Kamis, 20 September 2018

DIA -part 1-


Angin malam yang dingin berhembus membuat tubuhku merasakan dingin yng menusuk hingga ketulang rusukku. Aku bertemu dengan seseorang yang sedang duduk terdiam dengan wajah yang sangat penuh beban. Aku hanya melewatinya, tetapi tiba tiba dia mendekatiku, penuh ketakutan, aku memberanikan diri untuk mendekatinya. “Hai!” Katanya pelan.  Ku miringkan kepalaku, mungkin dia paham bahwa aku sekarang sedang bingung dengan apa yang aku hadapi. “Disana rumahnya Gendis bukan?” Tanyanya sambil menunjuk rumah mewah berwarna putih. “Iya, disana rumah Gendis. Kamu siapa?” Tanyaku. Kebetulan Gendis adalah salah satu temanku yang cukup terkenal disekolah. Dia sangat baik kepada siapapun, keluarganya pun juga sangat menyayangi anak semata wayang mereka, dia sangat cantik, Rambut panjang warna hitamnya dan senyuman khas yang selalu ceria membuat pesona Gendis selalu disenangi banyak orang. “Oh.. Benar, ternyata disana rumah Gendis”  gumamnya.  Kuberanikan bertanya lagi padanya, bukan bingung lagi yang kurasakan, bahkan aku sangat mencurigai seorang pria yang menurutku cukup tampan, dengan jaket kulitnya yang membuat dia semakin gantle, dan motor sport hitamnya yang membuat dia terlihat bukan pria biasa. Dia hanya melihatku, kemudian menyalakan motor sport hitamnya dan meninggalkanku. “Aneh!” hanya itu yang aku katakan ke pria tersebut. Kulanjutkan perjalananku menembus angin malam dengan jalan santai menuju rumahku yang tak jauh dari rumah Gendis.
“Elis! Darimana kamu jam segini baru pulang? Ini jam berapa? Udah ga mau tidur dirumah? Ga usah balik sekalian sanah!!!” Teriak seorang perempuan dengan pakaian khas ibu rumah tangga yaitu daster lengkap dengan celemek yang dipakainya, menandakan beliau sedang memasak. Ya, itu adalah seseorang yang sangat aku sangangi yaitu Ibuku. “ Assalamualaikum bu, Elis pulang, malah dimarahin” jawabku singkat. “lah anak perempuan jam berapa ini kamu belum pulang Ha?” teriaknya lagi. “Aku tadi habis praktikum terus rapat dikampus mah, Elis capek, lapar belum makan nih bu” Jawabku dan langsung menuju meja makan yang berada sebelahan dengan dapur, ku buka tudung saji, dan taraaaa!! Ibuku memasak makanan kesukaanku, sayur lodeh lengkap dengan ikan asin dan sambal yang pedas buatan ibuku. Kuambil piring dan segera aku duduk dikursi. “Elis, mandi dulu sanah! Biar seger terus baru makan, taruh dulu tasmu dikamar sanah, huuum baumu itu ga enak, udah sanah! Mandi!” Kata Ibu sambil mengendus aroma tubuhku yang penuh keringat karena praktikum dan kegiatan kampus, gimana ga bau, aku mandi jam 7 tadi sekarang aku dirumah jam 7 malam gimana ibuku tidak mengomel ngomel hahaha.


Senin, 15 Desember 2014

Riska dan Angger

suka sama seseorang yang ga dikenal itu rasanya campur aduk, cuma mengamati, memperhatikan setiap tingkahnya.. itu adalah hal yang paling seru dalam menyukai seseorang. aku punya cerita nih tentang suka sama seseorang yang ga dikenal, tapi mungkin ceritanya akan sedikit sedih, karena ternyata cukup melihat saja dan menunggu seseorang tersebut. ceritanya begini, teman saya bernama Riska, dia orangnya cuek, ceria, cerewet, bawel, supel banget. dia itu akrab banget sama temen temennya, dan dia itu bisa dikatakan orangnya ga bisa diem. pada akhirnya dia ikut sebuah organisasi dikampusnya, semenjak itu dia mulai tambah akrab dengan semua anggotanya, termasuk dia sangat akrab dengan Panji, Panji adalah salah satu cowok kece dikampusnya, bahkan sahabat Riska sendiri sampai ga kuat kalo ngeliat si Panji. Panji dan temen temennya hobby banget nongkrong dimasjid kampusnya. karena Panji dengan Riska walaupun kenal ga begitu lama, mereka bisa akrab udah kayak saudara sendiri, saling mengolok, saling pukul, bercanda, ketawa bareng. akan tetapi, ketika suatu siang, setelah Riska selesai sholat dia melihat Panji dan teman temannya, ide untuk usil ke Panji tiba tiba muncul, ketika Riska mendekati Panji, Riska terpaku, dengan salah satu teman Panji, yang belum tau namanya siapa, orangnya seperti apa, Riska mendadak terdiam, dia melihat teman Panji tersenyum kepadanya, dan Riska akhirnya pergi meninggalkan Panji dan teman temannya.

setiap hari Panji selalu ditemani dengan teman temannya, dan selalu saja nongkrong dimasjid, semenjak itu juga, Riska sering sekali datang ke sekre, entah hanya duduk duduk, atau hanya sekedar melihat keluar jendela, melihat seseorang yang sedang membuat dia penasaran dimasjid, yaa dia temannya Panji. Riska berusaha mencari info tentang Panji dan teman temannya, dengan bertanya kepada setiap orang yang dia temuinya. Alhasil Riska mengetahui nama teman temannya Panji. Ada Aris, tampan dengan tubuhnya yang putih, menambah kharismanya. Ada Anggit, si pendiam diantara mereka, tapi, tetap bisa dibilang cool ketika melihat anggit. dan terakhir yang selalu membuat Riska penasaran adalah Angger. Angger yang pendiem, tapi kalo udah senyum dan ketawa, duuh serasa dunia itu mendadak serba adaa pelangi gituuuu.

