Rabu, 08 Mei 2013

Pernah ga ngerasin perasaan yg berbeda terhadap sahabat sendiri?
Awalnya aku sangat berdosa sekali ketika aku harus menghadapi semua ini.
Dia sahabatku, namanya Rio, dia mantan pacar sahabatku juga,
aku punya prinsip, kalo cinta kepada mantan pacar sahabat sendiri dan sekarang uda jadi sahabat, itu hal mustahil, ternyata, bicara dengan sikap yang kita lakuin itu emang bertentangan. pada akhirnya ak terjebak diantara prinsip dan perasaan ini.
yaaaaa.. aku memutus kan untuk mengatakan kepada Rio dan mantannya Fatimah, grogi, ya itu yang kualimi, ternyata Fatimah mendukung ku dengan Rio, tapi Rio? ternyata memang aku yang bodoh, mencintai Rio, tapi dari dulu hati Rio hanya sudah terpahat dengan nama Fatimah.
aku tak mengerti, ak tak paham kenapa harus Rio pengganti Yusan yang bertahun tahun aku cintai, dan sekarang aku moveon. aku tau kalo aku tak seperti mantan mantan Rio. yang selalu anggun, feminim, berhijab., berbanding terbalik denganku.
Rio, pernahkah aku dihatimu? pernahkah aku difikiranmu? pernahkah??
mungkin aku salah karena terhadap perasaan ini. tapi, aku mencintaimu setulus hatiku. dan taukah kamu, aku merubah cara berpakaianku karna aku ingin kamu dapat memujiku.
entah kapan perasaan ini muncul,
Rio, kamu adalah cahaya yang mampu menerangi hatiku,
kamu adalah doa doa yang selama ini aku ucap untuk menuju kebahagiaan
kamu adalah sebuah waktu, waktu yang sangat ak hargai untuk setiap detiknya,
kamu adalah warna, warna yang selalu mengisi selembar putih kehidupanku.
kamu adalah irama, irama yang selalu membuatku selalu berdebar ketika berada didekatmu
dan kamu adalah pemenang, pemenang dalam mendapatkan segala perhatianku dan perasaanku. Rio, aku disini, mencintaimu, dan akan terus menunggu hingga kamu sadar akan hadirnya cintaku dikehidupanmu.

Senin, 25 Februari 2013

Lanjutan SOL 7 (the end)

Lanjutan SOL part 7


Mentari bersinar seindah mawar putih yang kudekap, pemberian dari kak Tama. Aku mulai berfikir kehidupan itu selalu lika liku. Setelah kepergian Aldo, sekarang aku mengetahui aku bukanlah anak kandung dari orang tuaku.
Sedih memang bila mengetahui aku bukanlah anak kandung dari orang tuaku.
****
Aku terdiam merenung menatapi indahnya langit yang cerah. Ditaman inilah aku bertemu dengan sesosok cowo rese Ari. Ari yang mempunyai suara dan jari yg indah untuk memainkan gitarnya, dan selalu hati ini bergetar ketika dia melakukannya.
Mungkin Aldo benar aku harus menatap masa depan, dan Aldo tetap kusimpan disalah satu ruang dihati ini. Tapi kenapa harus Ari? Jelas jelas aku dan dia tak pernah sejalan, dan dia pun tak pernah ramah terhadapku.
Dan sekarang setelah dia berhasil membuatku jatuh cinta, dia pergi menghilang entah kemana. Sejak operasi itu aku belum bertemu dengan Kak Tama dan Ari.
Yah belum kupastikan apakah benar aku mulai jatuh cinta kepada Ari? Kenapa aku tak pernah bisa kembali menatap indahnya dunia kak Tama?
“hei” sapa seseorang membuyarkan lamunanku. Aku hanya menoleh, dan sangat terkejut ketika yang menyapaku adalah Kevin. Kevin yang sangat mirip dengan Aldo.
Aku hanya bisa bengong didepan Kevin. Dan kevin tanpa dipersilahkan duduk disampingku begitu saja. Jantung ini serasa berhenti dengan shock. Seseorang yang mirip dengan masa laluku.
“sendirian?” tanyanya lagi.
            “jangan bilang elo lupa sama gue” lanjutnya
            “eh,,, hehehe gue inget kog” jawabku enteng.
            “gue masih penasaran kenapa elo tiba tiba manggil gue Aldo, dan elo manggil tuh nama elo jadi sedih gitu. Cuma heran aja sih”
            “hehe gpp, maaf kemarin aku salah orang”
Hatiku berdegup kencang, kenapa dia yang muncul disaat seperti ini? Kenapa?? Melihatnya, dan mengamatinya mengingatkan lagi lembaran kenangan itu. Kenangan yang mungkin berusaha ku simpan dan tak kan pernah ku buka kembali.
“elo, sendirian disini, ga takut kesurupan ya?” tawa kecil Kevin
            “hahaha gue sih takut ketika elu disamping gue, bayangin aja masak gue mau dirasuki kayak elo Vin, hahaha” tawaku tak bisa terbendung melihat ekspresi dia ketika dia membeku setelah kujawab ejekannya.
            “haha tapi kalo gue mau masuk ke jiwa orang lain itu milih milih juga kali.” Aku terdiam. Terkejut. Dan apalah namanya itu. Kevin ternyata orangnya lumayan untuk penghibur diri.
            “elo tau ini kan Vin?” kurapatkan dudukku dengan Kevin, dan aku mengeluarkan kaca dari dalam tasku.
            “buat apaan tuh?”
            “buuuat lihat luka bekas gigitan gue dilengan elo” dia langsung terpekik dan tertawa puas.
Ternyata aku mulai membuka kembali kenangan masa laluku bersama Aldo. Dan karena Kevinlah aku membuka lagi kenangan ini. Kenangan yang seharusnya sudah kulupakan beberapa tahun ini.
“elo tau enggak jatuh cinta itu apa?” Aldo mengeluarkan pertanyaan yang membuatku bingung, ku tatap danau ditaman ini.
            “jatuh cinta adalah, perasaan dimana elo merasakan sesuatu yg belum elo pernah rasain, dan disetiap elo memejamkan mata, hanya seseorang itu yg akan muncul. Dan ketika elo bersama dia, elo rasanya ingin ngeberhentiin waktu biar bisa lebih lama sama dia.” Jawabku dengan mengingat bagaimana aku telah jatuh cinta kepada Aldo dan Ari.
            “elo pernah ngerasain jatuh cinta?”
            “iya, tapi orang yang kucintai ninggalin gue, dan gue disuruh cari yg baru.”
            “gila! Tuh cowo! Seenaknya bilang kayak gitu ke elo? Orang mana biar gue bantu deh!” emosi Kevin.
            “tuh dia disana” jawabku dengan mata sayu dan menunjuk langit.
Kevin terdiam melihatku, dan keadaan menjadi kembali hening, keheningan yg membuatku merasa aneh. Aneh akan perasaanku ketika melihat Kevin.
“sorry sorry gue ga tau” ungkap Kevin
            “hahaha  gpp kali, udah, udah jangan bahas lagi ganti tema yg lain”
            “terus, elo udah jatuh cinta lagi?”
