Senin, 31 Desember 2012

Lanjutan SOL part 4

Lanjutan SOL part 4



“nduuuuuuuuuuuuuuut!!!!!!!” teriak seseorang yang kukenal. Aku pun tak mau menoleh karena aku tau siapa yang memanggilku.
            “elu itu sombong banget sih?” tanyanya. Aku berusaha tak menghiraukannya, yah Ari yang memanggilku. Kalo ini bukan dikoridor kampus uda gue getok tuk kepala dia.
            “gue punya nama kali yaaa dan gue ga budek kenapa harus teriak teriak sih? Ga malu apa sama semua orang?” jawabku sinis. Rasanya aku ingin cepat menghilang hari situasi ini.
            “hahaha lupa lupa, sorry deh sorry”
            “oke gue maafin, sekarang ada apa?”
            “gpp gue Cuma manggil doang, gue kira gara gara elu sakit kemarin, elu jadi budek kan siapa tau gitu” kata Ari dengan tampang polos dan langsung lari menjauh dariku
            “Anjriiiiiiiiiit lu Ri!” kalo gue bisa ngejar dia, dan dia bisa ketangkep, dia bakalan gue kuburin hidup hidup ditaman belakang!
Awal pagi yang sangat memperihatinkan. Yang seharusnya menjadi pagi yang cerah untukku karena orang tua akan pulang siang ini, malah menjadi suram karena bertemu sama cowo yang super rese itu. Andai aku tak pernah bertemu dengan anak gila itu, pasti hidupku dikampus ini menyenangkan.
Ketika kelas dimulai, baru berjalan sekitar 15 menit, tiba tiba seseorang datang dan mengetuk pintu, jujur saja itu sangat menghambat pelajaran yang sedang dijelaskan oleh dosenku itu.
            “tok.. tok.. permisi pak”
            “iya ada yang bisa saya bantu?” dosenku pak Jodi, memang ramah dengan siapapun, dan sebenarnya pak Jodi, tak suka bila dia sedang menjelaskan tiba tiba ada yang mengganggu.
            “begini pak, saya disuruh bu Sarah, katanya pak Jodi ganteng”
            “apa katamu? Hey kamu Ari! Berhenti! Kamu mengganggu saya!” pak Jodipun marah marah, tapi beliau tersenyum aneh, ketika mendengar kata kata bu Sarah, memang bu Sarah dan pak Jodi adalah seorang single parents. Dan banyak juga yang ingin menyatukan mereka karena mereka memang cocok satu sama lain.
Gila tuh anak kurang kerjaan apa ngerjain dosen yang lagi ngajar. Kesalku. Sumpah demi apa dunia ini harus terlahir cowo gila itu??
            “nit, kayaknya si Ari caper banget ya?” kata Dian yang duduk disebelahku.
            “he.em tuh ada penggemar nih si enduut” sahut Odi yang duduk dibelakangku.
            “sialan! Amit amit udah deh gue ga mau ribut disini ya Di, elu belum pernah gue pukul ya?”
            “hehehee ampun deh Nit, hahaha” jawab Odi dengan tertawa, dan Dian pun tertawa kecil.
Matahari tepat diatasku, dan akupun sudah dijemput oleh kak Tama. Kami berdua akan menyambut orang tuaku kembali kerumah, yah.. walaupun Cuma sehari, tapi, aku senang mereka masih mau menengokku. Sebelum kami kebandara, kami menyempatkan diri ke pemakaman Aldo.
Sesampainya dipemakaman, aku turun dengan membawa mawar putih, tapi, aku melihat sesosok perempuan berdiri tepat disamping makamnya Aldo. Sesosok perempuan yang sangat cantik. Cantik sekali. Dengan memakai pakaian serba hitam dengan kerudung hitam dan membawa payung hitam, dia menangis berseru disana.
            “kak Tama, itu siapa ya? Kog ada dipemakaman Aldo?” tanyaku ke kak Tama. Dan kak Tama belum menjawab, dia mengamati seseorang itu. “wah, aku ga tau Nit, dia siapa ayo kita kesana aja.” Aku dan kak Tama menuju makam Aldo. Hatiku berdebar kencang entah kenapa.
            “Silvi?”panggil kak Tama tiba tiba.
            “Tama? Kenapa kamu ga bilang kalo Aldo sudah tiada? Kenapa Aldo pergi secepat itu? Kenapa Tam?” tangis sang cewek itu dan langsung memeluk kak Tama.
            “dia kecelakaan, dan sebelum kecelakaan penyakitnya kambuh” jawab kak Tama seadanya. Aku bingung harus bagaimana. Jujur saja aku penasaran dan sangat takut dengan situasi ini.
            “huhuhu Aldo, Aldo” tangis Silvi pecah, yah dia menangis dan terus menangis.
            “kamu kapan kembali dari Bali?”
            “tadi pagi karena kemarin aku tiba tiba kangen dengan Aldo.”. aku baru menyadari disinilah kak Tama murni memakai aku-kamu dengan cewek ini.
            “oh ya, Silvi, kenalkan ini pacarnya Aldo.”
            “Anita” kuulurkan tanganku, menjabat tangannya.
            “hah? Aldo itu buta apa? Kenapa dia milih nih anak? Penampilannya aja kayak gitu. Kasihan si Aldo.” Caci maki menghampiriku. Tanpa dia membalas jabatan tanganku, dia pergi, pergi meninggalkan pemakaman ini.
            “aku pulang Tam, uda cukup perkenalannya, Aldo pergi karena cewek ini kan? Konyol!” kata Silvi dan mulai pergi menjauh dari kami.
Aku kesal, sedih, semua jadi satu serta sangat terkejut ketika dia berkata cukup perkenalannya, Aldo pergi karena cewek ini kan? Konyol!.