semakin hari semakin Riska penasaran dengan Angger, Riska pun mulai mencoba mendekatinya, dengan ngefollow twitnya, menyapanya, bercanda, tapi kelakuan Riska membuat teman temannya curiga, tapi teman teman Riska malah menganggap kalo Riska menyukai Aris. karena Riska ingin menutupi kalo kenyataan dia menyukai Angger, maka Riska membiarkan gosip itu terus beredar. berbulan bulan dijalani Riska dengan hanya melihat dan mengamati Angger. pada ulang tahun Riska tiba, teman teman Riska membuat kejuatan dengan mendatangkan Aris dikejutannya tentunya dengan bantuan Panji. Riska begitu terkejutnya, yang dia lihat adalah Aris dengan Angger, Angger yang mulai membuat jatuh cinta tanpa mengenal Angger seorang yang seperti apa. Riska sangat senang dan sangat berterima kasih kepada teman temannya, ketika Aris dan Angger datang membawakan kue untuknya.

setelah kejadian itu Riska berkata jujur kepada teman temannya, bahwa Riska sebenarnya menyukai Angger, bukan Aris. begitu kagetnya teman teman Riska, mereka merasa gagal memberi kejutan terhadap Riska, tapi, bagi Riska, semua itu adalah kado terindah yang pernah Riska terima.

semakin hari, semakin banyak yang tahu bahwa Riska sebenarnya menyukai Angger. termasuk Angger dan ketika itu, Angger dan Riska tak pernah menyapa, mengobrol bahkan memandang satu sama lain. setiap hari hanya rasa campur aduk ketika didekat Angger. pernah kejadian, karena mungkin jantung Riska tak bisa dikontrol, dan mengakibatkan salting, Riska pernah menjatuhkan Kameran temannya, menjatuhkan  motor dan ditolong Angger, bagi Riska itu adalah hal yang paling memalukan yang pernah Riska lakukan.

Hingga Angger ulang tahun, Riska dengan hati hati membuat kue khusus untuk Angger. mungkin ini menjadikan pertanda bahwa Riska mengatakan bahwa Riska menyukai Angger walaupun tanpa mengucapkannya secara langsung. disaat itulah Riska dapat foto bareng, menjabat tangannya Angger walaupun sebentar. dan yang terpenting adalah Angger tersenyum manis ke Riska. dan Riska disaat itu juga dia sadar bahwa dia akan menyerah tentang Angger. semakin dia mengenal Angger semakin Riska mengerti bahwa Angger terlalu jauh untuk digapai. setelah hari ualang tahun Angger, hari hari sama saja, tetap bisu tanpa ada suara Angger berbicara kepada Riska.

semua yang mengenal Riska selalu mendukung Riska untuk tidak mundur tentang perasaan ini. tapi Riska yakin, Angger hanyalah sebuah mimpi yang tak bisa digapai dengan mudah. Riska terus berusaha untuk memantaskan diri. tapi suatu saat, Riska melihat Angger tertawa yang tak biasa, tertawa yang jarang dia lihat. tertawa yang indah, tetapi tertawa itu bukan untuk Riska, tapi untuk wanita lain. Riska semakin mantap untuk menyudahi semua ini. dia membuat pupus semua dukungan yang diberikan kepadanya. dan mulai perlahan Riska menjauh menjauh dari perasaan itu dan mencoba mengatur nafas yang membuat dia salting apabila didekat Angger.

Riska sangat kecewa dengan dirinya sendiri. mungkin cukup berteman dengan Angger, Riska dapat tersenyum kembali. tapi, semua semakin berantakan. Riska tak bisa menahan rasa kecewa, dan hanya bisa menangis, melihat keadaannya yang hancur, perasaannya hancur, seakaan berbulan bulan dia menanti perhatian atau menanti Angger melihat kearahnya pupus. Riska sadar apabila dia meneruskan perasaannya, dia sangat egois. Riska sadar, mungkin dia hanya cukup melihat Angger tertawa dengan orang lain tanpa dia. Angger juga tak akan menjadi pendiam terhadap Riska lagi. Riska mundur. dia perlahan mulai mengajak bercanda Angger, tapi Angger hanya melihat Riska tanpa ikut tertawa didalamnya. Riska ikhlas, Riska mundur, karna dia begitu menyayangi Angger, karena, Riska tau, hal yang membuat dia tersenyum adalah berteman kembali dan membuang perasaan itu jauh jauh darinya.

hingga akhirnya, Riska berhasil meyakinkan Angger, bahwa dia menyerah, dan dia hanya ingin berteman dengan Angger. walaupun Riska tau, Riska masih sayang benar benar sayang terhadap Angger.  dan sekarang Riska, Angger mulai berteman kembali.

Riska mengerti, sekarang dia mulai tersenyum kembali, mungkin dengan cara ini, dia bisa tertawa bersama dengan Angger tanpa beban, tanpa perasaan yang mengganggu Angger. tapi hingga saat ini, Riska masih menyimpan perasaan itu, perasaan berbulan bulan yang membuat dia bahagia, sedih, kecewa, tersipu, yaa perasaan sayang hingga detik ini yang dia simpan rapat. apapun yang terjadi, Riska hanya akan menyimpan kenangan waktu yang telah diberikan tanpa sengaja oleh Angger dihatinya.

bagi Riska, menyukai menyayangi Angger bukanlah kesalahan yang terjadi begitu saja. Riska percaya, Angger akan bahagia dengan seseorang yang mampu membuat dia mencintai wanita itu dengan kebahagiaan yang Angger berikan. dan Riska yakin, Angger akan menjadi seseorang imam yang akan membinmbing istri dan anak anaknya kelak dalam kebahagiaan yang menajubkan.