            “mungkin, tapi belum yakin sama perasaan ini, belum tentu dia bakalan bisa nggantiin Aldo.”
            “jadi Aldo itu...?”
            “iya, Aldo itu pacar pertama gue, sahabat gue, huuuuh” dan aku pun meneteskan air mata, mungkin aku masih belum ikhlas kehilangan Aldo. Dan Kevin memelukku.
            “gue pinjemin badan gue kalo elo pingen nangis, nangis dulu sepuas elo, kasihan dia yg serba salah, dia juga ga bakalan mau ninggalin elo, tapi Allah berkata lain.”
Tangisku semakin pecah ketika mendengar semua itu.yang sebenarnya ku tangisi adalah Aldo, apakah memang ini yang dijalankan aku bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Aldo.
Akupun pulang kerumah dan diantar oleh Kevin. Kulihat mobil kak Tama ada dihalaman rumah. Akupun mulai berjalan menuju pintu rumah, dan belum kusentuh pintu itu, pintu itu terbuka, dan kulihat kak Tama, kak Tama yang kurindukan semenjak operasi itu tak ada.
“Nita!” peluknya.
            “aaaaaaa kak Tama kemana? Nita kangen tauuuk”
            “hehe, maaf, ada yang mau kenalan nih sama kamu, jadi kakak datang kesini.”
            “silvi?” kangetku,
            “gue udah denger semua dari kak Tama, gue minta maaf, gue ingin kita temenan, gue yakin Aldo bakalan seneng kalo kita berdamai, gimana?
            “iyaaa gue setuju”aku dan Silvipun berpelukan seperti teletubis hahahaha. Kevin dan kak Tama hanya tersenyum melihat kami berdua.
Dan pada akhirnya aku dan Silvipun sekarang menjadi sahabat, dan pasangan Odi dengan Dian pun sangat senang ketika bertambah teman yaitu Silvi. Memang ternyata Silvi mirip dengan Aldo, dari segi apapun dan menurutku sangat unik. Tapi kasihan ketika mereka harus dipisahkan oleh maut.
            Keesokannya, ternyata kak Tama, Silvi, Odi dan Dian mengajak ke puncak, kamipun tinggal disalah satu villa keluarganya Odi. Kamipun berangkat dengan gembira. Dan siapa sangka bahwa Rani, Ari dan Kevin satu mobil juga menuyusul kepuncak.
            Berdebar jantung ketika mengetahui, semua orang yang ku sayangi berada didekatku, dan kenapa dimana mana harus ada Ari?
            Kuamati Rani dan sedari tadi hanya duduk di sebelah gitarnya Ri di teras. “hay” sapaku.
            “hay juga, loh loe kan yang di toko buku itu kan?”
            “iya, masih ingat ya, hehehe kenalin gue Anita.”
            “iya, Ari uda cerita banyak ke gue, kenalin gue Rani.”
            “anak gila itu cerita apa ke elo?”
            “haha anak gila? Gitu gitu dia sahabat gue dari SMA”
            “haha maaf maaf, bentar deh bentar, kalo gue perhatiin elo kan cewe cantik difoto yg ada di gitarnya Ari kan?”
            “hahaha iya, sebenarnya itu tuh foto gue, Tama sama Ari. Tapi karena fotonya uda mulai rusak jadi tinggl foto gue deh.”
            “ooh, gitu, emangnya kak Rani ga bosen apa temenan sama cowok gila itu? Kalo kak Tama mah aku percaya kalo kak Tama baik banget haha”
            “hahaha iyaa Ari memang usil, tapi dia sama Tama dulu pernah berantem, entah masalah apa.”
            “berantem? Emang sih pasti cowok gila itu yang usil.”
            “haha mungkin haha”
            “terus, kok Kevin bisa sama Kalian kak?”
            “oh Kevin itu dulu adek mantan gue, tapi mantan gue udah nikah dan gue jadi akrab sama Kevin.”
            “ohh gitu, oh ya, dulu mereka berantem gara gara apa yaa kak?
            “ga tau deh tapi gue denger denger gara gara rebutan cewek, dan mungkin sekarang mereka bakalan berantem lagi gara gara mereka suka sama cewek yang sama juga.”
            “siapa kak? Baru tau aku kalo kak Tama suka sama seseorang, tapi kog Kak Tama ga bilang ya?”
            “kamu tau siapa tuh cewek Cuma kamu ga sadar aja”
            “nduuut, gue boleh ngomong sesuatu ga?” suara Ari mengagetkanku dari belakang.
            “gue? Ngomong apaan?”
            “loe ikut gue ya, Ran, gue titip anak anak ke elo, usahain jangan sampe mereka ganggu gue sama nih karung beras.”
            “elo itu ya udah ngajaknya maksa terus ngejek lagi. Lepasin tangan gue.”
            “gue ga bakalan ngelepasin tangan elo.”
            Tempat yang begitu sunyi, mungkin lebih tepatnya romantis, mungkin, hiasan lampu dan bunga putih dimana mana bertebaran. Dan tanganku pun dilepas oleh Ari.
            “gue, gue mau ngomong” kata Ari gugup
            “ngomong apaan?”
            “gue suka sama cewek, tapi gue bingung gimana caranya ngungkapinnya.”
            “loe suka sama siapa?” jawabku dengan menahan sakit hati, orang yang sudah berhasil membuatku jatuh cinta, kini dia mencintai orang lain.
            hening kemudian keadaan yang meliputi kami berdua. Hatiku sangat sakit mendengar semua ini. Ingin rasanya pergi dari sini, ingin cepat cepat lari, tak mau mendengar apa yang akan terjadi.
            “gue suka.... gue suka sama cewek didepan gue, gue suka sama cewek super jutek, cewek yang suka ngatain gue anak gila, gue suka sama karung berasnya Tama. Gue suka semua tentang elo”
            mendengar pernyataan ini, rasanya ingin pingsan. Terkejut, sangat sangat terkejut entah bagaimana aku harus menjawab dan mengekspresikannya.
            entah kenapa aku langsung berlari, berlari entah karena apa, memang Ari bukanlah seperti Aldo, yang penuh dengan romantis, tapi Ari adalah seseorang yang apa adanya cuek, tapi dia sangat solid.
            Ku berlari semakin jauh, semakin menjauh dari Ari. Kulihat kak Tama sedang mendekati Rani, semakin ku dekati, mulai ku dengar pembicaraan mereka.
            “hay Ran, udah lama ya ga ketemu” sapa Kak Tama
            “eh elo Tam, iya udah berapa tahun ya”
            “elo sih siapa suruh dapet beasiswa ke Jepang”
            “hahaha elo itu temen gue atau bukan sih kenapa elu sirik gitu haha”
            “habis elo pulang ga kabarin gue.”
            “oh iya pak Dokter, haha, gue turut berduka tentang adek elo. Gue ga tau, tapi si Anita itu kan..”
            “iyaaa dan Anita itu pacar adek gue”
            “elo suka sama dia?”
            “iya, gue suka sama dia, setelah gue galau gara gara elo ninggalin gue, tapi semakin kesini, gue beneran suka sama dia, tapi gue tau kalo dia Cuma anggep gue kakak doang”
            “elo tau dari mana kalo dia ga suka sama elo?”
