Angin malam yang dingin berhembus
membuat tubuhku merasakan dingin yng menusuk hingga ketulang rusukku. Aku
bertemu dengan seseorang yang sedang duduk terdiam dengan wajah yang sangat
penuh beban. Aku hanya melewatinya, tetapi tiba tiba dia mendekatiku, penuh
ketakutan, aku memberanikan diri untuk mendekatinya. “Hai!” Katanya pelan. Ku miringkan kepalaku, mungkin dia paham
bahwa aku sekarang sedang bingung dengan apa yang aku hadapi. “Disana rumahnya
Gendis bukan?” Tanyanya sambil menunjuk rumah mewah berwarna putih. “Iya,
disana rumah Gendis. Kamu siapa?” Tanyaku. Kebetulan Gendis adalah salah satu
temanku yang cukup terkenal disekolah. Dia sangat baik kepada siapapun,
keluarganya pun juga sangat menyayangi anak semata wayang mereka, dia sangat
cantik, Rambut panjang warna hitamnya dan senyuman khas yang selalu ceria
membuat pesona Gendis selalu disenangi banyak orang. “Oh.. Benar, ternyata
disana rumah Gendis” gumamnya. Kuberanikan bertanya lagi padanya, bukan
bingung lagi yang kurasakan, bahkan aku sangat mencurigai seorang pria yang
menurutku cukup tampan, dengan jaket kulitnya yang membuat dia semakin gantle,
dan motor sport hitamnya yang membuat dia terlihat bukan pria biasa. Dia hanya
melihatku, kemudian menyalakan motor sport hitamnya dan meninggalkanku. “Aneh!”
hanya itu yang aku katakan ke pria tersebut. Kulanjutkan perjalananku menembus
angin malam dengan jalan santai menuju rumahku yang tak jauh dari rumah Gendis.
“Elis! Darimana kamu jam segini
baru pulang? Ini jam berapa? Udah ga mau tidur dirumah? Ga usah balik sekalian
sanah!!!” Teriak seorang perempuan dengan pakaian khas ibu rumah tangga yaitu
daster lengkap dengan celemek yang dipakainya, menandakan beliau sedang
memasak. Ya, itu adalah seseorang yang sangat aku sangangi yaitu Ibuku. “ Assalamualaikum
bu, Elis pulang, malah dimarahin” jawabku singkat. “lah anak perempuan jam
berapa ini kamu belum pulang Ha?” teriaknya lagi. “Aku tadi habis praktikum
terus rapat dikampus mah, Elis capek, lapar belum makan nih bu” Jawabku dan
langsung menuju meja makan yang berada sebelahan dengan dapur, ku buka tudung
saji, dan taraaaa!! Ibuku memasak makanan kesukaanku, sayur lodeh lengkap
dengan ikan asin dan sambal yang pedas buatan ibuku. Kuambil piring dan segera
aku duduk dikursi. “Elis, mandi dulu sanah! Biar seger terus baru makan, taruh
dulu tasmu dikamar sanah, huuum baumu itu ga enak, udah sanah! Mandi!” Kata Ibu
sambil mengendus aroma tubuhku yang penuh keringat karena praktikum dan
kegiatan kampus, gimana ga bau, aku mandi jam 7 tadi sekarang aku dirumah jam 7
malam gimana ibuku tidak mengomel ngomel hahaha.