 

Rabu, 08 Mei 2013

Pernah ga ngerasin perasaan yg berbeda terhadap sahabat sendiri?
Awalnya aku sangat berdosa sekali ketika aku harus menghadapi semua ini.
Dia sahabatku, namanya Rio, dia mantan pacar sahabatku juga,
aku punya prinsip, kalo cinta kepada mantan pacar sahabat sendiri dan sekarang uda jadi sahabat, itu hal mustahil, ternyata, bicara dengan sikap yang kita lakuin itu emang bertentangan. pada akhirnya ak terjebak diantara prinsip dan perasaan ini.
yaaaaa.. aku memutus kan untuk mengatakan kepada Rio dan mantannya Fatimah, grogi, ya itu yang kualimi, ternyata Fatimah mendukung ku dengan Rio, tapi Rio? ternyata memang aku yang bodoh, mencintai Rio, tapi dari dulu hati Rio hanya sudah terpahat dengan nama Fatimah.
aku tak mengerti, ak tak paham kenapa harus Rio pengganti Yusan yang bertahun tahun aku cintai, dan sekarang aku moveon. aku tau kalo aku tak seperti mantan mantan Rio. yang selalu anggun, feminim, berhijab., berbanding terbalik denganku.
Rio, pernahkah aku dihatimu? pernahkah aku difikiranmu? pernahkah??
mungkin aku salah karena terhadap perasaan ini. tapi, aku mencintaimu setulus hatiku. dan taukah kamu, aku merubah cara berpakaianku karna aku ingin kamu dapat memujiku.
entah kapan perasaan ini muncul,
Rio, kamu adalah cahaya yang mampu menerangi hatiku,
kamu adalah doa doa yang selama ini aku ucap untuk menuju kebahagiaan
kamu adalah sebuah waktu, waktu yang sangat ak hargai untuk setiap detiknya,
kamu adalah warna, warna yang selalu mengisi selembar putih kehidupanku.
kamu adalah irama, irama yang selalu membuatku selalu berdebar ketika berada didekatmu
dan kamu adalah pemenang, pemenang dalam mendapatkan segala perhatianku dan perasaanku. Rio, aku disini, mencintaimu, dan akan terus menunggu hingga kamu sadar akan hadirnya cintaku dikehidupanmu.

Senin, 25 Februari 2013

Lanjutan SOL 7 (the end)

