Kamis, 20 September 2018

DIA -part 1-


Angin malam yang dingin berhembus membuat tubuhku merasakan dingin yng menusuk hingga ketulang rusukku. Aku bertemu dengan seseorang yang sedang duduk terdiam dengan wajah yang sangat penuh beban. Aku hanya melewatinya, tetapi tiba tiba dia mendekatiku, penuh ketakutan, aku memberanikan diri untuk mendekatinya. “Hai!” Katanya pelan.  Ku miringkan kepalaku, mungkin dia paham bahwa aku sekarang sedang bingung dengan apa yang aku hadapi. “Disana rumahnya Gendis bukan?” Tanyanya sambil menunjuk rumah mewah berwarna putih. “Iya, disana rumah Gendis. Kamu siapa?” Tanyaku. Kebetulan Gendis adalah salah satu temanku yang cukup terkenal disekolah. Dia sangat baik kepada siapapun, keluarganya pun juga sangat menyayangi anak semata wayang mereka, dia sangat cantik, Rambut panjang warna hitamnya dan senyuman khas yang selalu ceria membuat pesona Gendis selalu disenangi banyak orang. “Oh.. Benar, ternyata disana rumah Gendis”  gumamnya.  Kuberanikan bertanya lagi padanya, bukan bingung lagi yang kurasakan, bahkan aku sangat mencurigai seorang pria yang menurutku cukup tampan, dengan jaket kulitnya yang membuat dia semakin gantle, dan motor sport hitamnya yang membuat dia terlihat bukan pria biasa. Dia hanya melihatku, kemudian menyalakan motor sport hitamnya dan meninggalkanku. “Aneh!” hanya itu yang aku katakan ke pria tersebut. Kulanjutkan perjalananku menembus angin malam dengan jalan santai menuju rumahku yang tak jauh dari rumah Gendis.
“Elis! Darimana kamu jam segini baru pulang? Ini jam berapa? Udah ga mau tidur dirumah? Ga usah balik sekalian sanah!!!” Teriak seorang perempuan dengan pakaian khas ibu rumah tangga yaitu daster lengkap dengan celemek yang dipakainya, menandakan beliau sedang memasak. Ya, itu adalah seseorang yang sangat aku sangangi yaitu Ibuku. “ Assalamualaikum bu, Elis pulang, malah dimarahin” jawabku singkat. “lah anak perempuan jam berapa ini kamu belum pulang Ha?” teriaknya lagi. “Aku tadi habis praktikum terus rapat dikampus mah, Elis capek, lapar belum makan nih bu” Jawabku dan langsung menuju meja makan yang berada sebelahan dengan dapur, ku buka tudung saji, dan taraaaa!! Ibuku memasak makanan kesukaanku, sayur lodeh lengkap dengan ikan asin dan sambal yang pedas buatan ibuku. Kuambil piring dan segera aku duduk dikursi. “Elis, mandi dulu sanah! Biar seger terus baru makan, taruh dulu tasmu dikamar sanah, huuum baumu itu ga enak, udah sanah! Mandi!” Kata Ibu sambil mengendus aroma tubuhku yang penuh keringat karena praktikum dan kegiatan kampus, gimana ga bau, aku mandi jam 7 tadi sekarang aku dirumah jam 7 malam gimana ibuku tidak mengomel ngomel hahaha.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar