Jumat, 11 Januari 2013

Lanjutan SOL part 6

Lanjutan SOL part 6



Hatiku sangat berdebar, rasanya seperti aku ingin terjun dalam ketinggian, rasa rindu selama ini. Aldo, entah sampai kapan aku akan mencintaimu. Dan lelaki itu pun menoleh kepadaku. Rasanya aku ingin pingsan seperti halilintar menyambarku.
Dia hanya diam dan menoleh kepadaku. Aku pun juga ikutan bengong dengan bertemunya sesosok Aldo ini.keheningan ini pun melanda kami. Rasanya aku ingin memeluknya dan tak kan pernah melepaskannya walaupun hanya sedetik.
“kamu siapa?” tanya cowok itu. Aku hanya masih bisa memandangnya. Memandang dalam dalam, dia sangat mirip dengan Aldo. Sangat mirip.
            “maaf. Kamu siapa ya?” tanyanya lagi.
            “Aldo?”
            “maaf, saya Kevin. Anda salah orang.”
            “ga, ga mungkin, kamu pasti Aldo.”
            “maaf, maaf, Nita, ayoo pulang, dia bukan Aldo.” Ungkap Odi, dan menarikku dari peristiwa ini.
aku dan kedua sahabatku ini meluncur ke rumahku. Aku masih termenung, dia.... ya dia mirip sekali dengan Aldo. Sangat mirip.tapi.... Aldo kan sudah bahagia disana. Aku tau Dian dan Odi juga terkejut dengan munculnya Kevin. Tanpa berbicara kami langsung menuju gubukku itu.
“Gila!!! Loe tadi liat kan dia tadi mirip banget kayak Aldo!” ucap Dian penuh tidak percaya.
            “iya, gue masih ga percaya, kenapa bisa mirip kayak gitu coba” sahut Odi.
            Aku hanya terdiam mendengarkan mereka membicarakan Kevin. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah tiada kembali menjadi manusia?? Tapi tak ku pungkiri, aku sangat merindukannya, dengan melihat Kevin, melihat tatapan matanya aku seperti melihat Aldo yang hidup kembali.
Senjapun mulai menghilang. Odi dan Dian pulang kerumah masing masing. Dan disini aku sendiri, dengan mengingat kejadian siang tadi. Ingin rasanya aku memberi tahu kak Tama. Tapi aku tak tau dimana kak Tama berada. Kucoba menghubunginya tapi nihil.
Akupun berjalan menuju halaman rumah, menutup dan mengunci pagar rumah. Dan entah apa yang berwarna putih yang sangat menarik perhatianku, aku berjalan menuju benda itu, benda yang diletakkan dipendopo halaman rumahku, yaaa, itu mawar putih, mawar putih yang sangat ku sukai.
“siapa sih yang naruh mawar ini disini” itulah yang dibenakku saat ini, sudah tiga kali mawar putih muncul dengan misterius. Bila mawar tadi sempat diletakkan di mobil Odi, dan itu untuk Odi, kenapa sekarang muncul dirumahku lagi? Akupun kembali masuk kerumah, dan tidur. Berharap mimpi indah karena aku bertemu dengan Kevin.
Badanku sangat terasa pegal, ku coba bangun tapi tak mampu. Ku ambil hpku yang berada disebelahku, satu satunya yang menemani tidurku tadi malam. Ku coba hubungi Odi, Dian nihil. Dan ku coba menghubungi kak Tama.
“assalamualaikum, kak Tama?”
            “waalaikumsalam Nita, kenapa pagi pagi udah nelfon, maaf ya, tadi malam hpku lowbat”
            “hehehe gpp kak, gini, kak Tama aku boleh minta tolong?”
            “apa? Nita?”
            “kak bisa datang ke rumah? Aku ga bisa bangun kak.”
            “maksudnya gimana? Ya uda ya uda kak Tama langsung meluncur” belum sempat pamit hp uda dimatikan oleh kak Tama.
Kak Tama memang penyelamat jiwaku. Pangeran yang sangat baik, dan hanya kak Tama lah yang mampu membuatku nyaman, setelah Aldo yang dihatiku. Kak Tama lah yang mampu memposisikan wanita pada kehormatan yang tak bernilai.
Tiba tiba saja, aku merasa pusing yang sangat hebat. Seperti dipukul dengan besi nih kepala. Dadaku sangat sesak. Seperi orang yang akan menempuh ajalnya. Sangat tersiksa. Dan aku tak tau apa yang terjadi lagi. Aku hanya menutup kedua mataku, menunggu seseorang datang kepadaku.
Aku membuka perlahan kedua mataku. Ku temui kembali ruang serba putih. Ruang yang sangat membuatku kesepian. Kulihat keadaan yang serba membuat orang merasa seperti dikucilkan dari keramaian orang orang.
“Nita! Kamu sudah sadar?”
            “Kak Tama?”
            “bentar bentar, dokter! Dokter! Nita siuman dok!”