Lanjutan SOL part 7


Mentari bersinar seindah mawar putih yang kudekap, pemberian dari kak Tama. Aku mulai berfikir kehidupan itu selalu lika liku. Setelah kepergian Aldo, sekarang aku mengetahui aku bukanlah anak kandung dari orang tuaku.
Sedih memang bila mengetahui aku bukanlah anak kandung dari orang tuaku.
****
Aku terdiam merenung menatapi indahnya langit yang cerah. Ditaman inilah aku bertemu dengan sesosok cowo rese Ari. Ari yang mempunyai suara dan jari yg indah untuk memainkan gitarnya, dan selalu hati ini bergetar ketika dia melakukannya.
Mungkin Aldo benar aku harus menatap masa depan, dan Aldo tetap kusimpan disalah satu ruang dihati ini. Tapi kenapa harus Ari? Jelas jelas aku dan dia tak pernah sejalan, dan dia pun tak pernah ramah terhadapku.
Dan sekarang setelah dia berhasil membuatku jatuh cinta, dia pergi menghilang entah kemana. Sejak operasi itu aku belum bertemu dengan Kak Tama dan Ari.
Yah belum kupastikan apakah benar aku mulai jatuh cinta kepada Ari? Kenapa aku tak pernah bisa kembali menatap indahnya dunia kak Tama?
“hei” sapa seseorang membuyarkan lamunanku. Aku hanya menoleh, dan sangat terkejut ketika yang menyapaku adalah Kevin. Kevin yang sangat mirip dengan Aldo.
Aku hanya bisa bengong didepan Kevin. Dan kevin tanpa dipersilahkan duduk disampingku begitu saja. Jantung ini serasa berhenti dengan shock. Seseorang yang mirip dengan masa laluku.
“sendirian?” tanyanya lagi.
            “jangan bilang elo lupa sama gue” lanjutnya
            “eh,,, hehehe gue inget kog” jawabku enteng.
            “gue masih penasaran kenapa elo tiba tiba manggil gue Aldo, dan elo manggil tuh nama elo jadi sedih gitu. Cuma heran aja sih”
            “hehe gpp, maaf kemarin aku salah orang”
Hatiku berdegup kencang, kenapa dia yang muncul disaat seperti ini? Kenapa?? Melihatnya, dan mengamatinya mengingatkan lagi lembaran kenangan itu. Kenangan yang mungkin berusaha ku simpan dan tak kan pernah ku buka kembali.
“elo, sendirian disini, ga takut kesurupan ya?” tawa kecil Kevin
            “hahaha gue sih takut ketika elu disamping gue, bayangin aja masak gue mau dirasuki kayak elo Vin, hahaha” tawaku tak bisa terbendung melihat ekspresi dia ketika dia membeku setelah kujawab ejekannya.
            “haha tapi kalo gue mau masuk ke jiwa orang lain itu milih milih juga kali.” Aku terdiam. Terkejut. Dan apalah namanya itu. Kevin ternyata orangnya lumayan untuk penghibur diri.
            “elo tau ini kan Vin?” kurapatkan dudukku dengan Kevin, dan aku mengeluarkan kaca dari dalam tasku.
            “buat apaan tuh?”
            “buuuat lihat luka bekas gigitan gue dilengan elo” dia langsung terpekik dan tertawa puas.
Ternyata aku mulai membuka kembali kenangan masa laluku bersama Aldo. Dan karena Kevinlah aku membuka lagi kenangan ini. Kenangan yang seharusnya sudah kulupakan beberapa tahun ini.
“elo tau enggak jatuh cinta itu apa?” Aldo mengeluarkan pertanyaan yang membuatku bingung, ku tatap danau ditaman ini.
            “jatuh cinta adalah, perasaan dimana elo merasakan sesuatu yg belum elo pernah rasain, dan disetiap elo memejamkan mata, hanya seseorang itu yg akan muncul. Dan ketika elo bersama dia, elo rasanya ingin ngeberhentiin waktu biar bisa lebih lama sama dia.” Jawabku dengan mengingat bagaimana aku telah jatuh cinta kepada Aldo dan Ari.
            “elo pernah ngerasain jatuh cinta?”
            “iya, tapi orang yang kucintai ninggalin gue, dan gue disuruh cari yg baru.”
            “gila! Tuh cowo! Seenaknya bilang kayak gitu ke elo? Orang mana biar gue bantu deh!” emosi Kevin.
            “tuh dia disana” jawabku dengan mata sayu dan menunjuk langit.
Kevin terdiam melihatku, dan keadaan menjadi kembali hening, keheningan yg membuatku merasa aneh. Aneh akan perasaanku ketika melihat Kevin.
“sorry sorry gue ga tau” ungkap Kevin
            “hahaha  gpp kali, udah, udah jangan bahas lagi ganti tema yg lain”
            “terus, elo udah jatuh cinta lagi?”
            “mungkin, tapi belum yakin sama perasaan ini, belum tentu dia bakalan bisa nggantiin Aldo.”
            “jadi Aldo itu...?”
            “iya, Aldo itu pacar pertama gue, sahabat gue, huuuuh” dan aku pun meneteskan air mata, mungkin aku masih belum ikhlas kehilangan Aldo. Dan Kevin memelukku.
            “gue pinjemin badan gue kalo elo pingen nangis, nangis dulu sepuas elo, kasihan dia yg serba salah, dia juga ga bakalan mau ninggalin elo, tapi Allah berkata lain.”
Tangisku semakin pecah ketika mendengar semua itu.yang sebenarnya ku tangisi adalah Aldo, apakah memang ini yang dijalankan aku bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Aldo.
Akupun pulang kerumah dan diantar oleh Kevin. Kulihat mobil kak Tama ada dihalaman rumah. Akupun mulai berjalan menuju pintu rumah, dan belum kusentuh pintu itu, pintu itu terbuka, dan kulihat kak Tama, kak Tama yang kurindukan semenjak operasi itu tak ada.
“Nita!” peluknya.
            “aaaaaaa kak Tama kemana? Nita kangen tauuuk”
            “hehe, maaf, ada yang mau kenalan nih sama kamu, jadi kakak datang kesini.”
            “silvi?” kangetku,
            “gue udah denger semua dari kak Tama, gue minta maaf, gue ingin kita temenan, gue yakin Aldo bakalan seneng kalo kita berdamai, gimana?
            “iyaaa gue setuju”aku dan Silvipun berpelukan seperti teletubis hahahaha. Kevin dan kak Tama hanya tersenyum melihat kami berdua.
Dan pada akhirnya aku dan Silvipun sekarang menjadi sahabat, dan pasangan Odi dengan Dian pun sangat senang ketika bertambah teman yaitu Silvi. Memang ternyata Silvi mirip dengan Aldo, dari segi apapun dan menurutku sangat unik. Tapi kasihan ketika mereka harus dipisahkan oleh maut.
            Keesokannya, ternyata kak Tama, Silvi, Odi dan Dian mengajak ke puncak, kamipun tinggal disalah satu villa keluarganya Odi. Kamipun berangkat dengan gembira. Dan siapa sangka bahwa Rani, Ari dan Kevin satu mobil juga menuyusul kepuncak.
            Berdebar jantung ketika mengetahui, semua orang yang ku sayangi berada didekatku, dan kenapa dimana mana harus ada Ari?
            Kuamati Rani dan sedari tadi hanya duduk di sebelah gitarnya Ri di teras. “hay” sapaku.
            “hay juga, loh loe kan yang di toko buku itu kan?”
            “iya, masih ingat ya, hehehe kenalin gue Anita.”
            “iya, Ari uda cerita banyak ke gue, kenalin gue Rani.”
            “anak gila itu cerita apa ke elo?”
            “haha anak gila? Gitu gitu dia sahabat gue dari SMA”
            “haha maaf maaf, bentar deh bentar, kalo gue perhatiin elo kan cewe cantik difoto yg ada di gitarnya Ari kan?”