            “uda nit, ntar gue ceritain, ayo kita ke bandara kasihan ayah ibumu menunggu.” Bujuk kak Tama.
            Akupun meletakkan mawar putih itu diatas makam Aldo, dan mengambil mawar putih yang dulu kuletakkan, bunga itu sudah layu, tidak pantas ada dimakamnya Aldo. Setelah selesai kami mendoakan Aldo, kami langsung meluncur ke bandara.didalam mobil kesunyian ini terasa. Aku terus memandangi wajah kak Tama yang masih shock ketika melihat kedatang Silvi.
            “Silvi adalah, kembarannya Aldo,tapi karena adeknya ayah belum mempunyai anak, jadi, Silvi diangkat menjadi anak oleh om Amir. Silvi tidak pernah tau kalo Aldo adalah kembarannya, yah, walaupun wajah mereka berbeda, tapi ketika mereka bersama sama tertawa, disanalah kemiripan mereka.”
            aku sangat kaget, seperi ada halilintar didekatku. Silvi adalah kembarannya Aldo? Pantes ketika dia menatapku, entah kenapa ku mengenal tatapannya itu.
            “terus kak? Kenapa Silvi belum mengetahuinya sampai sekarang?”
            “karena kami tau Silvi akan shock, apalagi kembarannya telah tiada. Mereka mempunyai sifat yang sama, dan ketika mereka tak sengaja dipertemukan dalam suatu olimpiade sains tingkat SMA di Bali waktu itu, Silvi jatuh cinta kepada Aldo. Tapi ya itulah Aldo, hanya menganggap Silvi sebagai adek saja, karena dia memilihmu Nita. Mereka hanya tau kalo mereka hanyalah sepupu.”
            “oh.. tapi tatapan Silvi mirip dengan Aldo iya kan kak?”
            “hanya kamu Nit, hanya kamu yang baru pertama bertemu dengan Silvi dan mengatakan itu. Iya tatapan mereka sama.”
            Pembicaraan itu pun berakhir, kamipun sampai dibandara. Kami menunggu ayah dan ibuku datang. Aku hanya melamun memikirkan pertemuan dengan saudara kembarnya Aldo, Silvi.
            “maaf, Nit, mungkin sekarang kita jarang bersama, aku harus menemani Silvi selama diBandung.” Kata kata kak Tama. Hampir saja air mataku jatuh. Entah kenapa aku berat ditinggal pergi oleh kak Tama.
            “Nitaaaaaaaaaaaa!!! Tama!!!!!!” teriak ibuku. Memang ibuku itu selalu heboh ketika bertemu dengan kak Tama. Kata ibuku, kak Tama itu ganteng seperti Dimas Anggara. Gara gara ibuku sering melihat Dimas Anggara di tv.
            “hallo tante, hallo om” kak Tama menyapa dan mencium kedua tangan ayah dan ibuku.
            “ayaaah ibuu” aku pun memeluk mereka, kerinduan terbayar sudah ketika memeluk kedua orang tuaku ini.
            Kamipun pulang menuju rumah kecilku itu. Dalam perjalanan kami mengobrol dengan asyiknya. Hingga tak terasa kami sudah sampai dirumah.
            “om, tante, saya pamit pulang ya,” pamit kak Tama dan kembali kak Tama mencium kedua telapak tangan orang tuaku.
            “Nita maafkan aku ya, besok aku ga bisa menemanimu.”
            “iya kak maaf selama ini aku merepotkan kak Tama.”
            Kak tama pun pergi dengan jazznya. Aku dan orang tuaku pun masuk, kami beristirahat capek. “gimana kuliahnya nak?” tanya Ayahku. “its oke yah hahaha” jawabku enteng
            “memang anak ibu ini hebat, tapi jangan sering ngerepotin Tama Nit, kasihan Tama. Dia masih sering nginep sini? Kalian ga pernah ngapa ngapain kan?” tanya ibuku.
            “ya Allah ibu, enggak mungkinlah, aku dan kak Tama kan sudah seperti saudara sendiri. Iya bu, kak Tama masih sering menginap. Tapi Ayah dan ibu pulang ke Palembang kapan?”
            “mungkin besok sore, kita sudah pesen tiket juga, iya kan yah?”
            “kenapa cepet sekali? Untung besok Nita kuliah pagi.”
            “semangat ya nak” kata Ayah. Akupun hanya membalas dengan memeluk mereka. Aku kangen dengan kedua orang tuaku ini.
            “tok..tok.. assalammualaikum” seseorang mengetuk pintu dari luar.
            “iyaaa waalaikumsalam.” Jawab ibuku. “Siapa sih pagi pagi uda bertamu?” gumamku.
            “nita! Ada temanmu ini, katanya maujemput kamu, kamu kuliah pagi kan?”
            “iya ibuu sebentar, sebentar lagi selesai.” Teriakku. Siapa yang datang ya? Kak Tama ga mungkin, Dian? Odi? Ga mungkin, kalo mereka jemput pasti telfon dulu.
            aku keluar dari kamar, menuju teras depan. “nita, temannya diajak masuk ya, tadi ibu suruh masuk, katanya nungguin kamu, diajak sarapan juga ya nit.” Kata Ibu. “iya ibu.”
            Siapa yang ga terkejut lagi lagi pagiku hancur karena ketemu nih anak gila! Ari!. Tapi aneh kenapa dia kesini? Dan pakaiannya tumben rapi. Baju abu abu dengan blazzer biru, celana hitam dan sepatu ketsnya. Dia terlihat keren, dan tindiknya tak ada ditelinganya. Aneh
            “ngapain cowok gila ada dirumah gue?”