            “feeling aja sih, dan gue tau kog, kalo dia suka sama Ari, mungkin dia tertarik sama Ari. Biarin deh, yang penting salah satu anggota tubuh gue ada ditubuhnya.”
            “maksud elo Tam? Gue makin ga ngerti”
            “gapapa udah ga usa dipikirin. Toh Ari udah nembak orang yang gue cinta, dan mungkin mereka lagi bermesraan, tinggal nungguin makan makan doang” canda kak Tama yang tak begitu tulus, dan menandakan bahwa dia sangat kecewa.
            “kayaknya elo salah deh Tam, tuh liat siapa dibelakang elo.”
            Aku pun memeluk kak Tama dari belakang. Kak Tama yang begitu ku sayangi. Dan ternyata selama ini kak Tama juga menyukaiku. Kak Tamapun hanya bisa bengong melihat aku menangis dan memeluknya.
            Karena kejadian inilah semua anak anak melihat kami begitu pula dengan Ari. Dan Ari datang mendekati kami.  Kueratkan pelukkanku ke kak Tama. Dan kak Tama pun paham apa yang terjadi, kak Tama melindungiku dari Ari.
            “Bug” tinjuan pun melayang ke arah muka kak Tama.
            “oke, itu impas tapi gue percayain tuh karung beras ke elo, kalo elo ninggalin dia, gue bakalan yang ambil dia Tam.”
            Kejadian ini sungguh membuatku ingin menganggap ini adalah mimpi. Dan ternyata aku baru sadar bahwa sekarang orang yang ku sayangi adalah kak Tama, dan aku semakin mengeri bahwa Ari hanyalah pantulan sikap Aldo.
            Dan aku beruntung pernah dan sempat dekat dengannya. Dan kuamati seluruh orang yang berada disini, kulihat Silvi tak kunjung lepas melihat Ari, Ari yang menyerah karena melihat orang yang disayanginya bersama orang lain.
            Aku merasa Silvi mulai jatuh cinta kepada Ari. Memang tak heran bila mengukai Ari yang begitu hampir sempurna dikalangan cewek. Dan tanpa disangka, ternyata Kevin diam diam menyukai Rani, mantan pacar kakaknya itu.
            Dengan kejadian ini, aku mengerti, secret of love, yaa rahasia cinta yang telah kualami ini. Cinta yang begitu dekat, sangatlah dekat. Dan tak seseorang pun tau siapa jodohmu kelak, mungkin Allah mengerti bagaimana menguji kita dan dibalik itu tentu hikmahnya sangatlah indah.
            1 tahun kemudian kak Tama dan Ari lulus dari fakultas kedokteran. Dan kak Tama, mendapatkan pekerjaan dari Belanda, dan karena kak Tama takut meninggalkanku, akupun diajak untuk tinggal bersama keluarga Baskoro,
            Ditaman bunga serba putih di belanda, kak Tama berkata, “mungkin aku bukanlah Aldo, tapi akulah Tama, tapi aku punya niat yang sama yaitu, membahagikanmu dan berusaha membuatmu tersenyum indah.”
            Mungkin setelah kuliahku di Belanda ini selesai. Aku pasti akan mengikuti jejak Dian dan Odi yang menikah, yah minimal kayak Rani dan Kevin yang sudah tunangan. Aku percaya suatu saat nanti aku akan bahagia dengan kak Tama yang begitu ku sayang. Dan semoga Ari dan Silvi semakin dekat tanpa memikirkan gengsi, padahal mereka saling suka.
            Ingin rasanya aku mengucapkan terima kasih ke Aldo, karena Aldolah aku mendapatkan sesuatu yang indah dari kak Tama, dan karena Aldolah ku temukan cinta sejatiku.

            SEKIAN

Jumat, 11 Januari 2013

Lanjutan SOL part 6

Lanjutan SOL part 6



Hatiku sangat berdebar, rasanya seperti aku ingin terjun dalam ketinggian, rasa rindu selama ini. Aldo, entah sampai kapan aku akan mencintaimu. Dan lelaki itu pun menoleh kepadaku. Rasanya aku ingin pingsan seperti halilintar menyambarku.
Dia hanya diam dan menoleh kepadaku. Aku pun juga ikutan bengong dengan bertemunya sesosok Aldo ini.keheningan ini pun melanda kami. Rasanya aku ingin memeluknya dan tak kan pernah melepaskannya walaupun hanya sedetik.
“kamu siapa?” tanya cowok itu. Aku hanya masih bisa memandangnya. Memandang dalam dalam, dia sangat mirip dengan Aldo. Sangat mirip.
            “maaf. Kamu siapa ya?” tanyanya lagi.
            “Aldo?”
            “maaf, saya Kevin. Anda salah orang.”
            “ga, ga mungkin, kamu pasti Aldo.”
            “maaf, maaf, Nita, ayoo pulang, dia bukan Aldo.” Ungkap Odi, dan menarikku dari peristiwa ini.
aku dan kedua sahabatku ini meluncur ke rumahku. Aku masih termenung, dia.... ya dia mirip sekali dengan Aldo. Sangat mirip.tapi.... Aldo kan sudah bahagia disana. Aku tau Dian dan Odi juga terkejut dengan munculnya Kevin. Tanpa berbicara kami langsung menuju gubukku itu.
“Gila!!! Loe tadi liat kan dia tadi mirip banget kayak Aldo!” ucap Dian penuh tidak percaya.
            “iya, gue masih ga percaya, kenapa bisa mirip kayak gitu coba” sahut Odi.
            Aku hanya terdiam mendengarkan mereka membicarakan Kevin. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah tiada kembali menjadi manusia?? Tapi tak ku pungkiri, aku sangat merindukannya, dengan melihat Kevin, melihat tatapan matanya aku seperti melihat Aldo yang hidup kembali.
Senjapun mulai menghilang. Odi dan Dian pulang kerumah masing masing. Dan disini aku sendiri, dengan mengingat kejadian siang tadi. Ingin rasanya aku memberi tahu kak Tama. Tapi aku tak tau dimana kak Tama berada. Kucoba menghubunginya tapi nihil.
Akupun berjalan menuju halaman rumah, menutup dan mengunci pagar rumah. Dan entah apa yang berwarna putih yang sangat menarik perhatianku, aku berjalan menuju benda itu, benda yang diletakkan dipendopo halaman rumahku, yaaa, itu mawar putih, mawar putih yang sangat ku sukai.
“siapa sih yang naruh mawar ini disini” itulah yang dibenakku saat ini, sudah tiga kali mawar putih muncul dengan misterius. Bila mawar tadi sempat diletakkan di mobil Odi, dan itu untuk Odi, kenapa sekarang muncul dirumahku lagi? Akupun kembali masuk kerumah, dan tidur. Berharap mimpi indah karena aku bertemu dengan Kevin.
Badanku sangat terasa pegal, ku coba bangun tapi tak mampu. Ku ambil hpku yang berada disebelahku, satu satunya yang menemani tidurku tadi malam. Ku coba hubungi Odi, Dian nihil. Dan ku coba menghubungi kak Tama.
“assalamualaikum, kak Tama?”