            “hahaha iya, sebenarnya itu tuh foto gue, Tama sama Ari. Tapi karena fotonya uda mulai rusak jadi tinggl foto gue deh.”
            “ooh, gitu, emangnya kak Rani ga bosen apa temenan sama cowok gila itu? Kalo kak Tama mah aku percaya kalo kak Tama baik banget haha”
            “hahaha iyaa Ari memang usil, tapi dia sama Tama dulu pernah berantem, entah masalah apa.”
            “berantem? Emang sih pasti cowok gila itu yang usil.”
            “haha mungkin haha”
            “terus, kok Kevin bisa sama Kalian kak?”
            “oh Kevin itu dulu adek mantan gue, tapi mantan gue udah nikah dan gue jadi akrab sama Kevin.”
            “ohh gitu, oh ya, dulu mereka berantem gara gara apa yaa kak?
            “ga tau deh tapi gue denger denger gara gara rebutan cewek, dan mungkin sekarang mereka bakalan berantem lagi gara gara mereka suka sama cewek yang sama juga.”
            “siapa kak? Baru tau aku kalo kak Tama suka sama seseorang, tapi kog Kak Tama ga bilang ya?”
            “kamu tau siapa tuh cewek Cuma kamu ga sadar aja”
            “nduuut, gue boleh ngomong sesuatu ga?” suara Ari mengagetkanku dari belakang.
            “gue? Ngomong apaan?”
            “loe ikut gue ya, Ran, gue titip anak anak ke elo, usahain jangan sampe mereka ganggu gue sama nih karung beras.”
            “elo itu ya udah ngajaknya maksa terus ngejek lagi. Lepasin tangan gue.”
            “gue ga bakalan ngelepasin tangan elo.”
            Tempat yang begitu sunyi, mungkin lebih tepatnya romantis, mungkin, hiasan lampu dan bunga putih dimana mana bertebaran. Dan tanganku pun dilepas oleh Ari.
            “gue, gue mau ngomong” kata Ari gugup
            “ngomong apaan?”
            “gue suka sama cewek, tapi gue bingung gimana caranya ngungkapinnya.”
            “loe suka sama siapa?” jawabku dengan menahan sakit hati, orang yang sudah berhasil membuatku jatuh cinta, kini dia mencintai orang lain.
            hening kemudian keadaan yang meliputi kami berdua. Hatiku sangat sakit mendengar semua ini. Ingin rasanya pergi dari sini, ingin cepat cepat lari, tak mau mendengar apa yang akan terjadi.
            “gue suka.... gue suka sama cewek didepan gue, gue suka sama cewek super jutek, cewek yang suka ngatain gue anak gila, gue suka sama karung berasnya Tama. Gue suka semua tentang elo”
            mendengar pernyataan ini, rasanya ingin pingsan. Terkejut, sangat sangat terkejut entah bagaimana aku harus menjawab dan mengekspresikannya.
            entah kenapa aku langsung berlari, berlari entah karena apa, memang Ari bukanlah seperti Aldo, yang penuh dengan romantis, tapi Ari adalah seseorang yang apa adanya cuek, tapi dia sangat solid.
            Ku berlari semakin jauh, semakin menjauh dari Ari. Kulihat kak Tama sedang mendekati Rani, semakin ku dekati, mulai ku dengar pembicaraan mereka.
            “hay Ran, udah lama ya ga ketemu” sapa Kak Tama
            “eh elo Tam, iya udah berapa tahun ya”
            “elo sih siapa suruh dapet beasiswa ke Jepang”
            “hahaha elo itu temen gue atau bukan sih kenapa elu sirik gitu haha”
            “habis elo pulang ga kabarin gue.”
            “oh iya pak Dokter, haha, gue turut berduka tentang adek elo. Gue ga tau, tapi si Anita itu kan..”
            “iyaaa dan Anita itu pacar adek gue”
            “elo suka sama dia?”
            “iya, gue suka sama dia, setelah gue galau gara gara elo ninggalin gue, tapi semakin kesini, gue beneran suka sama dia, tapi gue tau kalo dia Cuma anggep gue kakak doang”
            “elo tau dari mana kalo dia ga suka sama elo?”
            “feeling aja sih, dan gue tau kog, kalo dia suka sama Ari, mungkin dia tertarik sama Ari. Biarin deh, yang penting salah satu anggota tubuh gue ada ditubuhnya.”
            “maksud elo Tam? Gue makin ga ngerti”
            “gapapa udah ga usa dipikirin. Toh Ari udah nembak orang yang gue cinta, dan mungkin mereka lagi bermesraan, tinggal nungguin makan makan doang” canda kak Tama yang tak begitu tulus, dan menandakan bahwa dia sangat kecewa.
            “kayaknya elo salah deh Tam, tuh liat siapa dibelakang elo.”
            Aku pun memeluk kak Tama dari belakang. Kak Tama yang begitu ku sayangi. Dan ternyata selama ini kak Tama juga menyukaiku. Kak Tamapun hanya bisa bengong melihat aku menangis dan memeluknya.
            Karena kejadian inilah semua anak anak melihat kami begitu pula dengan Ari. Dan Ari datang mendekati kami.  Kueratkan pelukkanku ke kak Tama. Dan kak Tama pun paham apa yang terjadi, kak Tama melindungiku dari Ari.
            “Bug” tinjuan pun melayang ke arah muka kak Tama.
            “oke, itu impas tapi gue percayain tuh karung beras ke elo, kalo elo ninggalin dia, gue bakalan yang ambil dia Tam.”
            Kejadian ini sungguh membuatku ingin menganggap ini adalah mimpi. Dan ternyata aku baru sadar bahwa sekarang orang yang ku sayangi adalah kak Tama, dan aku semakin mengeri bahwa Ari hanyalah pantulan sikap Aldo.
            Dan aku beruntung pernah dan sempat dekat dengannya. Dan kuamati seluruh orang yang berada disini, kulihat Silvi tak kunjung lepas melihat Ari, Ari yang menyerah karena melihat orang yang disayanginya bersama orang lain.
            Aku merasa Silvi mulai jatuh cinta kepada Ari. Memang tak heran bila mengukai Ari yang begitu hampir sempurna dikalangan cewek. Dan tanpa disangka, ternyata Kevin diam diam menyukai Rani, mantan pacar kakaknya itu.
            Dengan kejadian ini, aku mengerti, secret of love, yaa rahasia cinta yang telah kualami ini. Cinta yang begitu dekat, sangatlah dekat. Dan tak seseorang pun tau siapa jodohmu kelak, mungkin Allah mengerti bagaimana menguji kita dan dibalik itu tentu hikmahnya sangatlah indah.
            1 tahun kemudian kak Tama dan Ari lulus dari fakultas kedokteran. Dan kak Tama, mendapatkan pekerjaan dari Belanda, dan karena kak Tama takut meninggalkanku, akupun diajak untuk tinggal bersama keluarga Baskoro,
            Ditaman bunga serba putih di belanda, kak Tama berkata, “mungkin aku bukanlah Aldo, tapi akulah Tama, tapi aku punya niat yang sama yaitu, membahagikanmu dan berusaha membuatmu tersenyum indah.”
            Mungkin setelah kuliahku di Belanda ini selesai. Aku pasti akan mengikuti jejak Dian dan Odi yang menikah, yah minimal kayak Rani dan Kevin yang sudah tunangan. Aku percaya suatu saat nanti aku akan bahagia dengan kak Tama yang begitu ku sayang. Dan semoga Ari dan Silvi semakin dekat tanpa memikirkan gengsi, padahal mereka saling suka.
            Ingin rasanya aku mengucapkan terima kasih ke Aldo, karena Aldolah aku mendapatkan sesuatu yang indah dari kak Tama, dan karena Aldolah ku temukan cinta sejatiku.