Dan datanglah dua orang memakai pakaian serba putih. Dengan ahli memeriksaku. Kulihat lagi rungan ini.  Ternyata aku berada di bangsal, bukan lagi diruang ICU. Itu cukup membuat hatiku lega. Tapi infus dan alat bantu pernafasan ini tak lepas dariku.
“Nita, kita sangat benar benar butuh pendonor secepatnya. Saya khawatir, akan terjadi yang kita tidak inginkan.” Kata Dokter itu.
            kak Tama hanya berdiam memandangku. Terlihat sekali dia sangat penasaran apa yang terjadi terhadapku.dan wajah kak Tama berubah menjadi sangat sedih. Wajah yang tak pernah ku temui setelah kematian Aldo.
Aku hanya menutup rapat mulutku. Aku tak berani memandang kak Tama. Aku hanya terdiam, aku ingin seseorang menyelamatkanku dari tatapan kak Tama yang sangat menerkam.
“Nita! elo gapapa kan?” kata Dian yang tiba tiba datang dengan wajah yang sangat cemas.
            “elo gimana Nit? Apa kata dokter?” tanya Odi yang juga khawatir tapi berusaha tenang.
            “kata dokter harus nemuin pendonor yang cocok dan secepatnya, kalo ga akibatnya bisa fatal. Nah sekarang siapa yang mau njelasin ke gue Nita sakit apa? Mana mungkin Cuma kecapekan kaki Nita bisa bengkak kayak gitu? Cepet!” kata kak Tama yang membuat suasana begitu tegang. Kami hanya bisa melihat satu sama lain.
            “Nita, punya penyakit gagal ginjal kak, dan itu stadium akhir” kata Odi dengan sangat takut.
            “elo! BRAK!” pukulan mengenai wajah Odi.
            “kenapa elo ga bilang sama gue? Ha? Elo pikir gue ini siapa? Gue udah dikasih amanat sama Aldo buat jagain Nita! Kalo Nita kenapa kenapa gue ga segan segan mukulin elo sampe mati. Entah elo uda gue anggap kayak adek gue ato bukan!” nada kasar kak Tama. Dian mencoba melerai, tapi hanya melihat tatapn kak Tama mereka berdua hanya tertunduk diam.
            “kak.... aku yang  suruh mereka jangan bilang ke Kak Tama. Dulu kan kak Tama lagi pergi sama Silvi, aku pikir aku bakalan hanya nyusahin kak Tama. Odi ga salah kak, Odi lah yang menjagaku kak, uda kak, jangan marah lagi.” Kataku penuh penyesalan.
Kak Tama langsung mendekapku. Mendekapku dengan erat. Dan kurasakan tetesan air matanya membahasi bahuku. Kak Tama bangun dan pergi dari ruangan ini. Entah apa yang akan dilakukannya.
Dan yang ku tahui, kak Tama langsung menghubungi kedua orang tuanya dan kedua orang tuaku, hingga dari tadi aku sibuk mengangkat telfon dari pak Baskoro, dan ayah, ibuku.
Inilah disaat saat yang tak akan terlupakan, aku mempunyai kakak dan sahabat sahabat yang sangat aku sayangi, aku sangat beruntung dikelilingi oleh orang orang yang telah menyayangiku. Aku hanya bisa melihat mereka, aku tersenyum melihat keadaanku sekarang, aku mengetahui kalo mereka selalu ada buatku dalam keadaan apapun. Tak tahan lagi untuk melihat disekelilingku, akupun menutup mataku.
Aku mendengar suara seseorang mengaji, suaranya membuat hati nyaman, dan terdengar suara tangisan yang sangat terisak isak. Dan aku merasakan tanganku sangat hangat karena digenggam oleh seseorang. Ku dengar doa doa yang menginginkanku sembuh dari sakit ini. Ingin ku membuka mataku. Tapi aku tak mampu.
Aku terus memejamkan mataku. Aku ingin melihat siapa yang ada disekelilingku. Aku bertemu dengan seseorang dalam terpejamnya mataku. Kulihat Aldo tersenyum manis, senyum yang sangat bahagia. Senyum yang begitu kurindukan.
“Nita!” panggilnya.
            “Aldo? Kamu benar Aldo?”
            “iya Nita.. kamu kuat sayang. Kenapa kamu selemah ini, aku percaya kamu bisa sembuh sayang.”
            “Aldo!!!!!” aku memeluknya. Pelukan yang mewakili rindu yang selama 2th ini melandaku.
            “aku disini uda tenang sayang, aku disini sangat bahagia, kenanglah aku, tapi jangan jadikan aku sebagai pembatas kehidupanmu sayang. Percayalah, dari awal aku bertemu denganmu, hingga ketika aku tak sealam denganmu, perasaan itu tak akan pernah hilang sayang.” Kecupan didahiku berjalan dengan lembut dan sangat mendamaikan.
            “tapi, entah bagaimana aku hidup tanpa cintamu Do. Aku tak tau aku harus bagaimana. Aku masih mencintaimu Do. Dan perasaan itu tak akan pernah hilang.”