            “waalaikumsalam Nita, kenapa pagi pagi udah nelfon, maaf ya, tadi malam hpku lowbat”
            “hehehe gpp kak, gini, kak Tama aku boleh minta tolong?”
            “apa? Nita?”
            “kak bisa datang ke rumah? Aku ga bisa bangun kak.”
            “maksudnya gimana? Ya uda ya uda kak Tama langsung meluncur” belum sempat pamit hp uda dimatikan oleh kak Tama.
Kak Tama memang penyelamat jiwaku. Pangeran yang sangat baik, dan hanya kak Tama lah yang mampu membuatku nyaman, setelah Aldo yang dihatiku. Kak Tama lah yang mampu memposisikan wanita pada kehormatan yang tak bernilai.
Tiba tiba saja, aku merasa pusing yang sangat hebat. Seperti dipukul dengan besi nih kepala. Dadaku sangat sesak. Seperi orang yang akan menempuh ajalnya. Sangat tersiksa. Dan aku tak tau apa yang terjadi lagi. Aku hanya menutup kedua mataku, menunggu seseorang datang kepadaku.
Aku membuka perlahan kedua mataku. Ku temui kembali ruang serba putih. Ruang yang sangat membuatku kesepian. Kulihat keadaan yang serba membuat orang merasa seperti dikucilkan dari keramaian orang orang.
“Nita! Kamu sudah sadar?”
            “Kak Tama?”
            “bentar bentar, dokter! Dokter! Nita siuman dok!”
Dan datanglah dua orang memakai pakaian serba putih. Dengan ahli memeriksaku. Kulihat lagi rungan ini.  Ternyata aku berada di bangsal, bukan lagi diruang ICU. Itu cukup membuat hatiku lega. Tapi infus dan alat bantu pernafasan ini tak lepas dariku.
“Nita, kita sangat benar benar butuh pendonor secepatnya. Saya khawatir, akan terjadi yang kita tidak inginkan.” Kata Dokter itu.
            kak Tama hanya berdiam memandangku. Terlihat sekali dia sangat penasaran apa yang terjadi terhadapku.dan wajah kak Tama berubah menjadi sangat sedih. Wajah yang tak pernah ku temui setelah kematian Aldo.
Aku hanya menutup rapat mulutku. Aku tak berani memandang kak Tama. Aku hanya terdiam, aku ingin seseorang menyelamatkanku dari tatapan kak Tama yang sangat menerkam.
“Nita! elo gapapa kan?” kata Dian yang tiba tiba datang dengan wajah yang sangat cemas.
            “elo gimana Nit? Apa kata dokter?” tanya Odi yang juga khawatir tapi berusaha tenang.
            “kata dokter harus nemuin pendonor yang cocok dan secepatnya, kalo ga akibatnya bisa fatal. Nah sekarang siapa yang mau njelasin ke gue Nita sakit apa? Mana mungkin Cuma kecapekan kaki Nita bisa bengkak kayak gitu? Cepet!” kata kak Tama yang membuat suasana begitu tegang. Kami hanya bisa melihat satu sama lain.
            “Nita, punya penyakit gagal ginjal kak, dan itu stadium akhir” kata Odi dengan sangat takut.
            “elo! BRAK!” pukulan mengenai wajah Odi.
            “kenapa elo ga bilang sama gue? Ha? Elo pikir gue ini siapa? Gue udah dikasih amanat sama Aldo buat jagain Nita! Kalo Nita kenapa kenapa gue ga segan segan mukulin elo sampe mati. Entah elo uda gue anggap kayak adek gue ato bukan!” nada kasar kak Tama. Dian mencoba melerai, tapi hanya melihat tatapn kak Tama mereka berdua hanya tertunduk diam.
            “kak.... aku yang  suruh mereka jangan bilang ke Kak Tama. Dulu kan kak Tama lagi pergi sama Silvi, aku pikir aku bakalan hanya nyusahin kak Tama. Odi ga salah kak, Odi lah yang menjagaku kak, uda kak, jangan marah lagi.” Kataku penuh penyesalan.
Kak Tama langsung mendekapku. Mendekapku dengan erat. Dan kurasakan tetesan air matanya membahasi bahuku. Kak Tama bangun dan pergi dari ruangan ini. Entah apa yang akan dilakukannya.
Dan yang ku tahui, kak Tama langsung menghubungi kedua orang tuanya dan kedua orang tuaku, hingga dari tadi aku sibuk mengangkat telfon dari pak Baskoro, dan ayah, ibuku.
Inilah disaat saat yang tak akan terlupakan, aku mempunyai kakak dan sahabat sahabat yang sangat aku sayangi, aku sangat beruntung dikelilingi oleh orang orang yang telah menyayangiku. Aku hanya bisa melihat mereka, aku tersenyum melihat keadaanku sekarang, aku mengetahui kalo mereka selalu ada buatku dalam keadaan apapun. Tak tahan lagi untuk melihat disekelilingku, akupun menutup mataku.
Aku mendengar suara seseorang mengaji, suaranya membuat hati nyaman, dan terdengar suara tangisan yang sangat terisak isak. Dan aku merasakan tanganku sangat hangat karena digenggam oleh seseorang. Ku dengar doa doa yang menginginkanku sembuh dari sakit ini. Ingin ku membuka mataku. Tapi aku tak mampu.
Aku terus memejamkan mataku. Aku ingin melihat siapa yang ada disekelilingku. Aku bertemu dengan seseorang dalam terpejamnya mataku. Kulihat Aldo tersenyum manis, senyum yang sangat bahagia. Senyum yang begitu kurindukan.
“Nita!” panggilnya.
            “Aldo? Kamu benar Aldo?”
            “iya Nita.. kamu kuat sayang. Kenapa kamu selemah ini, aku percaya kamu bisa sembuh sayang.”
            “Aldo!!!!!” aku memeluknya. Pelukan yang mewakili rindu yang selama 2th ini melandaku.
            “aku disini uda tenang sayang, aku disini sangat bahagia, kenanglah aku, tapi jangan jadikan aku sebagai pembatas kehidupanmu sayang. Percayalah, dari awal aku bertemu denganmu, hingga ketika aku tak sealam denganmu, perasaan itu tak akan pernah hilang sayang.” Kecupan didahiku berjalan dengan lembut dan sangat mendamaikan.
            “tapi, entah bagaimana aku hidup tanpa cintamu Do. Aku tak tau aku harus bagaimana. Aku masih mencintaimu Do. Dan perasaan itu tak akan pernah hilang.”
            “Nita, dengarkan aku, tataplah kehidupanmu didepanmu sayang aku percaya kamu mampu, liatlah kamu tak sendian, Odi, Dian Kak Tama. Ayah Ibumu, dan ayah Ibuku selalu disisimu sayang. Temukan cinta yang baru sayang, bila perlu lupakan aku, kita tak kan pernah bisa menyatu. Maut telah memisahkan kita. Percayalah aku disini bahagia melihatmu bahagia. Terima kasih kamu telah mencintaiku. Mawar putih yang selalu kau hadiahkan dipemakamanku.”
            “Aldo! Aku ga mungkin melupakanmu. Kamulah hidupku Do. Biarkan aku menemanimu Do. Maafkan aku, bila dulu aku tak menyetujui kencan itu kamu tak akan seperti ini.”