            SEKIAN

Jumat, 11 Januari 2013

Lanjutan SOL part 6

Lanjutan SOL part 6



Hatiku sangat berdebar, rasanya seperti aku ingin terjun dalam ketinggian, rasa rindu selama ini. Aldo, entah sampai kapan aku akan mencintaimu. Dan lelaki itu pun menoleh kepadaku. Rasanya aku ingin pingsan seperti halilintar menyambarku.
Dia hanya diam dan menoleh kepadaku. Aku pun juga ikutan bengong dengan bertemunya sesosok Aldo ini.keheningan ini pun melanda kami. Rasanya aku ingin memeluknya dan tak kan pernah melepaskannya walaupun hanya sedetik.
“kamu siapa?” tanya cowok itu. Aku hanya masih bisa memandangnya. Memandang dalam dalam, dia sangat mirip dengan Aldo. Sangat mirip.
            “maaf. Kamu siapa ya?” tanyanya lagi.
            “Aldo?”
            “maaf, saya Kevin. Anda salah orang.”
            “ga, ga mungkin, kamu pasti Aldo.”
            “maaf, maaf, Nita, ayoo pulang, dia bukan Aldo.” Ungkap Odi, dan menarikku dari peristiwa ini.
aku dan kedua sahabatku ini meluncur ke rumahku. Aku masih termenung, dia.... ya dia mirip sekali dengan Aldo. Sangat mirip.tapi.... Aldo kan sudah bahagia disana. Aku tau Dian dan Odi juga terkejut dengan munculnya Kevin. Tanpa berbicara kami langsung menuju gubukku itu.
“Gila!!! Loe tadi liat kan dia tadi mirip banget kayak Aldo!” ucap Dian penuh tidak percaya.
            “iya, gue masih ga percaya, kenapa bisa mirip kayak gitu coba” sahut Odi.
            Aku hanya terdiam mendengarkan mereka membicarakan Kevin. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah tiada kembali menjadi manusia?? Tapi tak ku pungkiri, aku sangat merindukannya, dengan melihat Kevin, melihat tatapan matanya aku seperti melihat Aldo yang hidup kembali.
Senjapun mulai menghilang. Odi dan Dian pulang kerumah masing masing. Dan disini aku sendiri, dengan mengingat kejadian siang tadi. Ingin rasanya aku memberi tahu kak Tama. Tapi aku tak tau dimana kak Tama berada. Kucoba menghubunginya tapi nihil.
Akupun berjalan menuju halaman rumah, menutup dan mengunci pagar rumah. Dan entah apa yang berwarna putih yang sangat menarik perhatianku, aku berjalan menuju benda itu, benda yang diletakkan dipendopo halaman rumahku, yaaa, itu mawar putih, mawar putih yang sangat ku sukai.
“siapa sih yang naruh mawar ini disini” itulah yang dibenakku saat ini, sudah tiga kali mawar putih muncul dengan misterius. Bila mawar tadi sempat diletakkan di mobil Odi, dan itu untuk Odi, kenapa sekarang muncul dirumahku lagi? Akupun kembali masuk kerumah, dan tidur. Berharap mimpi indah karena aku bertemu dengan Kevin.
Badanku sangat terasa pegal, ku coba bangun tapi tak mampu. Ku ambil hpku yang berada disebelahku, satu satunya yang menemani tidurku tadi malam. Ku coba hubungi Odi, Dian nihil. Dan ku coba menghubungi kak Tama.
“assalamualaikum, kak Tama?”
            “waalaikumsalam Nita, kenapa pagi pagi udah nelfon, maaf ya, tadi malam hpku lowbat”
            “hehehe gpp kak, gini, kak Tama aku boleh minta tolong?”
            “apa? Nita?”
            “kak bisa datang ke rumah? Aku ga bisa bangun kak.”
            “maksudnya gimana? Ya uda ya uda kak Tama langsung meluncur” belum sempat pamit hp uda dimatikan oleh kak Tama.
Kak Tama memang penyelamat jiwaku. Pangeran yang sangat baik, dan hanya kak Tama lah yang mampu membuatku nyaman, setelah Aldo yang dihatiku. Kak Tama lah yang mampu memposisikan wanita pada kehormatan yang tak bernilai.
Tiba tiba saja, aku merasa pusing yang sangat hebat. Seperti dipukul dengan besi nih kepala. Dadaku sangat sesak. Seperi orang yang akan menempuh ajalnya. Sangat tersiksa. Dan aku tak tau apa yang terjadi lagi. Aku hanya menutup kedua mataku, menunggu seseorang datang kepadaku.
Aku membuka perlahan kedua mataku. Ku temui kembali ruang serba putih. Ruang yang sangat membuatku kesepian. Kulihat keadaan yang serba membuat orang merasa seperti dikucilkan dari keramaian orang orang.
“Nita! Kamu sudah sadar?”
            “Kak Tama?”
            “bentar bentar, dokter! Dokter! Nita siuman dok!”
Dan datanglah dua orang memakai pakaian serba putih. Dengan ahli memeriksaku. Kulihat lagi rungan ini.  Ternyata aku berada di bangsal, bukan lagi diruang ICU. Itu cukup membuat hatiku lega. Tapi infus dan alat bantu pernafasan ini tak lepas dariku.
“Nita, kita sangat benar benar butuh pendonor secepatnya. Saya khawatir, akan terjadi yang kita tidak inginkan.” Kata Dokter itu.
            kak Tama hanya berdiam memandangku. Terlihat sekali dia sangat penasaran apa yang terjadi terhadapku.dan wajah kak Tama berubah menjadi sangat sedih. Wajah yang tak pernah ku temui setelah kematian Aldo.
Aku hanya menutup rapat mulutku. Aku tak berani memandang kak Tama. Aku hanya terdiam, aku ingin seseorang menyelamatkanku dari tatapan kak Tama yang sangat menerkam.
“Nita! elo gapapa kan?” kata Dian yang tiba tiba datang dengan wajah yang sangat cemas.
            “elo gimana Nit? Apa kata dokter?” tanya Odi yang juga khawatir tapi berusaha tenang.