            “elu itu ya, gue punya nama kali ya ndut! Gue disuruh Tama tadi, tengah malem dia nelfon gue, katanya gue disuruh jemput elo. Terus sama disuruh pake pakaian sopan sama gue disuruh buang tindik gue, ternyata orang tua elo datang.”
            “oh, tapi gue bisa berangkat sendiri.”
            “gue sih Cuma disuruh Tama yaa, kalo dia bukan sahabat gue dari SMA mana mau gue bawa bawa karung  beras.”
            “elo cari mati dirumah gue ya?”
            “hahahaha udah udah, katanya Tama dia absen kuliah, dia mau pergi sama sepupunya. Jadi mau ga mau elu harus bareng gue. Ngerti?”
            “nita, temannya disuruh sarapan dulu. Kasihan pagi pagi uda jemput kamu.” Teriak ibuku.
            “katanya ga usah bu, dia tadi uda makan dedaunan di halaman depan”
            “sialan lu nit, lu kira gue kambing apa” jawab Ari kesal.
            “nita, ga boleh begitu, maafkan Nita ya mas, nita memang begini, ayo masuk makan dulu baru berangkat.”
            “anak sama ibu beda jauh”
            “loe bilang apa Ri? Ha?
            “oh temannya Nita, ayo makan dulu” sapa ayahku.
            “iyaa om makasih.”
            “makan yang banyak ya mas, yang bikin Nita kog, ayoo makan yang banyak” kata ibuku. Dan Ari langsung melihatku khawatir dia pikir gue bakalan ngeracunin dia, itu pasti yang dibenaknya sekarang.
            Setelah selesai kamipun pamit pergi ke kampua. “om, tante saya berangkat dulu,” pamit Ari penuh sopan santun, dan mencium kedua telapak tangan kedua orang tuaku.
            “hiis muna banget sih, ayah ibu aku berangkat, doain anakmu ini, takut dibawa sama orang gila” kataku dan aku memeluk mereka. Kamipun berangkat ke kampus.
            Kami pun berpisah, dan Ari bilang kami pulang harus bersama sama pula. Dikelas rasanya malas sekali karena kejadian pagi ini. Dan yang benar saja aku sama sekali tak melihat kak Tama sama sekali.
            “ciiiie berangkat berdua nih, mesra banget pake motor boncengan gitu.” Celoteh Odi yang tiba tiba berjalan disampingku.
            “sialan lu Di. Dia disuruh sama kak Tama tauk, loh Dian mana?”
            “Dian pergi ke Jakarta, katanya neneknya sakit gitu, gue mau ikut tapi ga boleh sama tuh anak.”
            “aaaaaa gue iri sama kalian, andai saja Aldo masih disini ya..”
            “udaaa kasihan Aldo, jangan ditangisi terus.” Kata Odi menenangkanku dan merangkulku. Odi dan Dian memang mereka yang benar benar mengetahui perasaanku saat ini.
            “oh ya Di, tentang Aldo, gue mau nanya sama elo, Aldo punya saudara kembar ya?”
            “iya, sih katanya, tapi emang Aldo pura pura ga tau, dulu dia dapat info, dari neneknya kalo ga salah, kalo saudara kembarnya itu mengikuti olimpiade sains tingkat provinsi. Makanya Aldo semangat banget belajar buat bisa ketemu sama kembarannya itu. Tapi elo kenapa tau tentang kembarannya Aldo?”
            “gini, kemarin sewaktu jemput orang tua gue, gue sama kak Tama mampir ke makamnya Aldo. Dan disana ada kembarannya Aldo. Silvi, iya Silvi namanya.”
            “dia dari Bali kan?”
            “iya, tapi sekarang dia di Bandung, kak Tama mau menjaga dia selama dia diBandung. Makanya gue dijemput sama cowok gila itu.”
            “hahaha cowok gila, ntar kalo dia yang diutus Aldo untuk menggantikan posisinya gimana coba?”
            “idiiiiih amit amit jangan sampe, cukup Aldo aja, gue udah bahagia Di.”
            “iyaaa deh Nita, oh ya, kapan ortu loe balik ke Palembang?”
            “ntar sore Di.”
            “yaelaah cepet amat, ntar sore biar gue yang anter ortu elo ke bandara ya, uda lama ga ketemu sama bokap nyokap elo.”
            “oke makasih ya Di.”
            Kamipun menuju kelas. Aku berfikir kenapa Silvi muncul dikeadaan seperti ini? Aneh juga.
            Siang aku pulang dengan lemas, menuju perkiran sudah ada di cowok gila Ari itu. Ya Allah kenapa Engkau mempertemukan hambamu ini dengan cowok gila ini. Melihat Ari yang duduk dimotornya dengan ditemani cewek cewek yang naksir padanya. Yah Ari sangat terkenal karena dia jago basket dan sangat pintar. Dan sangat jago dalam bermusik. Entah kenapa semenjak kejadian aku menangis ketika mendengan nyanyiannya dia sudah tidak ditaman lagi.
            “genduuuuut elo tu lama banget sih? Gue hampir jadi rebutan cewek cewek nih”
            “idiiiih cewek cewek itu buta kali ya, ngapain dia mau ngerebutin cowok kayak elo, hello kampus ini gede, cowoknya juga banyak hadeeeeeh”
            “jangan gitu nduuut ntar elo naksir sama gue gimana?”
            “idiiiih amit amit hiiiiiiiii”
            “emang siapa juga yang mauuu sama eloooo genduuuuut.”
            langsung berhenti detak jantungku. Kata kata ini seperti yang dikatakan oleh Aldo. Aldo... Aldooo
            “yaaelllaaaaah nih anak malah bengong ayo naik gue mau pergi nih”
Kamipun pulang,tapi untung orang tuaku tak ada mungkin sedang ketetangga sebelah, jadi nih cowo ga usah masuk kerumah gue lagi. Ari pun pulang, jujur dia sangat manis ketika dia kalem, tapi dia itu rese rese banget!!!
