Lanjutan SOL part 5
Odipun hanya
terdiam seribu bahasa. Aku tak mengerti, aku merasa tak pernah mempunyai sakit
apapun tapi kenapa, kenapa aku masih berada diruang ICU?
“Di, kamu sahabat aku kan?” tanyaku
yang terkujur lemas ditempat tidur ICU ini. Odi lagi lagi terdiam, dan Odi,
hanya mengangguk tanpa bersuara.
“Di,
percayalah, aku siap mendengar apapun yang terjadi Di.”
“Nit,
aku tak percaya, bila kamu tak segera disembuhkan, aku takut kehilangan
sahabatku lagi Nit.” Odi pun akhirnya berbicara.
“Di,
Aldo tak pernah menghilang dari kita Di, Aldo selalu ada disini, dihati kita
Di, kamu selalu bicara padaku untuk aku harus mengikhlaskan kepergian Aldo,
tapi kamu, kamu tak pernah mengikhlaskannya kan Di? Di, bila pada akhirnya aku
akan menyusul Aldo, aku tak akan pernah menyesal Di, karena aku diberi
kesempatan oleh Allah, aku mengenal Aldo, kamu, Dian, kak Tama, kedua orang
tuaku, dan aku mengenal dunia ini, dunia yang sangat sangat menyayangiku Di”
tangisku pecah, aku menangis dihadapan sahabatku Odi. Odi pun hanya memelukku,
aku sangat mengetahui bagaimana perasaan Odi.
“loe
sakit gagal ginjal Nit, kalo kita ga cepet cepet nemuin transplantasi ginjal,
entah apa yang akan terjadi Nit, Nit, elo mengalami stadium akhir dalam
penyakit ini Nit.....” Odi menangis, dan disusul tangisku begitu terisak isak.
Aku Cuma mengalami pusing, mual dan perutku perih, hanya itu. Aku tak mengerti
apa yang terjadi saat ini.
Malam ini, akupun harus tidur
diruang ICU ini. Disampingku selalu ada Odi, melihat Odi yang begitu sedih dan
kelelahan di raut wajahnya. Dan aku, sekarang aku sangat lemas, padahal ketika
aku sadar dari pingsanku, aku merasa aku sudah baik baik saja, tapi kenapa
perutku sakit sekali.
“Di...” panggilku lirih. Aku
memagang tangan Odi yang sangat dingin. Mungkin es batu pun kalah dengan tangan
Odi. AC dirungan ICU ini sangatlah dingin, walaupun dirungan ini hanya aku dan
Odi, ruangan ini sangat menyeramkan, begitu luas, putih dan sangat sunyi.
“Di...” panggilku lagi.
“iya
Nit, maaf gue ga denger.”
“elo,
pulang aja deh Di, elo juga belum makan kan Di? Kamu pucet banget Di”
“ga,
Nit, tenang aja, gue kuat, loe jangan khawatir, elo tidur lagi ya? Oh ya gue
ngabarin Dian tadi, mungkin besok dia kesini Nit. Maaf gue lancang, tapi Dian
kurasa dia harus tau Nit. Nit, mata elo nit, mata elo bengkak.”
“masak
sih Di? Mungkin gara gara gue nangis tadi”
“bukan
Nit, bukan bengkak sembab, bentar gue panggil dokter dulu ya Nit.”
“gue
takut Di, ntar juga sembuh sendiri.”
“ada
gue Nit, ada gue yang selalu ada dideket elo Nit,”
Odipun pergi memanggil dokter. Ruanganku
pun semakin menyeramkan. Muncul dibenakku, apakah kak Tama sedang khawatir
terhadapku? Ataukah dia masih bersenang senang dengan Silvi saudara kembar
Aldo. Kenapa aku begitu memikirkan kak Tama? Aneh.
“dokter, liat Anita matanya bengkak
dok” teriak Odi yang sangat cemas.
dokterpun
dengan cepat memeriksaku. Aku yang tak sanggup berbicara banyak, aku hanya
memilih untuk diam.
“bagaiman
dok?” tanya Odi.
“yah,
inilah gejala gejala dalam penyakit yang saya katakan dulu Odi. Bahkan Anita
sering merasakan mual, dan kekurangan darah merah. Dan bahkan pencernaannya
terganggu” jelas dokter.
