih sakit. Memang apa karena
pencernaanku kurang baik?
“Nit, gue hubungi kak Tama ya? Kalo ortu loo gue kasihan mereka baru aja berangkat.”
“jangan Di, ga usah, cukup elo aja deh.”
“maaf, anda jangan banyak bicara dulu. Anda akan kami bawa keruang ICU .maaf siapa saudaranya saya mau bicara.” Tiba tiba dokter itu datang.
“saya dok, saya kakaknya.”
“Nit, gue hubungi kak Tama ya? Kalo ortu loo gue kasihan mereka baru aja berangkat.”
“jangan Di, ga usah, cukup elo aja deh.”
“maaf, anda jangan banyak bicara dulu. Anda akan kami bawa keruang ICU .maaf siapa saudaranya saya mau bicara.” Tiba tiba dokter itu datang.
“saya dok, saya kakaknya.”
“baik
mari ikut saya, biar nona Anita istirahat dan akan dipindahkan ke ICU oleh
perawat kami.” Aku bingung kayaknya aku tak sakit apapun kenapa harus ke ICU???
Dan Odipun selesai berbicara kepada
dokter itu. Odi dengan lesu dan ingin menahan tangis itu menghampiriku. Aku dibuat
penasaran oleh Odi. Apa yang sebenarnya terjadi.
“Di, gimana kata dokter? Gue sakit
apa?”
“elu Nit elu sakit...” Odi hanya menangis. Dan tak meneruskan pembicaraannya
BERSAMBUNG...“elu Nit elu sakit...” Odi hanya menangis. Dan tak meneruskan pembicaraannya