            Odi pun datang, dia mengantarkan orang tuaku kembali ke bandara menuju Palembang. Dimobil kami bercakap cakap dengan diiringi tawa kami berempat. Memang Odi telah menganggap orang tuaku ini orang tuanya juga, karena orang tua Odi meninggal ketika Odi masih kecil untung sekarang Odi diasuh oleh tantenya.
“ayah, ibu hati hati yaa” tangisku.
“om tante. Hati hati yaa” pamit Odi.
“iyaa kalian jaga diri baik baik ya” kata ayahku, akupun memeluk kedua orang tuaku ini.
Kami pulang aku dan Odi menuju kafe Bubble Gum, kafe favoritku. Tapi dimobila kepalaku pusing dan perutku perih kembali lagi mengahampiriku. Aku mimisan dan pingsan dimobil Odi. Dan Odi dengan siaga menuju rumah sakit terdekat.
Aku sadar, dan aku telah memasuki  ruang UGD. Perutku masih sakit. Memang apa karena pencernaanku kurang baik?
            “Nit, gue hubungi kak Tama ya? Kalo ortu loo gue kasihan mereka baru aja berangkat.”
            “jangan Di, ga usah, cukup elo aja deh.”
            “maaf, anda jangan banyak bicara dulu. Anda akan kami bawa keruang ICU .maaf siapa saudaranya saya mau bicara.” Tiba tiba dokter itu datang.
            “saya dok, saya kakaknya.”
            “baik mari ikut saya, biar nona Anita istirahat dan akan dipindahkan ke ICU oleh perawat kami.” Aku bingung kayaknya aku tak sakit apapun kenapa harus ke ICU???
            Dan Odipun selesai berbicara kepada dokter itu. Odi dengan lesu dan ingin menahan tangis itu menghampiriku. Aku dibuat penasaran oleh Odi. Apa yang sebenarnya terjadi.
            “Di, gimana kata dokter? Gue sakit apa?”
            “elu Nit elu sakit...” Odi hanya menangis. Dan tak meneruskan pembicaraannya
BERSAMBUNG...

Minggu, 30 Desember 2012

Lanjutan SOL part 3

Lanjutan SOL part 3



Setahun sudah kamu meninggalkan aku Do. Ujianpun sudah berlalu, sekarang aku kuliah Do, aku kuliah disalah satu universitas Bandung, aku  mengambil fakultas seperti keinginanmu Do, fakultas kedokteran Do. Seandainya kamu disini pasti kita sangatlah pasangan yang hebat, pasangan dokter yang akn menyelamatkan banyak jiwa Do.
Do, aku kuliah tak mengenal siapapun setelah kamu pergi, aku selalu menutup hatiku rapat rapat aku tak mau ada rasa lain dalam hidupku Do.
“Nita!!!!!!!!!” teriak Dian.
“loh Dian? loe ambil kedokteran juga?”
“iyaaa, bareng Odi juga kog Nit. Hore!!! Akhirnya gue ga repot repot cari teman baru hihihihi” celoteh Dian yang membuatku sedikit tersenyum.
“yaeeeelaaaah ngapain repot repot cari temen, kan elu uda ada si cacing Odi” sindirku dan kami pun tertawa.
Aku beruntung karena aku memiliki sahabat sahabat seperti Odi, Dian dan tentunya kak Tama yang selalu membuatku tersenyum.
“heh elo iya elo yang gendut pake baju biru!” teriak salah satu senior diospek”
“iya kak?” tanyaku polos.
“eluuu tu berisik banget elu itu bisa diem enggak?? Apa mau gue beri hukuman lari lapangan ini biar elu tu kurus hahahaha” caci maki senior itu.
“maaf kak,” aku tahan emosi, coba kalo ga ospek uda gue tindas sampe dia peyok baru tau rasa! Aku sebal sekali dengan senior yang sok, cowok yang ga bermutu!
“Ri, elu jangan ngapa ngapain adek gue ya! Elu mau berantem sama gue? Senior kasih contoh yang baik kenapa? Elu itu yaaaa” tegur kak Tama.
“hehehe oh itu adek elu Tam? Hehehe gue ga ngerti, habis dia itu cerewet banget pingen gue jitakin tuh kepalanya.”
Ospek pun berlalu tak terasa ospek pun berhenti. Aku selalu disamping kak Tama, kak Tama sangat menjagaku. Dan sekarang kak Tama sendirian karena orangtuanya pergi ke negara kincir angin karena urusan bisnis. Dan aku pun juga seperti itu orang tuaku pergi ke Palembang karena tugas dinas dari perusahaannya. Karena hal itu orang tuaku sangat percaya dengan kak Tama untuk menjagaku.
     “Nita, tuh lihat cewek cewek pada ngejar ngejar kak Tama elu ga jeles?” ungkap Odi yang tiba tiba muncul dihadapanku itu.
“hahaha biarin lah Di, biar kak Tama punya cewek haha, loh mana Dian?”
            “haha bener juga lo Nit, sejarahnya selama gue temenan sama Aldo ga pernah gue lihat kak Tama punya cewek, padahal dari segi manapun kak Tama sangat perfect gue yang cowo aja iri, tuh, Dian, dia tadi mesen makanan”
            “elu masih normal kan Di? Jangan jangan elu diam diam naksir kak Tama?hahaha” ejek Dian tiba tiba hadir dimeja kami.
            “Anjrit lu! Kalo gue naksir sama kak Tama gue pasti uda jadian sama kak Tama bukan sama eluuuu kodok!” tangkis Odi
            “hahahahaha iya deh iya, hahaha oh ya gue denger dari anak anak, mereka ngefans banget sama kak Tama, karna kak Tama belain kamu didepan senior kita yg rese itu Nit.”