Dokterpun meninggalkan kami berdua
diruang serba putih ini. Aku terus menatap Odi dengan mata yang mulai sipit karena
bengkak. Odi melihatku dan memelukku. Lalu dia terus memegangi tanganku dan
terus menangis. Melihat Odi seperti itu, aku juga meneteskan air mata
kebahagiaan karena aku memiliki sahabat seperti Odi. Odi menghapus air mataku.
Dan dia terseyum dan menyuruhku istirahat.
“Nita.......huhuhu” tiba tiba suara
tangisan terdengar memanggilku. Akupun terbangun setelah mendengar tangisan
itu.
“Dian?” panggilku lirih, karena aku
berbicara sedikitpun rasanya sakit sekali.
“kamu
kenapa sayang? Kenapa bisa seperti ini??”
akupun
hanya menggeleng. Dian memelukku erat, dia menangis. Aku sangat terharu, aku
memiliki sahabat sahabat yang begitu indah. Kumelihat sekitar, aku tak melihat
Odi yang menjagaku semalam.
“Odi
kemana?”
“dia
kuliah dan sekarang gue yang akan menjagamu, oh ya, sewaktu gue melewati rumah
loe Nit, gue liat seseorang karena penasaran, gue turun dari mobil. Gue sapa
dia, dia diem aja Nit, tapi gue baru liat tuh orang. Waktu gue liat dia pergi,
gue juga liat mobil kak Tama Nit. Apa dia pacarnya kak Tama ya?”
“gue tau orang itu siapa, dia
cewek kan? Dia sepupunya kak Tama.”
“iya
dia cewek, gue tadinya mau ngasih tau kak Tama tentang elo, tapi kemarin gue
dilarang sama Odi katanya gue jangan kasih tau kak Tama. Tapiiii.....”
“tapi
kenapa Ian?”
“tapi
waktu kerumah elo Nit, ada seseorang yang muncul tiba tiba diteras elo.
Tampangnya suntuk banget dan dia mbuntutin gue hingga kesini. Tapi ini dia di
toilet. Gue tadi sempet dimarahin sama Odi karena bawa dia.”
“dia?
Dia seiapa yang elo maksud Ian?”
“ntar
elo juga tau, maaf banget gue ga bermaksud ngajak dia. Orang tua elo belum tau
Nit? Terus kak Tama ga ngehubungin elo sama sekali?”
“kasihan
orang tua gue, jangen pernah elo kasih tau mereka, toh bentar lagi gue bakalan
sembuh. Kak Tama, ga ada sama sekali. Dian, gue kehilangan kakak gue Ian. Gue
kangen kakak gue kak Tama”
“ehm,,
gue ganggu ga?” terdengar seorang cowok yang gue kenal suaranya.
“sorry
Nit, gue bawa cowok gila ini.”
“ya Allah Ian, gue ga bakalan
sembuh kalo ada dia. Elo tau sendiri kan?”
“elooo
tu ya ndut! Sakit aja masih bisa ngeluh, bersyukur kek gue kesini.”
“apanya
yang harus gue syukurin dari eloo?”
“hahaha
uda uda, nie rumah sakit kenapa jadi tengkar kayak gini? Nit, gue kedepan
bentar ya”
“elooo
tega ninggalin gue sama cowok gila ini sendirian?”
“hahaha nikmatin aja moment
kalian berdua daaaaa”
Kenapa jantung berdebar kencang
ketika ada dia disampingku? Aneh, jangan bilang gue naksir sama anak gila ini
deh, masak iya pengganti Aldo itu cowok super rese ini.
Keheningan menyelimuti ruangan serba
putih ini. Aku yang terbaring lemas dengan memandangi seadanya ini hanya bisa
melihat cowok gila itu yang sedang bermain gitar, mungkin dia cowo paling gila,
gimana pasien mau sembuh kalo yang nunggu main alat musik?
Dia memetik senar senar itu,
menciptakan nada nada indah, siapapun yang mendengar pasti akan ikut bernyanyi
dengan irama yang sangat pas ditelinga. Penampilannya cukup rapi hari ini. Aku
heran kenapa dia tidak kuliah? Kalo dipikir pikir dia memang lucu. Hidup tanpa
beban dan menjalani hidup dengan kekonyolan yang dia buat.