            “kata dokter harus nemuin pendonor yang cocok dan secepatnya, kalo ga akibatnya bisa fatal. Nah sekarang siapa yang mau njelasin ke gue Nita sakit apa? Mana mungkin Cuma kecapekan kaki Nita bisa bengkak kayak gitu? Cepet!” kata kak Tama yang membuat suasana begitu tegang. Kami hanya bisa melihat satu sama lain.
            “Nita, punya penyakit gagal ginjal kak, dan itu stadium akhir” kata Odi dengan sangat takut.
            “elo! BRAK!” pukulan mengenai wajah Odi.
            “kenapa elo ga bilang sama gue? Ha? Elo pikir gue ini siapa? Gue udah dikasih amanat sama Aldo buat jagain Nita! Kalo Nita kenapa kenapa gue ga segan segan mukulin elo sampe mati. Entah elo uda gue anggap kayak adek gue ato bukan!” nada kasar kak Tama. Dian mencoba melerai, tapi hanya melihat tatapn kak Tama mereka berdua hanya tertunduk diam.
            “kak.... aku yang  suruh mereka jangan bilang ke Kak Tama. Dulu kan kak Tama lagi pergi sama Silvi, aku pikir aku bakalan hanya nyusahin kak Tama. Odi ga salah kak, Odi lah yang menjagaku kak, uda kak, jangan marah lagi.” Kataku penuh penyesalan.
Kak Tama langsung mendekapku. Mendekapku dengan erat. Dan kurasakan tetesan air matanya membahasi bahuku. Kak Tama bangun dan pergi dari ruangan ini. Entah apa yang akan dilakukannya.
Dan yang ku tahui, kak Tama langsung menghubungi kedua orang tuanya dan kedua orang tuaku, hingga dari tadi aku sibuk mengangkat telfon dari pak Baskoro, dan ayah, ibuku.
Inilah disaat saat yang tak akan terlupakan, aku mempunyai kakak dan sahabat sahabat yang sangat aku sayangi, aku sangat beruntung dikelilingi oleh orang orang yang telah menyayangiku. Aku hanya bisa melihat mereka, aku tersenyum melihat keadaanku sekarang, aku mengetahui kalo mereka selalu ada buatku dalam keadaan apapun. Tak tahan lagi untuk melihat disekelilingku, akupun menutup mataku.
Aku mendengar suara seseorang mengaji, suaranya membuat hati nyaman, dan terdengar suara tangisan yang sangat terisak isak. Dan aku merasakan tanganku sangat hangat karena digenggam oleh seseorang. Ku dengar doa doa yang menginginkanku sembuh dari sakit ini. Ingin ku membuka mataku. Tapi aku tak mampu.
Aku terus memejamkan mataku. Aku ingin melihat siapa yang ada disekelilingku. Aku bertemu dengan seseorang dalam terpejamnya mataku. Kulihat Aldo tersenyum manis, senyum yang sangat bahagia. Senyum yang begitu kurindukan.
“Nita!” panggilnya.
            “Aldo? Kamu benar Aldo?”
            “iya Nita.. kamu kuat sayang. Kenapa kamu selemah ini, aku percaya kamu bisa sembuh sayang.”
            “Aldo!!!!!” aku memeluknya. Pelukan yang mewakili rindu yang selama 2th ini melandaku.
            “aku disini uda tenang sayang, aku disini sangat bahagia, kenanglah aku, tapi jangan jadikan aku sebagai pembatas kehidupanmu sayang. Percayalah, dari awal aku bertemu denganmu, hingga ketika aku tak sealam denganmu, perasaan itu tak akan pernah hilang sayang.” Kecupan didahiku berjalan dengan lembut dan sangat mendamaikan.
            “tapi, entah bagaimana aku hidup tanpa cintamu Do. Aku tak tau aku harus bagaimana. Aku masih mencintaimu Do. Dan perasaan itu tak akan pernah hilang.”
            “Nita, dengarkan aku, tataplah kehidupanmu didepanmu sayang aku percaya kamu mampu, liatlah kamu tak sendian, Odi, Dian Kak Tama. Ayah Ibumu, dan ayah Ibuku selalu disisimu sayang. Temukan cinta yang baru sayang, bila perlu lupakan aku, kita tak kan pernah bisa menyatu. Maut telah memisahkan kita. Percayalah aku disini bahagia melihatmu bahagia. Terima kasih kamu telah mencintaiku. Mawar putih yang selalu kau hadiahkan dipemakamanku.”
            “Aldo! Aku ga mungkin melupakanmu. Kamulah hidupku Do. Biarkan aku menemanimu Do. Maafkan aku, bila dulu aku tak menyetujui kencan itu kamu tak akan seperti ini.”
            “maafkan aku, aku meninggalkanmu Nita. Ini sudah takdir bila aku pergi tanpa permisi, dan kamu harus tau, aku bahagia melihatmu bahagia, jadi, pergilah dan bangun buatlah kamu bahagia maka disitulah aku merasakan hal sama.”
            “tapi? Bagaimana caranya? Aku akan membuatmu bahagia Do. Terima kasih kamu mencintaiku hingga kapan pun.”
            “iyaaa. Sekarang pejamkan matamu. Lihatlah orang orang yang menyayangimu. Aku pergi Nita.”
Pelukan itu terlepas. Aldo menghilang, sirna sudah bayangan Aldo. Dan aku sudah janji akan membuatnya bahagia. Aldooo.. aku disini mencintaimu.
Ku buka kedua mataku. Kulihat ruangan putih ini. Mentari pagi yang cerah memasuki cela cela jendela kamarku ini. Kulihat kedua orang tuaku yang duduk disofa dengan memeluk Al-Qur’an, kulihat kak Tama menggengam tanganku, dan Odi, Dian Ari yang duduk sambil tidur mengelilingi tempat tidurku.
“kak....”panggilku sayu.
            “Nita!” teriak kak Tama yang mampu membangunkan semua orang yang ada disini.
            “Nita! Kamu baik baik aja Nak? Kenapa kamu tidak pernah bilang kalo kamu sakit Nak?” kata Ibuku.
            Aku hanya mampu tersenyum melihat mereka. Dan mereka seakan bahagia melihat senyumku ini. Entah apa yang terjadi, yang ku tahu, aku sangat beruntung terlahir didunia memiliki mereka mereka yang kucintai.