            “Nita, dengarkan aku, tataplah kehidupanmu didepanmu sayang aku percaya kamu mampu, liatlah kamu tak sendian, Odi, Dian Kak Tama. Ayah Ibumu, dan ayah Ibuku selalu disisimu sayang. Temukan cinta yang baru sayang, bila perlu lupakan aku, kita tak kan pernah bisa menyatu. Maut telah memisahkan kita. Percayalah aku disini bahagia melihatmu bahagia. Terima kasih kamu telah mencintaiku. Mawar putih yang selalu kau hadiahkan dipemakamanku.”
            “Aldo! Aku ga mungkin melupakanmu. Kamulah hidupku Do. Biarkan aku menemanimu Do. Maafkan aku, bila dulu aku tak menyetujui kencan itu kamu tak akan seperti ini.”
            “maafkan aku, aku meninggalkanmu Nita. Ini sudah takdir bila aku pergi tanpa permisi, dan kamu harus tau, aku bahagia melihatmu bahagia, jadi, pergilah dan bangun buatlah kamu bahagia maka disitulah aku merasakan hal sama.”
            “tapi? Bagaimana caranya? Aku akan membuatmu bahagia Do. Terima kasih kamu mencintaiku hingga kapan pun.”
            “iyaaa. Sekarang pejamkan matamu. Lihatlah orang orang yang menyayangimu. Aku pergi Nita.”
Pelukan itu terlepas. Aldo menghilang, sirna sudah bayangan Aldo. Dan aku sudah janji akan membuatnya bahagia. Aldooo.. aku disini mencintaimu.
Ku buka kedua mataku. Kulihat ruangan putih ini. Mentari pagi yang cerah memasuki cela cela jendela kamarku ini. Kulihat kedua orang tuaku yang duduk disofa dengan memeluk Al-Qur’an, kulihat kak Tama menggengam tanganku, dan Odi, Dian Ari yang duduk sambil tidur mengelilingi tempat tidurku.
“kak....”panggilku sayu.
            “Nita!” teriak kak Tama yang mampu membangunkan semua orang yang ada disini.
            “Nita! Kamu baik baik aja Nak? Kenapa kamu tidak pernah bilang kalo kamu sakit Nak?” kata Ibuku.
            Aku hanya mampu tersenyum melihat mereka. Dan mereka seakan bahagia melihat senyumku ini. Entah apa yang terjadi, yang ku tahu, aku sangat beruntung terlahir didunia memiliki mereka mereka yang kucintai.
Dokter dan perawat datang. Memeriksaku berkali kali. Mulai kecemasan tampak diwajah kedua orang tuaku. Maafkan aku Ayah, Ibu, karena Nita menyusahkan kalian.
“Baiklah Nita, kamu telah melewati masa kritismu. 4hari telah kau lalui dengan tidur tak sadarkan diri. Dan selamat Nita. Ada pendonor yang akan suka rela mendonorkan ginjalnya ke kamu, bila besok kesehatanmu sudah stabil, besok kita mengadakan transplantasi ginjal” kata dokter yang mampu membuat senyum dimata orang orang yang kusayangi ini.
Entah siapa yang baik hati, yang mau mendonorkan ginjalnya. Bila bertemu, dia lah penyelamatku. Dan dialah yang mampu membuatku hidupku lebih lama lagi.
Hari ini.... akhirnya aku operasi. Diantar oleh keluarga Baskoro, ayah, ibuku, kak Tama, Dian, Odi, dan Ari. Ari, kenapa dia disini? Haha aku sangat bahagia, aku masih diberi kesempatan untuk menatap dunia.
Detik demi detik berjalan operasi yang kujalani sangatlah lancar. Aku masih berbaring ditempat tidurku. Mungkin inilah semangat dari Aldo dan doa doa dari orang orang yang kusayangi.
Ku buka mataku, kulihat semua orang tersenyum tapi aku tak melihat kak Tama dan Ari.dan aku masih penasaran siapa yang mendonorkan ginjal itu.
“nita! Selamat yaaaa” kata Dian.
Terlihat wajah bahagia di wajah Odi. Aku ingin sekali menceritakan kejadian pertemuanku dengan Aldo selama aku koma. Tapi biarlah, ketika waktu yang pas aku akan menceritakannya.
“Di, kak Tama mana?” tanyaku ke Odi
            “entah gue juga tau Nit,semenjak kamu operasi kak Tama sama Ari ga ada.”
            “ohh... Di, anterin gue dong”
            “loe gila nit? Loe baru ja operasi, elo mau pergi kemana?”
            “gue kuat Di. Gue mau kemakamnya Aldo.”
            “ya uda, ntar gue bilang dokter, sekarang elo istirahat, tapi kemakam sebentar aja. Elo masih sakit.”
            “iyaaa Di, eh Di sini deh deket sini”
            “apaan” odi mendekat. Kupeluk Odi dengan erat kulihat semua orang terkejut dan hanya Dian yang tertawa melihat tingkahku.
