Lanjutan SOL part 6
Hatiku sangat berdebar, rasanya seperti aku ingin terjun
dalam ketinggian, rasa rindu selama ini. Aldo, entah sampai kapan aku akan
mencintaimu. Dan lelaki itu pun menoleh kepadaku. Rasanya aku ingin pingsan
seperti halilintar menyambarku.
Dia hanya diam dan menoleh kepadaku. Aku pun juga ikutan
bengong dengan bertemunya sesosok Aldo ini.keheningan ini pun melanda kami.
Rasanya aku ingin memeluknya dan tak kan pernah melepaskannya walaupun hanya
sedetik.
“kamu siapa?” tanya cowok itu. Aku hanya masih bisa
memandangnya. Memandang dalam dalam, dia sangat mirip dengan Aldo. Sangat
mirip.
“maaf.
Kamu siapa ya?” tanyanya lagi.
“Aldo?”
“maaf,
saya Kevin. Anda salah orang.”
“ga,
ga mungkin, kamu pasti Aldo.”
“maaf,
maaf, Nita, ayoo pulang, dia bukan Aldo.” Ungkap Odi, dan menarikku dari
peristiwa ini.
aku dan kedua sahabatku ini meluncur ke rumahku. Aku masih
termenung, dia.... ya dia mirip sekali dengan Aldo. Sangat mirip.tapi.... Aldo
kan sudah bahagia disana. Aku tau Dian dan Odi juga terkejut dengan munculnya
Kevin. Tanpa berbicara kami langsung menuju gubukku itu.
“Gila!!! Loe tadi liat kan dia tadi mirip banget kayak Aldo!”
ucap Dian penuh tidak percaya.
“iya,
gue masih ga percaya, kenapa bisa mirip kayak gitu coba” sahut Odi.
Aku hanya
terdiam mendengarkan mereka membicarakan Kevin. Bagaimana mungkin seseorang
yang sudah tiada kembali menjadi manusia?? Tapi tak ku pungkiri, aku sangat
merindukannya, dengan melihat Kevin, melihat tatapan matanya aku seperti
melihat Aldo yang hidup kembali.
Senjapun mulai menghilang. Odi dan Dian pulang kerumah masing
masing. Dan disini aku sendiri, dengan mengingat kejadian siang tadi. Ingin
rasanya aku memberi tahu kak Tama. Tapi aku tak tau dimana kak Tama berada.
Kucoba menghubunginya tapi nihil.
Akupun berjalan menuju halaman rumah, menutup dan mengunci
pagar rumah. Dan entah apa yang berwarna putih yang sangat menarik perhatianku,
aku berjalan menuju benda itu, benda yang diletakkan dipendopo halaman rumahku,
yaaa, itu mawar putih, mawar putih yang sangat ku sukai.
“siapa sih yang naruh mawar ini disini” itulah yang dibenakku
saat ini, sudah tiga kali mawar putih muncul dengan misterius. Bila mawar tadi
sempat diletakkan di mobil Odi, dan itu untuk Odi, kenapa sekarang muncul
dirumahku lagi? Akupun kembali masuk kerumah, dan tidur. Berharap mimpi indah
karena aku bertemu dengan Kevin.
Badanku sangat terasa pegal, ku coba bangun tapi tak mampu.
Ku ambil hpku yang berada disebelahku, satu satunya yang menemani tidurku tadi
malam. Ku coba hubungi Odi, Dian nihil. Dan ku coba menghubungi kak Tama.
“assalamualaikum, kak Tama?”
“waalaikumsalam
Nita, kenapa pagi pagi udah nelfon, maaf ya, tadi malam hpku lowbat”
“hehehe
gpp kak, gini, kak Tama aku boleh minta tolong?”
“apa?
Nita?”
“kak
bisa datang ke rumah? Aku ga bisa bangun kak.”
“maksudnya
gimana? Ya uda ya uda kak Tama langsung meluncur” belum sempat pamit hp uda
dimatikan oleh kak Tama.
Kak Tama memang penyelamat jiwaku. Pangeran yang sangat baik,
dan hanya kak Tama lah yang mampu membuatku nyaman, setelah Aldo yang dihatiku.
Kak Tama lah yang mampu memposisikan wanita pada kehormatan yang tak bernilai.
Tiba tiba saja, aku merasa pusing yang sangat hebat. Seperti
dipukul dengan besi nih kepala. Dadaku sangat sesak. Seperi orang yang akan
menempuh ajalnya. Sangat tersiksa. Dan aku tak tau apa yang terjadi lagi. Aku
hanya menutup kedua mataku, menunggu seseorang datang kepadaku.
Aku membuka perlahan kedua mataku. Ku temui kembali ruang
serba putih. Ruang yang sangat membuatku kesepian. Kulihat keadaan yang serba
membuat orang merasa seperti dikucilkan dari keramaian orang orang.