            “hahaha biarinlah haha”
Kami pun makan bersama dikantin kampus ini, inilah pertama kali kami menikmati makanan  dikampus, Andai aja Aldo ada, pasti akan duduk bersama kami.
“gubrak......”
“haduuuh mata elu tu kemana sih? Ga liat apa gue segede ini???” kataku penuh emosi karena tidak sengaja ada orang yang menabrakku.
“eh sorry sorry, tapi elu gpp kan? Tapi, elu kan adeknya Tama kan?”
“ eh elu kan? Senior waktu itu kan?” sumpah demi apa, gue benci banget moment ini, kenapa disaat seperti ini gue ketemu sama cowok resek ini.
“duh gue sial banget sih ketemu truk dikampus!” ejeknya
“ emang gue seneng apa ketemu sama cowok rese yang ga punya perasaan?” aku pun cepat cepat pergi meninggalkan tempat itu.
Akupun pulang kerumah dengan diantar kak Tama. Aku sangat lelah, entah kenapa aku hanya ingin berbaring dikasurku yang empuk itu. Tiba tiba saja aku teringat dengan bunga mawar dari Aldo, ketika menjelang kepergiaannya. Walaupun bunga itu sudah layu tetap saja bunga itu akan menjadi suatu yang berharga dikamarku ini.
Aku sangat kangen kamu Do, andai aja dulu kita ga kencan kita pasti masih bisa bersama sama lagi yaaa Do, aku ingin kamu hadir disetiap mimpiku, aku ingin kamu selalu menemaniku disaat apapun Do.
Aku kulih jam sore, karena kak Tama kuliah pagi, aku, Dian, dan Odi pun menuju salah satu mall di Bandung kami memutuskan untuk cari film yang asyik untuk ditonton dibioskop yang cukup megah ini.
Setelah selesai, kami langsung menuju kampus, tapi karena masih ada beberapa menit sebelum kelas dimulai, aku pergi ke toilet, aku mendengar petikan senar gitar, suara yang merdu dan nada nada yang indah ketika dia memainkannya, memang didekat toilet cewek, ada sebuah taman kecil dan jarang orang orang menuju ke taman ini, karena taman ini jauh dari jangkauan kantin, parkir, dan lainnya.
Dia menyayikan lagu itu dengan sangat lembut, dia sangat memahami lagu itu, ketika dia memainkan itu kita bagaikan terhipnotis kita akan merasa seperti kita merasakan yang dirasakan oleh pemain gitar itu, aku ingin mendekatinya, sangat ingin, tapi kuurungkan niatku karena kelas akan dimulai.
Kelas selesai, kak Tama pun sudah menjemputku didepan kelas, aku merasa seperti anak TK yang dijemput oleh kakaknya yang sangat khawatir, aku baru menyadari kak Tama memakai pakaian seperti aku pertama kali bertemu dengannya.
Aku dan kak Tama meluncur ke kafe favorit kami, kak Tama memang sudah berhenti sebagai penyanyi dikafe itu, tapi setiap kak Tama datang ke kafe itu, kak Tama selalu memperlihatkan suara indahnya ke pengunjung tanpa bayaran, kak Tama memanglah baik.
Kamipun pulang, kak Tama pun menginap dirumahku, memang setiap malam minggu kak Tama selalu menginap dirumahku, kami seperti saudara kandung yang tak dapat terpisahkan hehehe.
Minggu pagi, mentari bersinar dengan terangnya, aku pergi ke SMAku dulu, untung penjaga sekolahku dulu sangatlah baik, beliau sangat mengerti setiap aku berkunjung ke sekolahku pasti aku sedang merindukan Aldo. Dan aku hanya duduk dekat dengan ring basket, disinilah Aldo membanggakan sekolah, dan disini pula, aku pertama kali bertemu dengan Aldo.
Senjapun datang, menemaniku dalam perjalanan menuju rumah kecilku itu. “Nita, kamu itu kemana? Kenapa ga bangunin aku? kamu kira aku bakalan makan sendiri tanpa aku tau kamu dah makan apa belum?” kata kak Tama menyambutku ketika ku menginjak halaman depan. Semenjak kepergian Aldo, kak Tama lebih sering memanggil aku kamu, karena dia ingin menggantikan posisi Aldo, walaupun dia tau dia tak akan mudah menggantikan posisi adiknya itu dihatiku.

          cahanya  bintang menemani malam kesindirianku ini, kak Tama sudah pulang, tiba tiba kepalaku sangat sakit sangatlah sakit. Dan perutku sangat perih, aku sangat kesakitan, ingin menghubungi kak Tama aku tak tega, dia pasti lelah telah menjagaku seharian, ingin menelfon Odi dan Dina, tak mungkin kasihan mereka, aku sudah sering membuat mereka khawatir, aku tak mungkin memberi tahu orang tuaku, aku ga mau bikin kedua orang tuaku itu cemas. Mungkin aku hanya kecapekan akhirnya aku istirahat.
Setiap sore, karena aku ingin mendengar petikan petikan indah dari seorang pemain gitar itu, aku selalu menunggunya di tempat dudukan yang terbuat dari semen disebelah toilet cewek. Karena aku sering menunggu seseorang itu, aku pun mengetahui setiap jam berapa dia bermain gitar ditaman itu. Apabila dia sudah selesai memainkan alat musiknya, aku pun pulang, semakin lama, semakin aku sering menikmati permainan gitar itu.