            “gue sayang elo DI! Elo sahabat gue” kataku sambil memeluk Odi.
Malampun tiba. Odi, Dian kembali kerumah mereka. Dan kudengar orang tua Aldo kembali ke negara kincir angin itu. Tanpa aku melihat mereka. Mereka ternyata masih peduli terhadapku.
Kulihat Ibuku, dan Ayah menemaniku, kasihan mereka harus balik ke Bandung Cuma karena aku sakit. Kasihan Ayah, dan Ibu, aku sayang mereka. Benar kata Aldo, disini banyak orang yang menyayangiku.
“buuuuu” kataku
            “kenapa Nit?”
            “ibu sama Ayah balik ke Palembang aja, Nita udah bisa ditinggal kog, maafkan Nita ya bu, ayah, Nita sudah merepotkan kalian. “
            “kamu ini bicara apa Nit? Kamu itu anak ibu dan Ayah, ayah sudah ambil cuti.”
            “oh ya buu yang donorin ginjal siapa bu? Ibu? Ayah?”
            “sebenarnya naaak, Odi, Dian Ayah dan Ibu ginjalnya tidak ada yang cocok untukmu.”
            “loh? Dian? Odi? Kalo enggak cocok aku percaya, tapi, Ayah dan Ibu?”
            “kamu sehat dulu baru ibu akan cerita sebenarnya.”
            “ibu, Nita udah sehat. Bila ibu tidak cerita sekarang, Nita akan kecewa karena Nita sudah sembuh Bu.”
            “sebenarnya Nita, bukan Anak kandung Ibu dan Ayah. Kedua orang tua Nita sudah meninggal, ibumu adalah sahabat Ibu. Sahabat Ibunya Aldo juga. Ibumu meninggal sewaktu kamu dilahirkan, dan ayahmu meninggal karena kecelakaan, dan ketika mendengar ayahmu kecelakaan ibumu pendarahan hebat setelah melahirkan kamu. Ibumu berpesan untuk merawat kamu, karena ibumu tau ibu tak bisa mempunyai anak.”
Bagai tersambar petir mendengar penjelasan Ibu. Jadi ibuku selama ini bukan ibu kandungku? Kenapa dulu aku dilahirkan? Kenapa semua kejadiaan ini terjadi. Aku hanya bisa menangis, dan ayahku masih saja menggenggam tanganku.
“kamu dirawat oleh keluarga Aldo. Setelah itu baru kami yang merawatmu nak, maafkan Ayah, ayah tak bisa menjagamu.” Kata Ayah.
            “sebenarnya, ketika Aldo meninggal, ibunya Tama sangat marah, tapi dia melihat ternyata Aldo sangat tulus menyayangimu, begitu pula kamu, kamu sangat menyayangi Aldo. Dan mengingat kamu adalah anak dari sahabat kami. Ibunya Aldo. Ikhlas”
Tangis hebatku mengalir, kenyataan yang pahit sangat pahit, padahal aku baru saja menikmati bahagia, langsung down seperti ini.
“Ayah, Ibu, Nita sayang sama kalian, walaupun kenyataannya Ayah dan Ibu bukan orang tua kandung Nita, tapi Kalianlah yang merawat Nita hingga sekarang. Nita sayang Ayah dan Ibu. Tapi makam kedua orang tua Nita dimana?”
“di Palembang Nak” jawab ayahku dan memelukku.
            “Palembang? Lalu siapa yang mendonorkan ginjal untuk Nita?” tanyaku
            “iya, setelah kamu sembuh kita kepalembang ya” kata ibuku.
            “iyaa buu. Bu, yang mendonorkan ginjalku siapa?”
            “ibu dan ayah juga ga tau Nita,”
Jawaban ayah dan ibu membuatku semakin penasaran siapa yang mendonorkan ginjal untukku? Dan aku ingin melihat seperti apa ibu dan ayahku kandung.
BERSAMBUNG..


Jumat, 04 Januari 2013

Lanjutan SOL part 5

Lanjutan SOL part 5


Odipun hanya terdiam seribu bahasa. Aku tak mengerti, aku merasa tak pernah mempunyai sakit apapun tapi kenapa, kenapa aku masih berada diruang ICU?
            “Di, kamu sahabat aku kan?” tanyaku yang terkujur lemas ditempat tidur ICU ini. Odi lagi lagi terdiam, dan Odi, hanya mengangguk tanpa bersuara.
            “Di, percayalah, aku siap mendengar apapun yang terjadi Di.”
            “Nit, aku tak percaya, bila kamu tak segera disembuhkan, aku takut kehilangan sahabatku lagi Nit.” Odi pun akhirnya berbicara.