“Nita! Kamu sudah sadar?”
“Kak
Tama?”
“bentar
bentar, dokter! Dokter! Nita siuman dok!”
Dan datanglah dua orang memakai pakaian serba putih. Dengan
ahli memeriksaku. Kulihat lagi rungan ini.
Ternyata aku berada di bangsal, bukan lagi diruang ICU. Itu cukup
membuat hatiku lega. Tapi infus dan alat bantu pernafasan ini tak lepas dariku.
“Nita, kita sangat benar benar butuh pendonor secepatnya.
Saya khawatir, akan terjadi yang kita tidak inginkan.” Kata Dokter itu.
kak
Tama hanya berdiam memandangku. Terlihat sekali dia sangat penasaran apa yang
terjadi terhadapku.dan wajah kak Tama berubah menjadi sangat sedih. Wajah yang
tak pernah ku temui setelah kematian Aldo.
Aku hanya menutup rapat mulutku. Aku tak berani memandang kak
Tama. Aku hanya terdiam, aku ingin seseorang menyelamatkanku dari tatapan kak
Tama yang sangat menerkam.
“Nita! elo gapapa kan?” kata Dian yang tiba tiba datang
dengan wajah yang sangat cemas.
“elo
gimana Nit? Apa kata dokter?” tanya Odi yang juga khawatir tapi berusaha
tenang.
“kata
dokter harus nemuin pendonor yang cocok dan secepatnya, kalo ga akibatnya bisa
fatal. Nah sekarang siapa yang mau njelasin ke gue Nita sakit apa? Mana mungkin
Cuma kecapekan kaki Nita bisa bengkak kayak gitu? Cepet!” kata kak Tama yang
membuat suasana begitu tegang. Kami hanya bisa melihat satu sama lain.
“Nita,
punya penyakit gagal ginjal kak, dan itu stadium akhir” kata Odi dengan sangat
takut.
“elo!
BRAK!” pukulan mengenai wajah Odi.
“kenapa
elo ga bilang sama gue? Ha? Elo pikir gue ini siapa? Gue udah dikasih amanat
sama Aldo buat jagain Nita! Kalo Nita kenapa kenapa gue ga segan segan mukulin
elo sampe mati. Entah elo uda gue anggap kayak adek gue ato bukan!” nada kasar
kak Tama. Dian mencoba melerai, tapi hanya melihat tatapn kak Tama mereka
berdua hanya tertunduk diam.
“kak....
aku yang suruh mereka jangan bilang ke
Kak Tama. Dulu kan kak Tama lagi pergi sama Silvi, aku pikir aku bakalan hanya
nyusahin kak Tama. Odi ga salah kak, Odi lah yang menjagaku kak, uda kak,
jangan marah lagi.” Kataku penuh penyesalan.
Kak Tama langsung mendekapku. Mendekapku dengan erat. Dan
kurasakan tetesan air matanya membahasi bahuku. Kak Tama bangun dan pergi dari
ruangan ini. Entah apa yang akan dilakukannya.
Dan yang ku tahui, kak Tama langsung menghubungi kedua orang
tuanya dan kedua orang tuaku, hingga dari tadi aku sibuk mengangkat telfon dari
pak Baskoro, dan ayah, ibuku.
Inilah disaat saat yang tak akan terlupakan, aku mempunyai
kakak dan sahabat sahabat yang sangat aku sayangi, aku sangat beruntung
dikelilingi oleh orang orang yang telah menyayangiku. Aku hanya bisa melihat
mereka, aku tersenyum melihat keadaanku sekarang, aku mengetahui kalo mereka
selalu ada buatku dalam keadaan apapun. Tak tahan lagi untuk melihat
disekelilingku, akupun menutup mataku.
Aku mendengar suara seseorang mengaji, suaranya membuat hati
nyaman, dan terdengar suara tangisan yang sangat terisak isak. Dan aku
merasakan tanganku sangat hangat karena digenggam oleh seseorang. Ku dengar doa
doa yang menginginkanku sembuh dari sakit ini. Ingin ku membuka mataku. Tapi
aku tak mampu.
Aku terus memejamkan mataku. Aku ingin melihat siapa yang ada
disekelilingku. Aku bertemu dengan seseorang dalam terpejamnya mataku. Kulihat
Aldo tersenyum manis, senyum yang sangat bahagia. Senyum yang begitu
kurindukan.
“Nita!” panggilnya.
“Aldo?
Kamu benar Aldo?”
“iya
Nita.. kamu kuat sayang. Kenapa kamu selemah ini, aku percaya kamu bisa sembuh
sayang.”
“Aldo!!!!!”
aku memeluknya. Pelukan yang mewakili rindu yang selama 2th ini melandaku.