Hingga suatu saat, aku lupa kalo kak Tama menungguku, mungkin kak Tama sedang mencariku, aku pun memutuskan untuk mengubunginya, ternyata hpku mati. Karena senja sudah pergi menjauh, dan hanya cahaya bulan dan bintang yang menemani, aku pun memutuskan untuk pulang sendiri “sial, gara gara si gitaris itu aku lupa sama kak Tama, kalo jam segini bis uda ga ada yang lewat mana hp mati sial!”kesalku.
“heh nduut ngapain elu sendirian di sini? Tama enggak jemput elo?” terdengar dari seseorang yang mendekatiku.
          “oooh elu, ku pikir siapa? Gue lupa Kak Tama jemput, mungkin dia lagi nyari nyari gue, mana hp gue mati”
          “oohhh gitu bentar deh”
entah apa yang dia lakukan, kenapa disaat seperti ini muncul cowok rese ini sih.
“Halo Tama? Gue nemuin karung beras elu nih, dia lagi nunggu bis ato taksi gue ga tau, elu dimana? Hp dia mati katanya tadi”. Sial gue dibilang karung beras, sialan nih orang, kalo dia bukan harapan satu satunya yang bisa nolongin gue, gue udah bunuh nih orang.
“ohh gitu? Tapi elu harus bayar tarif gue ya, bisa bisa motor gue rusak gara gara gue ngasih tumpangan ke karung beras ini. Elu sih jauh banget, ya udah gue antar dia pulang.” Dan cowok ini pun mengakhiri telfonnya.
          “kata Tama, elu gue antar pulang, Tama jauh banget dari sini, kalo elu mau nunggu sekitar satu jam sendirian yaa gpp gue bakal nelfon dia lagi gimana? Tapi kalo elu naik motor gue, elu naiknya hati hati bisa rusak nih motor.” Kata dia dengan sok. Kalo bukan  dia yang anter gue pulang uda gue tonjok nih orang.
          “ha? Ya udah deh makasi uda mau nganterin.” Jawabku menahan kesal.
          “ okeeeh nduut no problem, uda ayo pulang uda malam.”
Aku menyusuri kota Bandung ini, dengan cowok rese ini. Aku baru menyadiri kalo dia memakai motor matic seperti Aldo, dan warnanya sama sama putih, hanya beda merek aja nih motor.
“makasih ya udah mau nganterin pulang cowok rese” dengan tanpa berdosa aku berkata seperti itu.
          “cowok rese lu bilang? Gue punya nama kali ndut”
          “gue juga punya nama kali cowok rese, siapa suruh elu manggil gue gendut?”
          “tapi kan emang loe genduut kan nduuut kalo gue cowok rese, gue uda buang elo kejalanan tauk”
          “hehehe iya deh maaf, oke uda malam makasih uda dianterin pulang sana.”
          “elu itu ya, nawarin gue masuk kek, nawarin minum, berat tauk gue bawa karung beras pula” gila, gue harus super sabar ngadepin nih orang.
          “udah malam ga sopan malem malem bertamu.” Jawabku sinis.
          “ya udah gue pulang.”
            Baru saja aku membuka gerbang pagar rumahku itu, tiba tiba rasa perih terhadap perutku ini datang lagi, tapi aku bulanan uda baru minggu lalu, ga mungkin ini gara gara bulanan. Akupun hampir jatuh, tetapi untuk kedua kalinya aku tolong oleh cowok rese ini.
            “eh ndut elo kenapa? Elo pucet banget ayo gue antar elu, gue tau rumah sakit deket sini”
            “ga usah, gue uda biasa kayak gini, beneran gue gpp, elo plang aja deh”
            “kalo gitu gue antar sampe teras depan ya, habis itu gue pulang” aku pun hanya mengangguk. Sampai diteras, diapun pamit pulang, tanpa aku bilang terima kasih dia sudah meluncur dengan motornya itu.
            Badanku benar benar lemah, perutku sangat perih dan kepalaku sangat pusing. “tok.. tok.. Nitaaa... kamu dirumahkan? Ayoo buka pitu” seseorang mengetuk pintu rumahku.
            “kak Tama? Kog disini?”tanyaku kaget.
            “tadi si Ari nelfon aku, dan katanya kamu sakit, makanya aku cepet cepet kesini”.
oh jadi cowok rese itu namanya Ari, baik juga dia, ternyata dia khawatir sama aku haha tumben tuh orang baik.
            “Nita, kamu masih sakit ya? Kamu pucet banget, aku nginep sini deh” kata kak Tama mmebuyarkan lamunanku
            “iya kak ayo masuk, aku uda gpp, dibawa tidur pasti sembuh hehe”
            “uda ayoo istirahat” kak Tama kakak yang sangat baik, aku beruntung memiliki kakak seperti dia.
            Pagi datang, burung berkicauan bernyanyi, dan aku membuka seluruh jendela, biar angin pagi masuk kedalam rumah, ku pandangi kak Tama yang tidur disofa, biasanya dia tidur dikamar tamu, tapi karna khawatir,takut dia tak bisa melihatku karena terhalang tembok kamar dia pun tidur disofa di depan tivi, dengan syarat pintu kamarku tak ditutup.
            kak Tama sangat nyenyak aku yakin dia pasti bergadang menjagaku, aku tak tega membangunkannya, aku pun menuju dapur, membuat sarapan untuk kami, lalu aku beres beres rumah, ketika pukul 8.30 aku terpaksa membangunkan kak Tama, karena dia kuliah sore. Aku pun ikut merapikan diriku karena akupun kuliah sore.
            Sampainya dikampus, kami berpisah, dan kak Tama bilang agar aku menunggunya, karna dia harus konsultasi dengan dosennya, sambil menunggu kak Tama, aku menuju taman gitaris itu.