Kudengar dia pernah membuat seisi
kelasnya tertawa hebat ketika bu Sarah sedang mengajar dan dia datang dengan
meniru gaya pak Jodi, dan langsung mengeluarkan jurus jurus rayuan untuk bu
Sarah. Dan dia pun dihukum bu Sarah karena perilakunya itu.
Aku memilih tidur senyenyak mungkin
untuk mengalihkan pandanganku ini yang sejak tadi hanya memandang cowok rese
itu. Tapi pikiranku terus melayang memikirkan dia. Aneh entah apa yang kurasa
saat ini.
“halo? Kenapa Tam? Elo tumben nelfon
gue kenapa?” suara cowok gila ini, membuyarkan lamunanku.
“oh
gitu? Oke, tapi gue lagi jagain karung beras emak gue,”
“tenang
Tam, terus elo kapan pulang dari Bali?”
“okey
siaaap”
Ha? Kak Tama ke Bali ngapain? Pasti
dia baru sama Silvi. Tapi kenapa ke Bali? Memang sih besok udah liburan kuliah,
masak iya kak Tama mau liburan ke Bali? Tega amat gue sakit kayak gini dia ke
Bali. Hadeeeh gue harus tanya nih. Tapi kenapa sumbernya harus cowok rese ini sih.
Ga meyakinkan.
“kak Tama ngapain ke Bali?” tanyaku
sopan
“dia nganter sepupunya pulang.
Tadi sepupunya marah marah pingen ketemu sama elo. Dan dia kemarin kerumah
elo.”
“kerumah
gue? Ngapain?”
“mana
gue tau”
Nih orang kadang baik, kadang jutek
banget. Coba aja gue sehat. Gue uda cubit tuh mulut.
Kembali ku memandang dia. Dia pun
bermain gitar lagi. Dia menyanyikan beberapa lagu. Ingin rasanya aku ikut
bernyanyi dalam alunan nada yang dia mainkan. Tapi ga mungkin, secara kita
seperti tom and jerry.
“nita, gue bawain elo mawar putih
nih” akhirnya sahabat gue Odi muncul dengan membawa bunga.
“thanks
Odi”
“ups
sorry gue nganggu kalian ya?”
“ga,
untung elo dateng, dari tadi karung beras ini ga mau bicara. Ga asyik, ga seru,
ga kayak biasanya, gue pulang deh, besok gue balik lagi” sahut Ari seketika.
“ga
usa balik deh, elo juga ga penting juga. Mana ada pasien sakit elo maen gitar,
bisa bisa tuh pasien ga sembuh sembuh” jawabku kesal
“siapa
suruh elo dengerin, udah gue cabut”
Dia pergi, mulai menjauh dan
menjauh. Mataku mengikuti arah dia pergi. Kecewa ya itu yang dibenakku. Sekarang
hanya aku dan Odi yang berada di ruang putih ini.
“udaaaah
hahaha elo ini, gue sih setuju setuju aja kalo pengganti Aldo dia.”
“idiiiih”
“haha
oh ya, tadi gue uda tanya dokter, katanya kalo mata elo uda baikan elo boleh
pulang yang penting jangan kecapekan. Nah elo bisa tinggal dirumah gue atau
Dian.”
“gue
tinggal dirumah gue aja Di.”
“
ya udah, kalo elo mau dirumah elo, ntar gue bilang sama pembantu gue datang
kerumah elo buat bersih bersih rumah elo.”
“thank’s
di”
Kulihat buku biru tua bertulisan
“Dina Diandra”. Buku yang sangat unik menurutku. Buku yang didekap oleh Odi ini
menarik perhatianku.
“buku
apa yang lo pegang di?”
“oh
ini, ini buat Dian, ini kumpulan foto foto dia yang berhasil gue jepret diem
diem hahaha”
“yaelaaaaah
uda pacaran juga kenapa harus diem diem??”
“dia
cantik tanpa dibuat buat nit, apa adanya gitu haha”
“sok
so sweet lu Di.”