            “Di, Aldo tak pernah menghilang dari kita Di, Aldo selalu ada disini, dihati kita Di, kamu selalu bicara padaku untuk aku harus mengikhlaskan kepergian Aldo, tapi kamu, kamu tak pernah mengikhlaskannya kan Di? Di, bila pada akhirnya aku akan menyusul Aldo, aku tak akan pernah menyesal Di, karena aku diberi kesempatan oleh Allah, aku mengenal Aldo, kamu, Dian, kak Tama, kedua orang tuaku, dan aku mengenal dunia ini, dunia yang sangat sangat menyayangiku Di” tangisku pecah, aku menangis dihadapan sahabatku Odi. Odi pun hanya memelukku, aku sangat mengetahui bagaimana perasaan Odi.
            “loe sakit gagal ginjal Nit, kalo kita ga cepet cepet nemuin transplantasi ginjal, entah apa yang akan terjadi Nit, Nit, elo mengalami stadium akhir dalam penyakit ini Nit.....” Odi menangis, dan disusul tangisku begitu terisak isak. Aku Cuma mengalami pusing, mual dan perutku perih, hanya itu. Aku tak mengerti apa yang terjadi saat ini.
            Malam ini, akupun harus tidur diruang ICU ini. Disampingku selalu ada Odi, melihat Odi yang begitu sedih dan kelelahan di raut wajahnya. Dan aku, sekarang aku sangat lemas, padahal ketika aku sadar dari pingsanku, aku merasa aku sudah baik baik saja, tapi kenapa perutku sakit sekali.
            “Di...” panggilku lirih. Aku memagang tangan Odi yang sangat dingin. Mungkin es batu pun kalah dengan tangan Odi. AC dirungan ICU ini sangatlah dingin, walaupun dirungan ini hanya aku dan Odi, ruangan ini sangat menyeramkan, begitu luas, putih dan sangat sunyi.
            “Di...” panggilku lagi.
            “iya Nit, maaf  gue ga denger.”
            “elo, pulang aja deh Di, elo juga belum makan kan Di? Kamu pucet banget Di”
            “ga, Nit, tenang aja, gue kuat, loe jangan khawatir, elo tidur lagi ya? Oh ya gue ngabarin Dian tadi, mungkin besok dia kesini Nit. Maaf gue lancang, tapi Dian kurasa dia harus tau Nit. Nit, mata elo nit, mata elo bengkak.”
            “masak sih Di? Mungkin gara gara gue nangis tadi”
            “bukan Nit, bukan bengkak sembab, bentar gue panggil dokter dulu ya Nit.”
            “gue takut Di, ntar juga sembuh sendiri.”
            “ada gue Nit, ada gue yang selalu ada dideket elo Nit,”
            Odipun pergi memanggil dokter. Ruanganku pun semakin menyeramkan. Muncul dibenakku, apakah kak Tama sedang khawatir terhadapku? Ataukah dia masih bersenang senang dengan Silvi saudara kembar Aldo. Kenapa aku begitu memikirkan kak Tama? Aneh.
            “dokter, liat Anita matanya bengkak dok” teriak Odi yang sangat cemas.
            dokterpun dengan cepat memeriksaku. Aku yang tak sanggup berbicara banyak, aku hanya memilih untuk diam.
            “bagaiman dok?” tanya Odi.
            “yah, inilah gejala gejala dalam penyakit yang saya katakan dulu Odi. Bahkan Anita sering merasakan mual, dan kekurangan darah merah. Dan bahkan pencernaannya terganggu” jelas dokter.
            Dokterpun meninggalkan kami berdua diruang serba putih ini. Aku terus menatap Odi dengan mata yang mulai sipit karena bengkak. Odi melihatku dan memelukku. Lalu dia terus memegangi tanganku dan terus menangis. Melihat Odi seperti itu, aku juga meneteskan air mata kebahagiaan karena aku memiliki sahabat seperti Odi. Odi menghapus air mataku. Dan dia terseyum dan menyuruhku istirahat.
            “Nita.......huhuhu” tiba tiba suara tangisan terdengar memanggilku. Akupun terbangun setelah mendengar tangisan itu.
            “Dian?” panggilku lirih, karena aku berbicara sedikitpun rasanya sakit sekali.
            “kamu kenapa sayang? Kenapa bisa seperti ini??”
            akupun hanya menggeleng. Dian memelukku erat, dia menangis. Aku sangat terharu, aku memiliki sahabat sahabat yang begitu indah. Kumelihat sekitar, aku tak melihat Odi yang menjagaku semalam.
            “Odi kemana?”
            “dia kuliah dan sekarang gue yang akan menjagamu, oh ya, sewaktu gue melewati rumah loe Nit, gue liat seseorang karena penasaran, gue turun dari mobil. Gue sapa dia, dia diem aja Nit, tapi gue baru liat tuh orang. Waktu gue liat dia pergi, gue juga liat mobil kak Tama Nit. Apa dia pacarnya kak Tama ya?”
            “gue tau orang itu siapa, dia cewek kan? Dia sepupunya kak Tama.”