            “kau begitu dempurna, di mataku begitu indah, kau membuat diriku akan slalu memujamu” terdengar suara itu, akupun meneteskan air mata, itu lagunya Andra yang sempurna, lagu itu adalah lagu Aldo ketika mengungkapkan perasaannya.
            Aku pun menangis, aku tak bisa menahan perasaan kehilangan itu, dan membuat si gitaris itu menoleh, aku pun berlalri memasuki toilet cewek. Aku menangis , menangis terus menangis, Aldo ya Aldo, aku sangat merindukanmu Do, aku kangen dengan pelukanmu yang dapat membuatku nyaman, dan aku kangen senyumanmu yang begitu membuat bebanku hilang, Aldo L
            “kak Tama, mapir ketoko bunga ya, mau jenguk Aldo, uda lama ga ketemu Aldo kak”
            “iya, aku juga kangen sama tuh anak, gimana ya kabar tuh anak..”
            Jazz pun membelok menuju arah toko bunga, aku membeli mawar putih untuk Aldo, kami pun menuju kepemakaman Aldo.sampainya disana aku dan kak Tama membersihkan makam Aldo, aku meletakkan mawar putih itu diatas makam Aldo. Pecahlah tangisanku dimakam Aldo, dengan adanya kak Tama aku merasa dekat dengan Aldo. Aldo terima kasih telah meminjamkan kak Tama untuk menjadi kakakku, Do, kak Tama selalu menjagaku, dia sepertimu dia selalu menjagaku Do. Aku pulang ya Do....
“halo Nita?”
“iya kenapa ian?”
“kudengar kamu sakit? Kamu sakit apa Nit? Aku sama Odi uda otw nih kerumahmu”
“gue uda sembuh kali ian, gue nginep dirumah kak Tama Ian.”
“yaelaaah gue uda sampe rumah elo nih Nit, maaf deh gue baru tau kemarin dari kak Tama, tapi Nit, gue tadi liat ada cowok nunggu kamu di depan pager, gue ga tau siapa, ya udah gue cabut,”
“cowok? Siapa? Ya udaaah elo kesini gih nginep sekalian yeeee ntar gue bilang nyokap elo deh ya?”
“okeee”
Kamipun menginap bersama dirumah kak Tama, kamar kak Tama dan Aldo jadi satu, dan ketika aku nginep dirumah kak Tama aku pasti tidur dikamar ini kamarnya Aldo. Dan kak Tama lebih memilih tidur diruang keluarga biar dia bisa menjagaku.
“nit, gue kangen Aldo”
“haha gue juga, tapi tadi gue habis njenguk dia, eh ian gue mau nunjukin sesuatu ke elo” sambil membuka komputer Aldo, dan kuperlihatkan file file itu ke Dian, alhasil Dian menangis dan dia memelukku.
Sudah 2 tahun Aldo, pergi. Aku sudah ikhlas akan perginya Aldo, Aldo, kamu disana sudah bahagia ya, Aldo, kamu adalah bait bait doa doa yang kuucapkan setiap aku sholat dan berdoa. Aldo, semoga kamu tenang disana yaa.
            “elo tu ya Nit masak apa aja pasti enak, ga kayak nih orang masak tapi asin semua” kata Odi yang sangat lahap memakan arapan buatanku.
            “itu tandanya, elo cepet cepet nikahin si Dian, Dian pingen cepet nikah” sambar kak Tama.
            “uhuuuk uhuuuk” tersedaklah Dian dan Odi secara bersamaan dan membuat kami tertawa terbahak bahak
            “tuh tersedak aja sampe bareng gitu, udah nikah aja” samber kak Tama lgi. Mereka pun malu. Muka mereka merah padam, akupun hanya tertawa. Aldo lihatlah sahabat kita ini. Sebentar lagi pasti mereka akan menuju pelaminan Do.
            Kamipun berangkat ke kampus bersama sama. Aku, Dian, dan Odi bersama sama menuju kekelas kami. Kami berpisah dengan kak Tama.
            Karena kuliahpun telah berakhir, aku menuju ketaman, jujur, aku merindukan suara indah ketika menyanyikan lagu itu, lagu pengungkapan perasaan Aldo. Dan benar, aku menemukannya. Dia sedang memetik senar gitar menciptakan nada nada indah dengan suara merdu dia bernyanyi. Aku duduk dibalik pohon biar tak mengganggunya, seperti yang kubilang dia menyanyikan lagu penuh dengan perasaan.
            Dan ketika dia mengganti lagu yang dia mainkan, dia memainkan lagu “sempurna” aku memberanikan diri mendengar lagu itu hingga usai. Inilah pertama kalinya aku mendengarkan lagi lagu itu. Aku menahan tangis, supaya dia tak mengetahuiku, dan ternyata aku memang tak snaggup mendengarkan lagu itu, tangisku pecah, aku berlari ke toilet untuk menyembunyikan kesedihanku itu.
            Aku malu, aku sudah berjanji untuk tidak menangisi kenangan indahku ini. Kenangan bersama Aldo yang terindah dan memang aku sulit melupakannya, dan tak sepantasnya aku melupakan kenangan Aldo. Aku keluar dari toilet dan aku ingin kemakam Aldo L
“nduuut? Ternyata elo yang selama ini setiap sore disini?
“elo? Jadi elo yang nyanyi itu?” kenapa harus cowok rese ini? Sial! Aku nyesel.
“elu nangis?” tanyanya.
“jangan sok care deh, gue gpp”
“gue bukannya sok, tapi elu beneran nangis nduut. Gue telfon Tama dulu ya”
“ga usah. Gue uda mau keparkiran.”  
“gue anter ya ndut”
“gue punya nama Ri!” dia terkejut, entah dia keget karena aku telah mengetahui namanya atau dia kaget karena aku lari dan tak menghiraukannya.