Sinar mentari menembus jendela kamar
putih ini. Kupandangi seluruh kamar ini. Ternyata ada Odi dan Dian disampingku
menjagaku sewaktu aku terlelap dalam tidurku. Dan kulihat disofa ada cowo rese
dengan bersebelahan gitar disampingnya.
Kenapa tuh anak bisa disini
lagi?katanya kemarin dia pulang. Eh muncul lagi tuh anak. Tapi dia tidur imut
banget tetep ganteng sih dengan gayanya sok cool.
“Nita, elo uda bangun?” tanya Dian.
“hehe
iya nih, elo kapan dateng?
“tadi
malem, bareng Ari. Elo uda ditidur semalem. Gue ga tega mau bangunin elo.”
“gue
minta tolong dong beliin makanan buat mereka tuh kasihan.”
“oke
siap”
Aku kembali memejamkan kedua mataku.
Aku melihat Aldo sedang tersenyum kepadaku. Tersenyum indah sangat indah. Dia
mencium mataku dengan lembut. Akankah aku akan bertemu dengan Aldo, ketika aku
telah tiada?
“heh
karung beras. Elo bukannya uda bangun? Kenpa tidur lagi? Elo mau ngalahin kebo
ya?”
Sialan nih orang bangun bangun
ucapin selamat pagi kek malah ngejek gue. Kulihat Odi, Dian dan cowo rese ini
telah rapi dan wangi. Lalu? Aku tidur kembali berapa jam? Bukannya aku menutup
kembali mataku ketika mereka masih tidur??
“Nit, elo uda boleh pulang.” Kata
Odi.
“asyiiiiik
gue pulang nih?”
“iya
sewaktu elo tidur dokter kesini liat mata elo, elonya aja tidur kayak orang
mati ga bangun bangun” ejek Ari.
“Di, Ari tau penyakit gue?” bisikku
“ga,
kan yang tau Cuma gue, elo sama Dian.”
“okeee”
Ketika aku beres beres untuk
persiapan pulang, terdengar seseorang berlari menuju kamar ini.
“Nita!
Nita!” tiba tiba kak Tama muncul dirumah sakit ini.
“loh
kak Tama ngapain kesini?”
“kenapa
kamu ga bilang kalo kamu sakit? Tadi Ari ngabarin kakak, katanya kamu sakit”
gila tuh anak! Ga bisa jaga rahasia banget sih.nyesel kalo ada dia disini.
”aku
gapapa kak, nih buktinya aku uda pulang.”
“kamu
sakit apa?” kak Tama memelukku.
“Cuma
kecapean doang kak” sambar Odi.
“ayo pulang, kamu ikut ke mobil kakak
aja”
“iya
kak.”
‘ya
udah gue pulang yeeeeeee” pamit Ari
“loe
ga bareng kita Ri?” tanya kak Tama.
“enggak,
gue udah dari kemarin jagain tuh karung beras. Bosen gue.”
“oke
thanks”
Sialan tuh anak sok cool banget
idiiiiih. Seenaknya aja pulang gitarnya ditinggal terpaksa aku yang bawa.
Setelah kuamati gitar itu, kulihat didalam gitar itu ada sebuah foto. foto
seorang cewek yang sangat cantik.
Sampailah aku dirumah, bersama kak
Tama, Dian dan Odi. Kami mau barbaque bersama di halaman belakang. Didekat
kolam renangku inilah dulu Aldo mengungkapkan perasaannya terhadapku.
Angin malam dengan bercahaya lilin
lilin kecil kami makan bersama. Hingga kami selesai, kamipun tidur. Tidur,
dengan nyenyak.
Pagi harinya, mentari menyinari
indahnya dunia, ku lihat Dian yang berada disampingku masih tertidur lelap, aku
keluar kamar, kulihat kak Tama dan Odi juga terlihat masih sangat menikmati
mimpi indah mereka. Aku menuju dapur untuk membuat sarapan.
Kulirik jam masih pukul 7 pagi. Aku menuju
halaman depan, entah kenapa aku ingin sekali keluar menikmati cahaya pagi ini. Aku
duduk dipendopo kecil dihalaman rumah, kulihat ada sekuntum mawar putih disana.