Dokter dan perawat datang. Memeriksaku berkali kali. Mulai kecemasan tampak diwajah kedua orang tuaku. Maafkan aku Ayah, Ibu, karena Nita menyusahkan kalian.
“Baiklah Nita, kamu telah melewati masa kritismu. 4hari telah kau lalui dengan tidur tak sadarkan diri. Dan selamat Nita. Ada pendonor yang akan suka rela mendonorkan ginjalnya ke kamu, bila besok kesehatanmu sudah stabil, besok kita mengadakan transplantasi ginjal” kata dokter yang mampu membuat senyum dimata orang orang yang kusayangi ini.
Entah siapa yang baik hati, yang mau mendonorkan ginjalnya. Bila bertemu, dia lah penyelamatku. Dan dialah yang mampu membuatku hidupku lebih lama lagi.
Hari ini.... akhirnya aku operasi. Diantar oleh keluarga Baskoro, ayah, ibuku, kak Tama, Dian, Odi, dan Ari. Ari, kenapa dia disini? Haha aku sangat bahagia, aku masih diberi kesempatan untuk menatap dunia.
Detik demi detik berjalan operasi yang kujalani sangatlah lancar. Aku masih berbaring ditempat tidurku. Mungkin inilah semangat dari Aldo dan doa doa dari orang orang yang kusayangi.
Ku buka mataku, kulihat semua orang tersenyum tapi aku tak melihat kak Tama dan Ari.dan aku masih penasaran siapa yang mendonorkan ginjal itu.
“nita! Selamat yaaaa” kata Dian.
Terlihat wajah bahagia di wajah Odi. Aku ingin sekali menceritakan kejadian pertemuanku dengan Aldo selama aku koma. Tapi biarlah, ketika waktu yang pas aku akan menceritakannya.
“Di, kak Tama mana?” tanyaku ke Odi
            “entah gue juga tau Nit,semenjak kamu operasi kak Tama sama Ari ga ada.”
            “ohh... Di, anterin gue dong”
            “loe gila nit? Loe baru ja operasi, elo mau pergi kemana?”
            “gue kuat Di. Gue mau kemakamnya Aldo.”
            “ya uda, ntar gue bilang dokter, sekarang elo istirahat, tapi kemakam sebentar aja. Elo masih sakit.”
            “iyaaa Di, eh Di sini deh deket sini”
            “apaan” odi mendekat. Kupeluk Odi dengan erat kulihat semua orang terkejut dan hanya Dian yang tertawa melihat tingkahku.
            “gue sayang elo DI! Elo sahabat gue” kataku sambil memeluk Odi.
Malampun tiba. Odi, Dian kembali kerumah mereka. Dan kudengar orang tua Aldo kembali ke negara kincir angin itu. Tanpa aku melihat mereka. Mereka ternyata masih peduli terhadapku.
Kulihat Ibuku, dan Ayah menemaniku, kasihan mereka harus balik ke Bandung Cuma karena aku sakit. Kasihan Ayah, dan Ibu, aku sayang mereka. Benar kata Aldo, disini banyak orang yang menyayangiku.
“buuuuu” kataku
            “kenapa Nit?”
            “ibu sama Ayah balik ke Palembang aja, Nita udah bisa ditinggal kog, maafkan Nita ya bu, ayah, Nita sudah merepotkan kalian. “
            “kamu ini bicara apa Nit? Kamu itu anak ibu dan Ayah, ayah sudah ambil cuti.”
            “oh ya buu yang donorin ginjal siapa bu? Ibu? Ayah?”
            “sebenarnya naaak, Odi, Dian Ayah dan Ibu ginjalnya tidak ada yang cocok untukmu.”
            “loh? Dian? Odi? Kalo enggak cocok aku percaya, tapi, Ayah dan Ibu?”
            “kamu sehat dulu baru ibu akan cerita sebenarnya.”
            “ibu, Nita udah sehat. Bila ibu tidak cerita sekarang, Nita akan kecewa karena Nita sudah sembuh Bu.”
            “sebenarnya Nita, bukan Anak kandung Ibu dan Ayah. Kedua orang tua Nita sudah meninggal, ibumu adalah sahabat Ibu. Sahabat Ibunya Aldo juga. Ibumu meninggal sewaktu kamu dilahirkan, dan ayahmu meninggal karena kecelakaan, dan ketika mendengar ayahmu kecelakaan ibumu pendarahan hebat setelah melahirkan kamu. Ibumu berpesan untuk merawat kamu, karena ibumu tau ibu tak bisa mempunyai anak.”
Bagai tersambar petir mendengar penjelasan Ibu. Jadi ibuku selama ini bukan ibu kandungku? Kenapa dulu aku dilahirkan? Kenapa semua kejadiaan ini terjadi. Aku hanya bisa menangis, dan ayahku masih saja menggenggam tanganku.
“kamu dirawat oleh keluarga Aldo. Setelah itu baru kami yang merawatmu nak, maafkan Ayah, ayah tak bisa menjagamu.” Kata Ayah.
            “sebenarnya, ketika Aldo meninggal, ibunya Tama sangat marah, tapi dia melihat ternyata Aldo sangat tulus menyayangimu, begitu pula kamu, kamu sangat menyayangi Aldo. Dan mengingat kamu adalah anak dari sahabat kami. Ibunya Aldo. Ikhlas”
Tangis hebatku mengalir, kenyataan yang pahit sangat pahit, padahal aku baru saja menikmati bahagia, langsung down seperti ini.
“Ayah, Ibu, Nita sayang sama kalian, walaupun kenyataannya Ayah dan Ibu bukan orang tua kandung Nita, tapi Kalianlah yang merawat Nita hingga sekarang. Nita sayang Ayah dan Ibu. Tapi makam kedua orang tua Nita dimana?”
“di Palembang Nak” jawab ayahku dan memelukku.
            “Palembang? Lalu siapa yang mendonorkan ginjal untuk Nita?” tanyaku
            “iya, setelah kamu sembuh kita kepalembang ya” kata ibuku.
            “iyaa buu. Bu, yang mendonorkan ginjalku siapa?”
            “ibu dan ayah juga ga tau Nita,”
Jawaban ayah dan ibu membuatku semakin penasaran siapa yang mendonorkan ginjal untukku? Dan aku ingin melihat seperti apa ibu dan ayahku kandung.
BERSAMBUNG..