            “maafkan aku, aku meninggalkanmu Nita. Ini sudah takdir bila aku pergi tanpa permisi, dan kamu harus tau, aku bahagia melihatmu bahagia, jadi, pergilah dan bangun buatlah kamu bahagia maka disitulah aku merasakan hal sama.”
            “tapi? Bagaimana caranya? Aku akan membuatmu bahagia Do. Terima kasih kamu mencintaiku hingga kapan pun.”
            “iyaaa. Sekarang pejamkan matamu. Lihatlah orang orang yang menyayangimu. Aku pergi Nita.”
Pelukan itu terlepas. Aldo menghilang, sirna sudah bayangan Aldo. Dan aku sudah janji akan membuatnya bahagia. Aldooo.. aku disini mencintaimu.
Ku buka kedua mataku. Kulihat ruangan putih ini. Mentari pagi yang cerah memasuki cela cela jendela kamarku ini. Kulihat kedua orang tuaku yang duduk disofa dengan memeluk Al-Qur’an, kulihat kak Tama menggengam tanganku, dan Odi, Dian Ari yang duduk sambil tidur mengelilingi tempat tidurku.
“kak....”panggilku sayu.
            “Nita!” teriak kak Tama yang mampu membangunkan semua orang yang ada disini.
            “Nita! Kamu baik baik aja Nak? Kenapa kamu tidak pernah bilang kalo kamu sakit Nak?” kata Ibuku.
            Aku hanya mampu tersenyum melihat mereka. Dan mereka seakan bahagia melihat senyumku ini. Entah apa yang terjadi, yang ku tahu, aku sangat beruntung terlahir didunia memiliki mereka mereka yang kucintai.
Dokter dan perawat datang. Memeriksaku berkali kali. Mulai kecemasan tampak diwajah kedua orang tuaku. Maafkan aku Ayah, Ibu, karena Nita menyusahkan kalian.
“Baiklah Nita, kamu telah melewati masa kritismu. 4hari telah kau lalui dengan tidur tak sadarkan diri. Dan selamat Nita. Ada pendonor yang akan suka rela mendonorkan ginjalnya ke kamu, bila besok kesehatanmu sudah stabil, besok kita mengadakan transplantasi ginjal” kata dokter yang mampu membuat senyum dimata orang orang yang kusayangi ini.
Entah siapa yang baik hati, yang mau mendonorkan ginjalnya. Bila bertemu, dia lah penyelamatku. Dan dialah yang mampu membuatku hidupku lebih lama lagi.
Hari ini.... akhirnya aku operasi. Diantar oleh keluarga Baskoro, ayah, ibuku, kak Tama, Dian, Odi, dan Ari. Ari, kenapa dia disini? Haha aku sangat bahagia, aku masih diberi kesempatan untuk menatap dunia.
Detik demi detik berjalan operasi yang kujalani sangatlah lancar. Aku masih berbaring ditempat tidurku. Mungkin inilah semangat dari Aldo dan doa doa dari orang orang yang kusayangi.
Ku buka mataku, kulihat semua orang tersenyum tapi aku tak melihat kak Tama dan Ari.dan aku masih penasaran siapa yang mendonorkan ginjal itu.
“nita! Selamat yaaaa” kata Dian.
Terlihat wajah bahagia di wajah Odi. Aku ingin sekali menceritakan kejadian pertemuanku dengan Aldo selama aku koma. Tapi biarlah, ketika waktu yang pas aku akan menceritakannya.
“Di, kak Tama mana?” tanyaku ke Odi
            “entah gue juga tau Nit,semenjak kamu operasi kak Tama sama Ari ga ada.”
            “ohh... Di, anterin gue dong”
            “loe gila nit? Loe baru ja operasi, elo mau pergi kemana?”
            “gue kuat Di. Gue mau kemakamnya Aldo.”
            “ya uda, ntar gue bilang dokter, sekarang elo istirahat, tapi kemakam sebentar aja. Elo masih sakit.”
            “iyaaa Di, eh Di sini deh deket sini”
            “apaan” odi mendekat. Kupeluk Odi dengan erat kulihat semua orang terkejut dan hanya Dian yang tertawa melihat tingkahku.
            “gue sayang elo DI! Elo sahabat gue” kataku sambil memeluk Odi.
Malampun tiba. Odi, Dian kembali kerumah mereka. Dan kudengar orang tua Aldo kembali ke negara kincir angin itu. Tanpa aku melihat mereka. Mereka ternyata masih peduli terhadapku.
Kulihat Ibuku, dan Ayah menemaniku, kasihan mereka harus balik ke Bandung Cuma karena aku sakit. Kasihan Ayah, dan Ibu, aku sayang mereka. Benar kata Aldo, disini banyak orang yang menyayangiku.
“buuuuu” kataku
            “kenapa Nit?”
            “ibu sama Ayah balik ke Palembang aja, Nita udah bisa ditinggal kog, maafkan Nita ya bu, ayah, Nita sudah merepotkan kalian. “
            “kamu ini bicara apa Nit? Kamu itu anak ibu dan Ayah, ayah sudah ambil cuti.”
            “oh ya buu yang donorin ginjal siapa bu? Ibu? Ayah?”
            “sebenarnya naaak, Odi, Dian Ayah dan Ibu ginjalnya tidak ada yang cocok untukmu.”
            “loh? Dian? Odi? Kalo enggak cocok aku percaya, tapi, Ayah dan Ibu?”
            “kamu sehat dulu baru ibu akan cerita sebenarnya.”
            “ibu, Nita udah sehat. Bila ibu tidak cerita sekarang, Nita akan kecewa karena Nita sudah sembuh Bu.”
            “sebenarnya Nita, bukan Anak kandung Ibu dan Ayah. Kedua orang tua Nita sudah meninggal, ibumu adalah sahabat Ibu. Sahabat Ibunya Aldo juga. Ibumu meninggal sewaktu kamu dilahirkan, dan ayahmu meninggal karena kecelakaan, dan ketika mendengar ayahmu kecelakaan ibumu pendarahan hebat setelah melahirkan kamu. Ibumu berpesan untuk merawat kamu, karena ibumu tau ibu tak bisa mempunyai anak.”
Bagai tersambar petir mendengar penjelasan Ibu. Jadi ibuku selama ini bukan ibu kandungku? Kenapa dulu aku dilahirkan? Kenapa semua kejadiaan ini terjadi. Aku hanya bisa menangis, dan ayahku masih saja menggenggam tanganku.
“kamu dirawat oleh keluarga Aldo. Setelah itu baru kami yang merawatmu nak, maafkan Ayah, ayah tak bisa menjagamu.” Kata Ayah.
            “sebenarnya, ketika Aldo meninggal, ibunya Tama sangat marah, tapi dia melihat ternyata Aldo sangat tulus menyayangimu, begitu pula kamu, kamu sangat menyayangi Aldo. Dan mengingat kamu adalah anak dari sahabat kami. Ibunya Aldo. Ikhlas”
Tangis hebatku mengalir, kenyataan yang pahit sangat pahit, padahal aku baru saja menikmati bahagia, langsung down seperti ini.