            “iya dia cewek, gue tadinya mau ngasih tau kak Tama tentang elo, tapi kemarin gue dilarang sama Odi katanya gue jangan kasih tau kak Tama. Tapiiii.....”
            “tapi kenapa Ian?”
            “tapi waktu kerumah elo Nit, ada seseorang yang muncul tiba tiba diteras elo. Tampangnya suntuk banget dan dia mbuntutin gue hingga kesini. Tapi ini dia di toilet. Gue tadi sempet dimarahin sama Odi karena bawa dia.”
            “dia? Dia seiapa yang elo maksud Ian?”
            “ntar elo juga tau, maaf banget gue ga bermaksud ngajak dia. Orang tua elo belum tau Nit? Terus kak Tama ga ngehubungin elo sama sekali?”
            “kasihan orang tua gue, jangen pernah elo kasih tau mereka, toh bentar lagi gue bakalan sembuh. Kak Tama, ga ada sama sekali. Dian, gue kehilangan kakak gue Ian. Gue kangen kakak gue kak Tama”
            “ehm,, gue ganggu ga?” terdengar seorang cowok yang gue kenal suaranya.
            “sorry Nit, gue bawa cowok gila ini.”
            “ya Allah Ian, gue ga bakalan sembuh kalo ada dia. Elo tau sendiri kan?”
            “elooo tu ya ndut! Sakit aja masih bisa ngeluh, bersyukur kek gue kesini.”
            “apanya yang harus gue syukurin dari eloo?”
            “hahaha uda uda, nie rumah sakit kenapa jadi tengkar kayak gini? Nit, gue kedepan bentar ya”
            “elooo tega ninggalin gue sama cowok gila ini sendirian?”
            “hahaha nikmatin aja moment kalian berdua daaaaa”
            Kenapa jantung berdebar kencang ketika ada dia disampingku? Aneh, jangan bilang gue naksir sama anak gila ini deh, masak iya pengganti Aldo itu cowok super rese ini.
            Keheningan menyelimuti ruangan serba putih ini. Aku yang terbaring lemas dengan memandangi seadanya ini hanya bisa melihat cowok gila itu yang sedang bermain gitar, mungkin dia cowo paling gila, gimana pasien mau sembuh kalo yang nunggu main alat musik?
            Dia memetik senar senar itu, menciptakan nada nada indah, siapapun yang mendengar pasti akan ikut bernyanyi dengan irama yang sangat pas ditelinga. Penampilannya cukup rapi hari ini. Aku heran kenapa dia tidak kuliah? Kalo dipikir pikir dia memang lucu. Hidup tanpa beban dan menjalani hidup dengan kekonyolan yang dia buat.
            Kudengar dia pernah membuat seisi kelasnya tertawa hebat ketika bu Sarah sedang mengajar dan dia datang dengan meniru gaya pak Jodi, dan langsung mengeluarkan jurus jurus rayuan untuk bu Sarah. Dan dia pun dihukum bu Sarah karena perilakunya itu.
            Aku memilih tidur senyenyak mungkin untuk mengalihkan pandanganku ini yang sejak tadi hanya memandang cowok rese itu. Tapi pikiranku terus melayang memikirkan dia. Aneh entah apa yang kurasa saat ini.
            “halo? Kenapa Tam? Elo tumben nelfon gue kenapa?” suara cowok gila ini, membuyarkan lamunanku.
            “oh gitu? Oke, tapi gue lagi jagain karung beras emak gue,”
            “tenang Tam, terus elo kapan pulang dari Bali?”
            “okey siaaap”
            Ha? Kak Tama ke Bali ngapain? Pasti dia baru sama Silvi. Tapi kenapa ke Bali? Memang sih besok udah liburan kuliah, masak iya kak Tama mau liburan ke Bali? Tega amat gue sakit kayak gini dia ke Bali. Hadeeeh gue harus tanya nih. Tapi kenapa sumbernya harus cowok rese ini sih. Ga meyakinkan.
            “kak Tama ngapain ke Bali?” tanyaku sopan
            “dia nganter sepupunya pulang. Tadi sepupunya marah marah pingen ketemu sama elo. Dan dia kemarin kerumah elo.”
            “kerumah gue? Ngapain?”
            “mana gue tau”
            Nih orang kadang baik, kadang jutek banget. Coba aja gue sehat. Gue uda cubit tuh mulut.
            Kembali ku memandang dia. Dia pun bermain gitar lagi. Dia menyanyikan beberapa lagu. Ingin rasanya aku ikut bernyanyi dalam alunan nada yang dia mainkan. Tapi ga mungkin, secara kita seperti tom and jerry.
            “nita, gue bawain elo mawar putih nih” akhirnya sahabat gue Odi muncul dengan membawa bunga.
            “thanks Odi”
            “ups sorry gue nganggu kalian ya?”
            “ga, untung elo dateng, dari tadi karung beras ini ga mau bicara. Ga asyik, ga seru, ga kayak biasanya, gue pulang deh, besok gue balik lagi” sahut Ari seketika.