“aku
disini uda tenang sayang, aku disini sangat bahagia, kenanglah aku, tapi jangan
jadikan aku sebagai pembatas kehidupanmu sayang. Percayalah, dari awal aku
bertemu denganmu, hingga ketika aku tak sealam denganmu, perasaan itu tak akan
pernah hilang sayang.” Kecupan didahiku berjalan dengan lembut dan sangat
mendamaikan.
“tapi,
entah bagaimana aku hidup tanpa cintamu Do. Aku tak tau aku harus bagaimana.
Aku masih mencintaimu Do. Dan perasaan itu tak akan pernah hilang.”
“Nita,
dengarkan aku, tataplah kehidupanmu didepanmu sayang aku percaya kamu mampu,
liatlah kamu tak sendian, Odi, Dian Kak Tama. Ayah Ibumu, dan ayah Ibuku selalu
disisimu sayang. Temukan cinta yang baru sayang, bila perlu lupakan aku, kita
tak kan pernah bisa menyatu. Maut telah memisahkan kita. Percayalah aku disini
bahagia melihatmu bahagia. Terima kasih kamu telah mencintaiku. Mawar putih
yang selalu kau hadiahkan dipemakamanku.”
“Aldo!
Aku ga mungkin melupakanmu. Kamulah hidupku Do. Biarkan aku menemanimu Do.
Maafkan aku, bila dulu aku tak menyetujui kencan itu kamu tak akan seperti
ini.”
“maafkan
aku, aku meninggalkanmu Nita. Ini sudah takdir bila aku pergi tanpa permisi,
dan kamu harus tau, aku bahagia melihatmu bahagia, jadi, pergilah dan bangun
buatlah kamu bahagia maka disitulah aku merasakan hal sama.”
“tapi?
Bagaimana caranya? Aku akan membuatmu bahagia Do. Terima kasih kamu mencintaiku
hingga kapan pun.”
“iyaaa.
Sekarang pejamkan matamu. Lihatlah orang orang yang menyayangimu. Aku pergi
Nita.”
Pelukan itu terlepas. Aldo menghilang, sirna sudah bayangan
Aldo. Dan aku sudah janji akan membuatnya bahagia. Aldooo.. aku disini
mencintaimu.
Ku buka kedua mataku. Kulihat ruangan putih ini. Mentari pagi
yang cerah memasuki cela cela jendela kamarku ini. Kulihat kedua orang tuaku
yang duduk disofa dengan memeluk Al-Qur’an, kulihat kak Tama menggengam
tanganku, dan Odi, Dian Ari yang duduk sambil tidur mengelilingi tempat tidurku.
“kak....”panggilku sayu.
“Nita!”
teriak kak Tama yang mampu membangunkan semua orang yang ada disini.
“Nita!
Kamu baik baik aja Nak? Kenapa kamu tidak pernah bilang kalo kamu sakit Nak?”
kata Ibuku.
Aku
hanya mampu tersenyum melihat mereka. Dan mereka seakan bahagia melihat
senyumku ini. Entah apa yang terjadi, yang ku tahu, aku sangat beruntung
terlahir didunia memiliki mereka mereka yang kucintai.
Dokter dan perawat datang. Memeriksaku berkali kali. Mulai kecemasan
tampak diwajah kedua orang tuaku. Maafkan aku Ayah, Ibu, karena Nita
menyusahkan kalian.
“Baiklah Nita, kamu telah melewati masa kritismu. 4hari telah
kau lalui dengan tidur tak sadarkan diri. Dan selamat Nita. Ada pendonor yang
akan suka rela mendonorkan ginjalnya ke kamu, bila besok kesehatanmu sudah
stabil, besok kita mengadakan transplantasi ginjal” kata dokter yang mampu
membuat senyum dimata orang orang yang kusayangi ini.
Entah siapa yang baik hati, yang mau mendonorkan ginjalnya. Bila
bertemu, dia lah penyelamatku. Dan dialah yang mampu membuatku hidupku lebih
lama lagi.
Hari ini.... akhirnya aku operasi. Diantar oleh keluarga
Baskoro, ayah, ibuku, kak Tama, Dian, Odi, dan Ari. Ari, kenapa dia disini? Haha
aku sangat bahagia, aku masih diberi kesempatan untuk menatap dunia.
Detik demi detik berjalan operasi yang kujalani sangatlah
lancar. Aku masih berbaring ditempat tidurku. Mungkin inilah semangat dari Aldo
dan doa doa dari orang orang yang kusayangi.
Ku buka mataku, kulihat semua orang tersenyum tapi aku tak
melihat kak Tama dan Ari.dan aku masih penasaran siapa yang mendonorkan ginjal
itu.
“nita! Selamat yaaaa” kata Dian.