“Ayah, Ibu, Nita sayang sama kalian, walaupun kenyataannya Ayah dan Ibu bukan orang tua kandung Nita, tapi Kalianlah yang merawat Nita hingga sekarang. Nita sayang Ayah dan Ibu. Tapi makam kedua orang tua Nita dimana?”
“di Palembang Nak” jawab ayahku dan memelukku.
            “Palembang? Lalu siapa yang mendonorkan ginjal untuk Nita?” tanyaku
            “iya, setelah kamu sembuh kita kepalembang ya” kata ibuku.
            “iyaa buu. Bu, yang mendonorkan ginjalku siapa?”
            “ibu dan ayah juga ga tau Nita,”
Jawaban ayah dan ibu membuatku semakin penasaran siapa yang mendonorkan ginjal untukku? Dan aku ingin melihat seperti apa ibu dan ayahku kandung.
BERSAMBUNG..


Jumat, 04 Januari 2013

Lanjutan SOL part 5

Lanjutan SOL part 5


Odipun hanya terdiam seribu bahasa. Aku tak mengerti, aku merasa tak pernah mempunyai sakit apapun tapi kenapa, kenapa aku masih berada diruang ICU?
            “Di, kamu sahabat aku kan?” tanyaku yang terkujur lemas ditempat tidur ICU ini. Odi lagi lagi terdiam, dan Odi, hanya mengangguk tanpa bersuara.
            “Di, percayalah, aku siap mendengar apapun yang terjadi Di.”
            “Nit, aku tak percaya, bila kamu tak segera disembuhkan, aku takut kehilangan sahabatku lagi Nit.” Odi pun akhirnya berbicara.
            “Di, Aldo tak pernah menghilang dari kita Di, Aldo selalu ada disini, dihati kita Di, kamu selalu bicara padaku untuk aku harus mengikhlaskan kepergian Aldo, tapi kamu, kamu tak pernah mengikhlaskannya kan Di? Di, bila pada akhirnya aku akan menyusul Aldo, aku tak akan pernah menyesal Di, karena aku diberi kesempatan oleh Allah, aku mengenal Aldo, kamu, Dian, kak Tama, kedua orang tuaku, dan aku mengenal dunia ini, dunia yang sangat sangat menyayangiku Di” tangisku pecah, aku menangis dihadapan sahabatku Odi. Odi pun hanya memelukku, aku sangat mengetahui bagaimana perasaan Odi.
            “loe sakit gagal ginjal Nit, kalo kita ga cepet cepet nemuin transplantasi ginjal, entah apa yang akan terjadi Nit, Nit, elo mengalami stadium akhir dalam penyakit ini Nit.....” Odi menangis, dan disusul tangisku begitu terisak isak. Aku Cuma mengalami pusing, mual dan perutku perih, hanya itu. Aku tak mengerti apa yang terjadi saat ini.
            Malam ini, akupun harus tidur diruang ICU ini. Disampingku selalu ada Odi, melihat Odi yang begitu sedih dan kelelahan di raut wajahnya. Dan aku, sekarang aku sangat lemas, padahal ketika aku sadar dari pingsanku, aku merasa aku sudah baik baik saja, tapi kenapa perutku sakit sekali.
            “Di...” panggilku lirih. Aku memagang tangan Odi yang sangat dingin. Mungkin es batu pun kalah dengan tangan Odi. AC dirungan ICU ini sangatlah dingin, walaupun dirungan ini hanya aku dan Odi, ruangan ini sangat menyeramkan, begitu luas, putih dan sangat sunyi.
            “Di...” panggilku lagi.
            “iya Nit, maaf  gue ga denger.”
            “elo, pulang aja deh Di, elo juga belum makan kan Di? Kamu pucet banget Di”
            “ga, Nit, tenang aja, gue kuat, loe jangan khawatir, elo tidur lagi ya? Oh ya gue ngabarin Dian tadi, mungkin besok dia kesini Nit. Maaf gue lancang, tapi Dian kurasa dia harus tau Nit. Nit, mata elo nit, mata elo bengkak.”
            “masak sih Di? Mungkin gara gara gue nangis tadi”
            “bukan Nit, bukan bengkak sembab, bentar gue panggil dokter dulu ya Nit.”
            “gue takut Di, ntar juga sembuh sendiri.”
            “ada gue Nit, ada gue yang selalu ada dideket elo Nit,”
            Odipun pergi memanggil dokter. Ruanganku pun semakin menyeramkan. Muncul dibenakku, apakah kak Tama sedang khawatir terhadapku? Ataukah dia masih bersenang senang dengan Silvi saudara kembar Aldo. Kenapa aku begitu memikirkan kak Tama? Aneh.
            “dokter, liat Anita matanya bengkak dok” teriak Odi yang sangat cemas.
            dokterpun dengan cepat memeriksaku. Aku yang tak sanggup berbicara banyak, aku hanya memilih untuk diam.
            “bagaiman dok?” tanya Odi.
            “yah, inilah gejala gejala dalam penyakit yang saya katakan dulu Odi. Bahkan Anita sering merasakan mual, dan kekurangan darah merah. Dan bahkan pencernaannya terganggu” jelas dokter.
            Dokterpun meninggalkan kami berdua diruang serba putih ini. Aku terus menatap Odi dengan mata yang mulai sipit karena bengkak. Odi melihatku dan memelukku. Lalu dia terus memegangi tanganku dan terus menangis. Melihat Odi seperti itu, aku juga meneteskan air mata kebahagiaan karena aku memiliki sahabat seperti Odi. Odi menghapus air mataku. Dan dia terseyum dan menyuruhku istirahat.
            “Nita.......huhuhu” tiba tiba suara tangisan terdengar memanggilku. Akupun terbangun setelah mendengar tangisan itu.
            “Dian?” panggilku lirih, karena aku berbicara sedikitpun rasanya sakit sekali.
            “kamu kenapa sayang? Kenapa bisa seperti ini??”
            akupun hanya menggeleng. Dian memelukku erat, dia menangis. Aku sangat terharu, aku memiliki sahabat sahabat yang begitu indah. Kumelihat sekitar, aku tak melihat Odi yang menjagaku semalam.
            “Odi kemana?”
            “dia kuliah dan sekarang gue yang akan menjagamu, oh ya, sewaktu gue melewati rumah loe Nit, gue liat seseorang karena penasaran, gue turun dari mobil. Gue sapa dia, dia diem aja Nit, tapi gue baru liat tuh orang. Waktu gue liat dia pergi, gue juga liat mobil kak Tama Nit. Apa dia pacarnya kak Tama ya?”
            “gue tau orang itu siapa, dia cewek kan? Dia sepupunya kak Tama.”
            “iya dia cewek, gue tadinya mau ngasih tau kak Tama tentang elo, tapi kemarin gue dilarang sama Odi katanya gue jangan kasih tau kak Tama. Tapiiii.....”
            “tapi kenapa Ian?”
            “tapi waktu kerumah elo Nit, ada seseorang yang muncul tiba tiba diteras elo. Tampangnya suntuk banget dan dia mbuntutin gue hingga kesini. Tapi ini dia di toilet. Gue tadi sempet dimarahin sama Odi karena bawa dia.”