Gila gue nyesel, kenapa harus Ari? Ga ada orang lainnya???? itulah yang ada dibenakku sekarang. Kepalaku kembali pusing dan aku pun tak sadar aku telah mimisan. Ternyata Ari mengejarku, dan dia mengetahui aku pingsan. Entah gimana, aku sekarang telah berada di sebuah ruangan, yang ku tahui itulah kamar seseorang. Aku pun bangun dan membuka pintu itu. Ingin tau siapakah pemilik rumah ini. Tiba tiba seorang ibu ibu datang menghampiriku.
“loh? Kamu sudah sadar?” ibu itu memulai percakapan.
“sudah bu, maaf kalo boleh tau ini rumahnya siapa?” tanyaku dengan mengamati rumash itu yang sangat mewah bagiku.
“perkenalkan saya ibunya Ari, nama kamu siapa nak?”
“saya Anita bu. Maaf bu, lalu Ari kemana?” Jadi ini rumah si cowo rese itu.
“katanya dia menjemput temannya yang bernama Tama. Karna Tama tdk tau rumah kami” gila! Ibunya ramah gini kenapa anaknya rese banget.
“nak Anita.” Panggilnya
“nak Anita dulu pernah diejek sama Ari ya? Sewaktu ospek?” loh? Kog ibunya tahu? Jangan jangan tuh anak juga cerita kalo kita terkar mulu kalo ketemu.
“hehehe iyaa bu, tapi gpp bu, udaah biasa bu, tapi kog ibu tahu?
“maafin Ari ya nak, Ari memang jail, maklum dia anak tunggal ga punya saudara jadi dia ga da temen”
“iya bu, gpp”
“tapi dia khawatir sama nak Anita, sewaktu nak Nita sakit, dia tiap malem kerumah nak Anita, walaupun dia tdk berani masuk menemui nak Anita” loh? Nih nyokapnya tau semua. Tuh anak cerita apa aja sih gue jadi penasaran. Jadi orang yang didepan pager yang dilihat Dian itu Ari.
“assalamualaikum hallo tante maaf lupa rumahnya Ari. Hehehe” tiba tiba kak Tama muncul dengan wajah cemas.
“haha iyaa nak Tama, maklum rumah Ari memang jauh dari kampus kalian.”
“loh kak Tama?”
“kamu itu yaa Nit, kalo sakit nelfon kenapa? Untung ada Ari, coba ga ada gimana coba?” kak Tama memarahi seperti kakakku sendiri.
“maaf deh kak”
“udah udah kalian pasti lapar ayo makan dulu.” Kata mamanya Ari.
“maaf tante ngerepotin. Thanks ya Ri,.” Jawab kak Tama.
“maaf ngerepotin tante” kataku sekilas.
“lo ga bilang makasi sama gue ndut?” kata Tama.
“iya thanks, gue mau bicara sama elo bentar boleh?”
“oke! Mah! Tam! Bentar ya, gue mau dicium nih sama endut hahaha” apa coba maksud nih anak bilang gitu.
“Ri, elo ga usah macem macem deh, lo pingen gue jadiin bacem?” ancam kak Tama. Membuat tante tersenyum dan Ari tertawa puas.
“oke ndut elo mau bilang apa?”
“elo cerita apa sama nyokap loe?
“cerita apa?”
“cerita sewaktu elu ngejekin gue waktu ospek sama waktu gue sakit.kenapa juga elo ga bilang kalo semenjak gue sakit elo datang kerumah gue?”
“maaaaaaaaaaaaah! Mamah kenapa bongkar semua???”
Nih anak ternyata anak mamah juga tetnyata. Mamahnya hanya tersenyum, terseyum manis, seperti ibu yang bijaksana, ga seperti anaknya hadeeeeeeeeh kenapa bisa berbeda gitu, nyokapnya dulu ngidam apa sih sama nih anak huh. -_____-
“ udaaaah cepetan jawab kenapa” tanyaku lagi tapi dia hanya diam.
“terus kenapa gue bisa sampe kerumah elo?”
“gini, karna gue panik, mau bawa elo ke rumah sakit, gue ga bawa dompet, mau nganterin elo kerumah elo, tapi masak iya gue biarin elo diteras sendirian? Gue ga sempet nelfon Tama, tapi tadi gue nyuruh temen elo Dian kalo ga salah suruh bialng ke Tama sorry. Jadi gue antar elo kerumah gue. Tapi makasih elo mana?”
“ oke thanks”
“loh gitu doang? Elo itu berat yeee waktu gue gendong elo itu berat benget”
Tak sengaja kata kata itu persis ketika Aldo sesudah menggendongku karena aku pingsan terkena bola basket Aldo.
            “eh nduuut malah bengong, mana nih kecupan buat gue?”
            “ndat ndut ndat ndut, nama gue nita.”
            “iya deh nita kecupannya mana?”
            “elo mau gue bunuh disini ya Ri?” tiba tiba kak Tama datang.
            “yaelah Tam, elu ga tau orang lagi seneng aja, elu tuh sahabat gue dari SMA kenapa elu jutek gitu?”
            hah? Sahabat SMA?
            “karena dia adek gue Ri, bukan kayak mantan mantan eloo”
            “iyaaa deh, elu dah makan belum Tam? Istirahat disini dulu aja elu pasti capek nyasar mulu sih kalo kesini.”
            “gue udah makan, ayo Nit makan dulu terus pulang. Tapi thanks ya Ri. Tapi ntar kalo elo udah punya istri elo jangan bikin rumah yang jauh dan penuh dengan gang, gue aja uda berulang kali kesini masih aja nyasar”
            “hahaha oke oke siap komandan”. Aku tak mengerti bagaimana persahabatn mereka terjadi.
            selesai istirahat kamipun berpamitan pulang.

BERSAMBUNG.....