Terlihat wajah bahagia di wajah Odi. Aku ingin sekali
menceritakan kejadian pertemuanku dengan Aldo selama aku koma. Tapi biarlah,
ketika waktu yang pas aku akan menceritakannya.
“Di, kak Tama mana?” tanyaku ke Odi
“entah
gue juga tau Nit,semenjak kamu operasi kak Tama sama Ari ga ada.”
“ohh...
Di, anterin gue dong”
“loe
gila nit? Loe baru ja operasi, elo mau pergi kemana?”
“gue
kuat Di. Gue mau kemakamnya Aldo.”
“ya
uda, ntar gue bilang dokter, sekarang elo istirahat, tapi kemakam sebentar aja.
Elo masih sakit.”
“iyaaa
Di, eh Di sini deh deket sini”
“apaan”
odi mendekat. Kupeluk Odi dengan erat kulihat semua orang terkejut dan hanya
Dian yang tertawa melihat tingkahku.
“gue
sayang elo DI! Elo sahabat gue” kataku sambil memeluk Odi.
Malampun tiba. Odi, Dian kembali kerumah mereka. Dan kudengar
orang tua Aldo kembali ke negara kincir angin itu. Tanpa aku melihat mereka. Mereka
ternyata masih peduli terhadapku.
Kulihat Ibuku, dan Ayah menemaniku, kasihan mereka harus
balik ke Bandung Cuma karena aku sakit. Kasihan Ayah, dan Ibu, aku sayang
mereka. Benar kata Aldo, disini banyak orang yang menyayangiku.
“buuuuu” kataku
“kenapa
Nit?”
“ibu
sama Ayah balik ke Palembang aja, Nita udah bisa ditinggal kog, maafkan Nita ya
bu, ayah, Nita sudah merepotkan kalian. “
“kamu
ini bicara apa Nit? Kamu itu anak ibu dan Ayah, ayah sudah ambil cuti.”
“oh
ya buu yang donorin ginjal siapa bu? Ibu? Ayah?”
“sebenarnya
naaak, Odi, Dian Ayah dan Ibu ginjalnya tidak ada yang cocok untukmu.”
“loh?
Dian? Odi? Kalo enggak cocok aku percaya, tapi, Ayah dan Ibu?”
“kamu
sehat dulu baru ibu akan cerita sebenarnya.”
“ibu,
Nita udah sehat. Bila ibu tidak cerita sekarang, Nita akan kecewa karena Nita
sudah sembuh Bu.”
“sebenarnya
Nita, bukan Anak kandung Ibu dan Ayah. Kedua orang tua Nita sudah meninggal,
ibumu adalah sahabat Ibu. Sahabat Ibunya Aldo juga. Ibumu meninggal sewaktu
kamu dilahirkan, dan ayahmu meninggal karena kecelakaan, dan ketika mendengar
ayahmu kecelakaan ibumu pendarahan hebat setelah melahirkan kamu. Ibumu berpesan
untuk merawat kamu, karena ibumu tau ibu tak bisa mempunyai anak.”
Bagai tersambar petir mendengar penjelasan Ibu. Jadi ibuku
selama ini bukan ibu kandungku? Kenapa dulu aku dilahirkan? Kenapa semua
kejadiaan ini terjadi. Aku hanya bisa menangis, dan ayahku masih saja
menggenggam tanganku.
“kamu dirawat oleh keluarga Aldo. Setelah itu baru kami yang
merawatmu nak, maafkan Ayah, ayah tak bisa menjagamu.” Kata Ayah.
“sebenarnya,
ketika Aldo meninggal, ibunya Tama sangat marah, tapi dia melihat ternyata Aldo
sangat tulus menyayangimu, begitu pula kamu, kamu sangat menyayangi Aldo. Dan mengingat
kamu adalah anak dari sahabat kami. Ibunya Aldo. Ikhlas”
Tangis hebatku mengalir, kenyataan yang pahit sangat pahit,
padahal aku baru saja menikmati bahagia, langsung down seperti ini.
“Ayah, Ibu, Nita sayang sama kalian, walaupun kenyataannya
Ayah dan Ibu bukan orang tua kandung Nita, tapi Kalianlah yang merawat Nita
hingga sekarang. Nita sayang Ayah dan Ibu. Tapi makam kedua orang tua Nita dimana?”
“di Palembang Nak” jawab ayahku dan memelukku.
“Palembang?
Lalu siapa yang mendonorkan ginjal untuk Nita?” tanyaku
“iya,
setelah kamu sembuh kita kepalembang ya” kata ibuku.
“iyaa
buu. Bu, yang mendonorkan ginjalku siapa?”
“ibu
dan ayah juga ga tau Nita,”
Jawaban ayah dan ibu membuatku semakin penasaran siapa yang
mendonorkan ginjal untukku? Dan aku ingin melihat seperti apa ibu dan ayahku
kandung.
BERSAMBUNG..