            “dia? Dia seiapa yang elo maksud Ian?”
            “ntar elo juga tau, maaf banget gue ga bermaksud ngajak dia. Orang tua elo belum tau Nit? Terus kak Tama ga ngehubungin elo sama sekali?”
            “kasihan orang tua gue, jangen pernah elo kasih tau mereka, toh bentar lagi gue bakalan sembuh. Kak Tama, ga ada sama sekali. Dian, gue kehilangan kakak gue Ian. Gue kangen kakak gue kak Tama”
            “ehm,, gue ganggu ga?” terdengar seorang cowok yang gue kenal suaranya.
            “sorry Nit, gue bawa cowok gila ini.”
            “ya Allah Ian, gue ga bakalan sembuh kalo ada dia. Elo tau sendiri kan?”
            “elooo tu ya ndut! Sakit aja masih bisa ngeluh, bersyukur kek gue kesini.”
            “apanya yang harus gue syukurin dari eloo?”
            “hahaha uda uda, nie rumah sakit kenapa jadi tengkar kayak gini? Nit, gue kedepan bentar ya”
            “elooo tega ninggalin gue sama cowok gila ini sendirian?”
            “hahaha nikmatin aja moment kalian berdua daaaaa”
            Kenapa jantung berdebar kencang ketika ada dia disampingku? Aneh, jangan bilang gue naksir sama anak gila ini deh, masak iya pengganti Aldo itu cowok super rese ini.
            Keheningan menyelimuti ruangan serba putih ini. Aku yang terbaring lemas dengan memandangi seadanya ini hanya bisa melihat cowok gila itu yang sedang bermain gitar, mungkin dia cowo paling gila, gimana pasien mau sembuh kalo yang nunggu main alat musik?
            Dia memetik senar senar itu, menciptakan nada nada indah, siapapun yang mendengar pasti akan ikut bernyanyi dengan irama yang sangat pas ditelinga. Penampilannya cukup rapi hari ini. Aku heran kenapa dia tidak kuliah? Kalo dipikir pikir dia memang lucu. Hidup tanpa beban dan menjalani hidup dengan kekonyolan yang dia buat.
            Kudengar dia pernah membuat seisi kelasnya tertawa hebat ketika bu Sarah sedang mengajar dan dia datang dengan meniru gaya pak Jodi, dan langsung mengeluarkan jurus jurus rayuan untuk bu Sarah. Dan dia pun dihukum bu Sarah karena perilakunya itu.
            Aku memilih tidur senyenyak mungkin untuk mengalihkan pandanganku ini yang sejak tadi hanya memandang cowok rese itu. Tapi pikiranku terus melayang memikirkan dia. Aneh entah apa yang kurasa saat ini.
            “halo? Kenapa Tam? Elo tumben nelfon gue kenapa?” suara cowok gila ini, membuyarkan lamunanku.
            “oh gitu? Oke, tapi gue lagi jagain karung beras emak gue,”
            “tenang Tam, terus elo kapan pulang dari Bali?”
            “okey siaaap”
            Ha? Kak Tama ke Bali ngapain? Pasti dia baru sama Silvi. Tapi kenapa ke Bali? Memang sih besok udah liburan kuliah, masak iya kak Tama mau liburan ke Bali? Tega amat gue sakit kayak gini dia ke Bali. Hadeeeh gue harus tanya nih. Tapi kenapa sumbernya harus cowok rese ini sih. Ga meyakinkan.
            “kak Tama ngapain ke Bali?” tanyaku sopan
            “dia nganter sepupunya pulang. Tadi sepupunya marah marah pingen ketemu sama elo. Dan dia kemarin kerumah elo.”
            “kerumah gue? Ngapain?”
            “mana gue tau”
            Nih orang kadang baik, kadang jutek banget. Coba aja gue sehat. Gue uda cubit tuh mulut.
            Kembali ku memandang dia. Dia pun bermain gitar lagi. Dia menyanyikan beberapa lagu. Ingin rasanya aku ikut bernyanyi dalam alunan nada yang dia mainkan. Tapi ga mungkin, secara kita seperti tom and jerry.
            “nita, gue bawain elo mawar putih nih” akhirnya sahabat gue Odi muncul dengan membawa bunga.
            “thanks Odi”
            “ups sorry gue nganggu kalian ya?”
            “ga, untung elo dateng, dari tadi karung beras ini ga mau bicara. Ga asyik, ga seru, ga kayak biasanya, gue pulang deh, besok gue balik lagi” sahut Ari seketika.
            “ga usa balik deh, elo juga ga penting juga. Mana ada pasien sakit elo maen gitar, bisa bisa tuh pasien ga sembuh sembuh” jawabku kesal
            “siapa suruh elo dengerin, udah gue cabut”
            Dia pergi, mulai menjauh dan menjauh. Mataku mengikuti arah dia pergi. Kecewa ya itu yang dibenakku. Sekarang hanya aku dan Odi yang berada di ruang putih ini.
            “udaaaah hahaha elo ini, gue sih setuju setuju aja kalo pengganti Aldo dia.”
            “idiiiih”
            “haha oh ya, tadi gue uda tanya dokter, katanya kalo mata elo uda baikan elo boleh pulang yang penting jangan kecapekan. Nah elo bisa tinggal dirumah gue atau Dian.”
            “gue tinggal dirumah gue aja Di.”
            “ ya udah, kalo elo mau dirumah elo, ntar gue bilang sama pembantu gue datang kerumah elo buat bersih bersih rumah elo.”
            “thank’s di”
            Kulihat buku biru tua bertulisan “Dina Diandra”. Buku yang sangat unik menurutku. Buku yang didekap oleh Odi ini menarik perhatianku.
            “buku apa yang lo pegang di?”
            “oh ini, ini buat Dian, ini kumpulan foto foto dia yang berhasil gue jepret diem diem hahaha”
            “yaelaaaaah uda pacaran juga kenapa harus diem diem??”
            “dia cantik tanpa dibuat buat nit, apa adanya gitu haha”
            “sok so sweet lu Di.”
            Sinar mentari menembus jendela kamar putih ini. Kupandangi seluruh kamar ini. Ternyata ada Odi dan Dian disampingku menjagaku sewaktu aku terlelap dalam tidurku. Dan kulihat disofa ada cowo rese dengan bersebelahan gitar disampingnya.
            Kenapa tuh anak bisa disini lagi?katanya kemarin dia pulang. Eh muncul lagi tuh anak. Tapi dia tidur imut banget tetep ganteng sih dengan gayanya sok cool.
            “Nita, elo uda bangun?” tanya Dian.
            “hehe iya nih, elo kapan dateng?
            “tadi malem, bareng Ari. Elo uda ditidur semalem. Gue ga tega mau bangunin elo.”
            “gue minta tolong dong beliin makanan buat mereka tuh kasihan.”
            “oke siap”
            Aku kembali memejamkan kedua mataku. Aku melihat Aldo sedang tersenyum kepadaku. Tersenyum indah sangat indah. Dia mencium mataku dengan lembut. Akankah aku akan bertemu dengan Aldo, ketika aku telah tiada?