            “ga usa balik deh, elo juga ga penting juga. Mana ada pasien sakit elo maen gitar, bisa bisa tuh pasien ga sembuh sembuh” jawabku kesal
            “siapa suruh elo dengerin, udah gue cabut”
            Dia pergi, mulai menjauh dan menjauh. Mataku mengikuti arah dia pergi. Kecewa ya itu yang dibenakku. Sekarang hanya aku dan Odi yang berada di ruang putih ini.
            “udaaaah hahaha elo ini, gue sih setuju setuju aja kalo pengganti Aldo dia.”
            “idiiiih”
            “haha oh ya, tadi gue uda tanya dokter, katanya kalo mata elo uda baikan elo boleh pulang yang penting jangan kecapekan. Nah elo bisa tinggal dirumah gue atau Dian.”
            “gue tinggal dirumah gue aja Di.”
            “ ya udah, kalo elo mau dirumah elo, ntar gue bilang sama pembantu gue datang kerumah elo buat bersih bersih rumah elo.”
            “thank’s di”
            Kulihat buku biru tua bertulisan “Dina Diandra”. Buku yang sangat unik menurutku. Buku yang didekap oleh Odi ini menarik perhatianku.
            “buku apa yang lo pegang di?”
            “oh ini, ini buat Dian, ini kumpulan foto foto dia yang berhasil gue jepret diem diem hahaha”
            “yaelaaaaah uda pacaran juga kenapa harus diem diem??”
            “dia cantik tanpa dibuat buat nit, apa adanya gitu haha”
            “sok so sweet lu Di.”
            Sinar mentari menembus jendela kamar putih ini. Kupandangi seluruh kamar ini. Ternyata ada Odi dan Dian disampingku menjagaku sewaktu aku terlelap dalam tidurku. Dan kulihat disofa ada cowo rese dengan bersebelahan gitar disampingnya.
            Kenapa tuh anak bisa disini lagi?katanya kemarin dia pulang. Eh muncul lagi tuh anak. Tapi dia tidur imut banget tetep ganteng sih dengan gayanya sok cool.
            “Nita, elo uda bangun?” tanya Dian.
            “hehe iya nih, elo kapan dateng?
            “tadi malem, bareng Ari. Elo uda ditidur semalem. Gue ga tega mau bangunin elo.”
            “gue minta tolong dong beliin makanan buat mereka tuh kasihan.”
            “oke siap”
            Aku kembali memejamkan kedua mataku. Aku melihat Aldo sedang tersenyum kepadaku. Tersenyum indah sangat indah. Dia mencium mataku dengan lembut. Akankah aku akan bertemu dengan Aldo, ketika aku telah tiada?
            “heh karung beras. Elo bukannya uda bangun? Kenpa tidur lagi? Elo mau ngalahin kebo ya?”
            Sialan nih orang bangun bangun ucapin selamat pagi kek malah ngejek gue. Kulihat Odi, Dian dan cowo rese ini telah rapi dan wangi. Lalu? Aku tidur kembali berapa jam? Bukannya aku menutup kembali mataku ketika mereka masih tidur??
            “Nit, elo uda boleh pulang.” Kata Odi.
            “asyiiiiik gue pulang nih?”
            “iya sewaktu elo tidur dokter kesini liat mata elo, elonya aja tidur kayak orang mati ga bangun bangun” ejek Ari.
            “Di, Ari tau penyakit gue?” bisikku
            “ga, kan yang tau Cuma gue, elo sama Dian.”
            “okeee”
            Ketika aku beres beres untuk persiapan pulang, terdengar seseorang berlari menuju kamar ini.
            “Nita! Nita!” tiba tiba kak Tama muncul dirumah sakit ini.
            “loh kak Tama ngapain kesini?”
            “kenapa kamu ga bilang kalo kamu sakit? Tadi Ari ngabarin kakak, katanya kamu sakit” gila tuh anak! Ga bisa jaga rahasia banget sih.nyesel kalo ada dia disini.     
            ”aku gapapa kak, nih buktinya aku uda pulang.”
            “kamu sakit apa?” kak Tama memelukku.
            “Cuma kecapean doang kak” sambar Odi.
 “ayo pulang, kamu ikut ke mobil kakak aja”
            “iya kak.”
            ‘ya udah gue pulang yeeeeeee” pamit Ari
            “loe ga bareng kita Ri?” tanya kak Tama.
            “enggak, gue udah dari kemarin jagain tuh karung beras. Bosen gue.”
            “oke thanks”
            Sialan tuh anak sok cool banget idiiiiih. Seenaknya aja pulang gitarnya ditinggal terpaksa aku yang bawa. Setelah kuamati gitar itu, kulihat didalam gitar itu ada sebuah foto. foto seorang cewek yang sangat cantik.
            Sampailah aku dirumah, bersama kak Tama, Dian dan Odi. Kami mau barbaque bersama di halaman belakang. Didekat kolam renangku inilah dulu Aldo mengungkapkan perasaannya terhadapku.