Mawar
putih yang sangat indah dan cantik, ku nikmati harumnya bunga itu. Ini masih
fresh, masih baru, tapi kenapa ada disini? Siapa yang meletakkan ini? Aku menikmati
pagi ini dengan bunga mawar disampingku. Dan tidak terasa aku terbuai dengan
angin pagi ini, aku pun tertidur.
“hei, nduuuut! Loe ngapain disini?”
suara seseorang yang menggangguku tidur.
“ehm....
gue ketiduran...” jawabku seadanya.
“oh
ya, Tama mana? Penting banget nih”
“didalam,
masih tidur,”
“ya
uda gue bangunin dia.”
Ari
pun masuk kedalam rumah aku pun mengikutinya dari belakang. Dia mengamati
seluruh isi rumahku. Dia memang baru pertama kalinya masuk kerumahku.
“Tam,
bangun gue mau bicara”
“apaan?”
“udah
elo ikut gue”
Kak Tama dan Ari pergi begitu saja
tanpa pamit. Entah kenapa aku merasa sangat sedih ketika mereka berdua pergi. Apa
aku mulai jatuh cinta? Tapi? Aldo? Aldo baru dua tahun dia meninggalkanku, aku
masih menyayanginya. Tapi aku baru menyadari aku masih membawa mawar putih ini.
Siapa yang membawanya?
Setelah Odi dan Dian bangun kami pun
jalan jalan ke toko buku. Memburu buku buku yang telah membuatku tergila gila
setelah membaca karya Esti kinasih.
“bruk...
haduh” tiba tiba buku buku itu jatuh.
“eloo
gpp?” tanyaku dan membantunya.
“iyaa
gue gpp. Makasih.”
“nama
loe siapa? “
“Rani.
Elo?”
“gue
Nita.”
“Rani!
Elo Sama siapa?” tanya seseorang yang dibelakangnya.
“ini
sama Nita, tadi buku buku ini jatuh dan Nita yang menolongnya.”
“makasih
ya Nita” jawab cowok dibelakangnya. Dan Rani pun pindah posisi dan aku dan
cowok itu saling memandang.
“ya
Allah kenapa gue ketemu sama elo lagi sih?”
“idiiiih
gue juga ga mau ketemu sama elo kali nduuuut”
“loh
Ari kenal sama Nita? Tanya Rani terkejut.
“gue
ga kenal sama dia ayo pulang Rani, hilang mood gue”
“loh
loh tapi?” jawab Rani.
Mereka pun keluar dari toko buku
ini. Entah kenapa perasaan ini sakit sekali, kenapa sewaktu Ari berkata dia tak
mengenalku, kenapa aku tak membalas? Kenapa? Lalu siapa dia siapa Rani itu,
semua sekarang berada dibenakku.
“nita,
uda ketemu bukunya?” tiba tiba Odi membuyarkan lamunanku
“iya
udah, ayoo pulang, ayoo Ian”
Kamipun menuju parkiran, kulihat
mobil Odi terpasang sekuntum mawar putih. Kuambil mawar itu, lagi lagi ada
mawar putih, apa yang tadi pagi itu mawar putih untuk Odi ya??
“gila!
Siapa yang menaruh ini?” kata Odi.
“iyaaa
siapa ya? Tadi padi juga ada yang meletakkan mawar putih dipendopo dihalaman
rumah.” Sahutku.
“Nit,
Di, lihat deh yang turun dari mobil sedan itu” kata Dian seketika.
“Aldo?
Aldo? Itu Aldo? Aldo Di, Aldo..” jawabku.
Akupun mendekati sedan putih itu. Mendekati
seseorang yang begitu aku kenal. Tapi cowok itu memakai kacamata, dan dia masih
berada disamping mobilnya, dia sendirian, apakah itu Aldo? Tapi apa mungkin? Aku
melihat sendiri ketika Aldo dimakamkan. Lalu ini siapa? Kupercepat langkahku
dan kalo bener bener ini Aldo, ingin sekali aku memeluknya, Aldo yang selama
ini kurindukan, yang selama ini aku tunggu, yang selama ini ada didalam doa doa
yang setiap kuucapkan.
“Aldo?” sapa ku, menyentuh bahu
cowok itu. Dan dia menoleh kepadaku.
BERSAMBUNG.....