            “heh karung beras. Elo bukannya uda bangun? Kenpa tidur lagi? Elo mau ngalahin kebo ya?”
            Sialan nih orang bangun bangun ucapin selamat pagi kek malah ngejek gue. Kulihat Odi, Dian dan cowo rese ini telah rapi dan wangi. Lalu? Aku tidur kembali berapa jam? Bukannya aku menutup kembali mataku ketika mereka masih tidur??
            “Nit, elo uda boleh pulang.” Kata Odi.
            “asyiiiiik gue pulang nih?”
            “iya sewaktu elo tidur dokter kesini liat mata elo, elonya aja tidur kayak orang mati ga bangun bangun” ejek Ari.
            “Di, Ari tau penyakit gue?” bisikku
            “ga, kan yang tau Cuma gue, elo sama Dian.”
            “okeee”
            Ketika aku beres beres untuk persiapan pulang, terdengar seseorang berlari menuju kamar ini.
            “Nita! Nita!” tiba tiba kak Tama muncul dirumah sakit ini.
            “loh kak Tama ngapain kesini?”
            “kenapa kamu ga bilang kalo kamu sakit? Tadi Ari ngabarin kakak, katanya kamu sakit” gila tuh anak! Ga bisa jaga rahasia banget sih.nyesel kalo ada dia disini.     
            ”aku gapapa kak, nih buktinya aku uda pulang.”
            “kamu sakit apa?” kak Tama memelukku.
            “Cuma kecapean doang kak” sambar Odi.
 “ayo pulang, kamu ikut ke mobil kakak aja”
            “iya kak.”
            ‘ya udah gue pulang yeeeeeee” pamit Ari
            “loe ga bareng kita Ri?” tanya kak Tama.
            “enggak, gue udah dari kemarin jagain tuh karung beras. Bosen gue.”
            “oke thanks”
            Sialan tuh anak sok cool banget idiiiiih. Seenaknya aja pulang gitarnya ditinggal terpaksa aku yang bawa. Setelah kuamati gitar itu, kulihat didalam gitar itu ada sebuah foto. foto seorang cewek yang sangat cantik.
            Sampailah aku dirumah, bersama kak Tama, Dian dan Odi. Kami mau barbaque bersama di halaman belakang. Didekat kolam renangku inilah dulu Aldo mengungkapkan perasaannya terhadapku.
            Angin malam dengan bercahaya lilin lilin kecil kami makan bersama. Hingga kami selesai, kamipun tidur. Tidur, dengan nyenyak.
            Pagi harinya, mentari menyinari indahnya dunia, ku lihat Dian yang berada disampingku masih tertidur lelap, aku keluar kamar, kulihat kak Tama dan Odi juga terlihat masih sangat menikmati mimpi indah mereka. Aku menuju dapur untuk membuat sarapan.
            Kulirik jam masih pukul 7 pagi. Aku menuju halaman depan, entah kenapa aku ingin sekali keluar menikmati cahaya pagi ini. Aku duduk dipendopo kecil dihalaman rumah, kulihat ada sekuntum mawar putih disana.
            Mawar putih yang sangat indah dan cantik, ku nikmati harumnya bunga itu. Ini masih fresh, masih baru, tapi kenapa ada disini? Siapa yang meletakkan ini? Aku menikmati pagi ini dengan bunga mawar disampingku. Dan tidak terasa aku terbuai dengan angin pagi ini, aku pun tertidur.
            “hei, nduuuut! Loe ngapain disini?” suara seseorang yang menggangguku tidur.
            “ehm.... gue ketiduran...” jawabku seadanya.
            “oh ya, Tama mana? Penting banget nih”
            “didalam, masih tidur,”
            “ya uda gue bangunin dia.”
            Ari pun masuk kedalam rumah aku pun mengikutinya dari belakang. Dia mengamati seluruh isi rumahku. Dia memang baru pertama kalinya masuk kerumahku.
            “Tam, bangun gue mau bicara”
            “apaan?”
            “udah elo ikut gue”
            Kak Tama dan Ari pergi begitu saja tanpa pamit. Entah kenapa aku merasa sangat sedih ketika mereka berdua pergi. Apa aku mulai jatuh cinta? Tapi? Aldo? Aldo baru dua tahun dia meninggalkanku, aku masih menyayanginya. Tapi aku baru menyadari aku masih membawa mawar putih ini. Siapa yang membawanya?
            Setelah Odi dan Dian bangun kami pun jalan jalan ke toko buku. Memburu buku buku yang telah membuatku tergila gila setelah membaca karya Esti kinasih.
            “bruk... haduh” tiba tiba buku buku itu jatuh.
            “eloo gpp?” tanyaku dan membantunya.
            “iyaa gue gpp. Makasih.”
            “nama loe siapa? “
            “Rani. Elo?”
            “gue Nita.”
            “Rani! Elo Sama siapa?” tanya seseorang yang dibelakangnya.
            “ini sama Nita, tadi buku buku ini jatuh dan Nita yang menolongnya.”
            “makasih ya Nita” jawab cowok dibelakangnya. Dan Rani pun pindah posisi dan aku dan cowok itu saling memandang.
            “ya Allah kenapa gue ketemu sama elo lagi sih?”
            “idiiiih gue juga ga mau ketemu sama elo kali nduuuut”
            “loh Ari kenal sama Nita? Tanya Rani terkejut.
            “gue ga kenal sama dia ayo pulang Rani, hilang mood gue”
            “loh loh tapi?” jawab Rani.
            Mereka pun keluar dari toko buku ini. Entah kenapa perasaan ini sakit sekali, kenapa sewaktu Ari berkata dia tak mengenalku, kenapa aku tak membalas? Kenapa? Lalu siapa dia siapa Rani itu, semua sekarang berada dibenakku.
            “nita, uda ketemu bukunya?” tiba tiba Odi membuyarkan lamunanku
            “iya udah, ayoo pulang, ayoo Ian”
            Kamipun menuju parkiran, kulihat mobil Odi terpasang sekuntum mawar putih. Kuambil mawar itu, lagi lagi ada mawar putih, apa yang tadi pagi itu mawar putih untuk Odi ya??
            “gila! Siapa yang menaruh ini?” kata Odi.
            “iyaaa siapa ya? Tadi padi juga ada yang meletakkan mawar putih dipendopo dihalaman rumah.” Sahutku.
            “Nit, Di, lihat deh yang turun dari mobil sedan itu” kata Dian seketika.
            “Aldo? Aldo? Itu Aldo? Aldo Di, Aldo..” jawabku.
            Akupun mendekati sedan putih itu. Mendekati seseorang yang begitu aku kenal. Tapi cowok itu memakai kacamata, dan dia masih berada disamping mobilnya, dia sendirian, apakah itu Aldo? Tapi apa mungkin? Aku melihat sendiri ketika Aldo dimakamkan. Lalu ini siapa? Kupercepat langkahku dan kalo bener bener ini Aldo, ingin sekali aku memeluknya, Aldo yang selama ini kurindukan, yang selama ini aku tunggu, yang selama ini ada didalam doa doa yang setiap kuucapkan.
            “Aldo?” sapa ku, menyentuh bahu cowok itu. Dan dia menoleh kepadaku.
            BERSAMBUNG.....