            Angin malam dengan bercahaya lilin lilin kecil kami makan bersama. Hingga kami selesai, kamipun tidur. Tidur, dengan nyenyak.
            Pagi harinya, mentari menyinari indahnya dunia, ku lihat Dian yang berada disampingku masih tertidur lelap, aku keluar kamar, kulihat kak Tama dan Odi juga terlihat masih sangat menikmati mimpi indah mereka. Aku menuju dapur untuk membuat sarapan.
            Kulirik jam masih pukul 7 pagi. Aku menuju halaman depan, entah kenapa aku ingin sekali keluar menikmati cahaya pagi ini. Aku duduk dipendopo kecil dihalaman rumah, kulihat ada sekuntum mawar putih disana.
            Mawar putih yang sangat indah dan cantik, ku nikmati harumnya bunga itu. Ini masih fresh, masih baru, tapi kenapa ada disini? Siapa yang meletakkan ini? Aku menikmati pagi ini dengan bunga mawar disampingku. Dan tidak terasa aku terbuai dengan angin pagi ini, aku pun tertidur.
            “hei, nduuuut! Loe ngapain disini?” suara seseorang yang menggangguku tidur.
            “ehm.... gue ketiduran...” jawabku seadanya.
            “oh ya, Tama mana? Penting banget nih”
            “didalam, masih tidur,”
            “ya uda gue bangunin dia.”
            Ari pun masuk kedalam rumah aku pun mengikutinya dari belakang. Dia mengamati seluruh isi rumahku. Dia memang baru pertama kalinya masuk kerumahku.
            “Tam, bangun gue mau bicara”
            “apaan?”
            “udah elo ikut gue”
            Kak Tama dan Ari pergi begitu saja tanpa pamit. Entah kenapa aku merasa sangat sedih ketika mereka berdua pergi. Apa aku mulai jatuh cinta? Tapi? Aldo? Aldo baru dua tahun dia meninggalkanku, aku masih menyayanginya. Tapi aku baru menyadari aku masih membawa mawar putih ini. Siapa yang membawanya?
            Setelah Odi dan Dian bangun kami pun jalan jalan ke toko buku. Memburu buku buku yang telah membuatku tergila gila setelah membaca karya Esti kinasih.
            “bruk... haduh” tiba tiba buku buku itu jatuh.
            “eloo gpp?” tanyaku dan membantunya.
            “iyaa gue gpp. Makasih.”
            “nama loe siapa? “
            “Rani. Elo?”
            “gue Nita.”
            “Rani! Elo Sama siapa?” tanya seseorang yang dibelakangnya.
            “ini sama Nita, tadi buku buku ini jatuh dan Nita yang menolongnya.”
            “makasih ya Nita” jawab cowok dibelakangnya. Dan Rani pun pindah posisi dan aku dan cowok itu saling memandang.
            “ya Allah kenapa gue ketemu sama elo lagi sih?”
            “idiiiih gue juga ga mau ketemu sama elo kali nduuuut”
            “loh Ari kenal sama Nita? Tanya Rani terkejut.
            “gue ga kenal sama dia ayo pulang Rani, hilang mood gue”
            “loh loh tapi?” jawab Rani.
            Mereka pun keluar dari toko buku ini. Entah kenapa perasaan ini sakit sekali, kenapa sewaktu Ari berkata dia tak mengenalku, kenapa aku tak membalas? Kenapa? Lalu siapa dia siapa Rani itu, semua sekarang berada dibenakku.
            “nita, uda ketemu bukunya?” tiba tiba Odi membuyarkan lamunanku
            “iya udah, ayoo pulang, ayoo Ian”
            Kamipun menuju parkiran, kulihat mobil Odi terpasang sekuntum mawar putih. Kuambil mawar itu, lagi lagi ada mawar putih, apa yang tadi pagi itu mawar putih untuk Odi ya??
            “gila! Siapa yang menaruh ini?” kata Odi.
            “iyaaa siapa ya? Tadi padi juga ada yang meletakkan mawar putih dipendopo dihalaman rumah.” Sahutku.
            “Nit, Di, lihat deh yang turun dari mobil sedan itu” kata Dian seketika.
            “Aldo? Aldo? Itu Aldo? Aldo Di, Aldo..” jawabku.
            Akupun mendekati sedan putih itu. Mendekati seseorang yang begitu aku kenal. Tapi cowok itu memakai kacamata, dan dia masih berada disamping mobilnya, dia sendirian, apakah itu Aldo? Tapi apa mungkin? Aku melihat sendiri ketika Aldo dimakamkan. Lalu ini siapa? Kupercepat langkahku dan kalo bener bener ini Aldo, ingin sekali aku memeluknya, Aldo yang selama ini kurindukan, yang selama ini aku tunggu, yang selama ini ada didalam doa doa yang setiap kuucapkan.
            “Aldo?” sapa ku, menyentuh bahu cowok itu. Dan dia menoleh kepadaku.
            BERSAMBUNG.....