Jumat, 11 Januari 2013

Lanjutan SOL part 6

Lanjutan SOL part 6



Hatiku sangat berdebar, rasanya seperti aku ingin terjun dalam ketinggian, rasa rindu selama ini. Aldo, entah sampai kapan aku akan mencintaimu. Dan lelaki itu pun menoleh kepadaku. Rasanya aku ingin pingsan seperti halilintar menyambarku.
Dia hanya diam dan menoleh kepadaku. Aku pun juga ikutan bengong dengan bertemunya sesosok Aldo ini.keheningan ini pun melanda kami. Rasanya aku ingin memeluknya dan tak kan pernah melepaskannya walaupun hanya sedetik.
“kamu siapa?” tanya cowok itu. Aku hanya masih bisa memandangnya. Memandang dalam dalam, dia sangat mirip dengan Aldo. Sangat mirip.
            “maaf. Kamu siapa ya?” tanyanya lagi.
            “Aldo?”
            “maaf, saya Kevin. Anda salah orang.”
            “ga, ga mungkin, kamu pasti Aldo.”
            “maaf, maaf, Nita, ayoo pulang, dia bukan Aldo.” Ungkap Odi, dan menarikku dari peristiwa ini.
aku dan kedua sahabatku ini meluncur ke rumahku. Aku masih termenung, dia.... ya dia mirip sekali dengan Aldo. Sangat mirip.tapi.... Aldo kan sudah bahagia disana. Aku tau Dian dan Odi juga terkejut dengan munculnya Kevin. Tanpa berbicara kami langsung menuju gubukku itu.
“Gila!!! Loe tadi liat kan dia tadi mirip banget kayak Aldo!” ucap Dian penuh tidak percaya.
            “iya, gue masih ga percaya, kenapa bisa mirip kayak gitu coba” sahut Odi.
            Aku hanya terdiam mendengarkan mereka membicarakan Kevin. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah tiada kembali menjadi manusia?? Tapi tak ku pungkiri, aku sangat merindukannya, dengan melihat Kevin, melihat tatapan matanya aku seperti melihat Aldo yang hidup kembali.
Senjapun mulai menghilang. Odi dan Dian pulang kerumah masing masing. Dan disini aku sendiri, dengan mengingat kejadian siang tadi. Ingin rasanya aku memberi tahu kak Tama. Tapi aku tak tau dimana kak Tama berada. Kucoba menghubunginya tapi nihil.
Akupun berjalan menuju halaman rumah, menutup dan mengunci pagar rumah. Dan entah apa yang berwarna putih yang sangat menarik perhatianku, aku berjalan menuju benda itu, benda yang diletakkan dipendopo halaman rumahku, yaaa, itu mawar putih, mawar putih yang sangat ku sukai.
“siapa sih yang naruh mawar ini disini” itulah yang dibenakku saat ini, sudah tiga kali mawar putih muncul dengan misterius. Bila mawar tadi sempat diletakkan di mobil Odi, dan itu untuk Odi, kenapa sekarang muncul dirumahku lagi? Akupun kembali masuk kerumah, dan tidur. Berharap mimpi indah karena aku bertemu dengan Kevin.
Badanku sangat terasa pegal, ku coba bangun tapi tak mampu. Ku ambil hpku yang berada disebelahku, satu satunya yang menemani tidurku tadi malam. Ku coba hubungi Odi, Dian nihil. Dan ku coba menghubungi kak Tama.
“assalamualaikum, kak Tama?”
            “waalaikumsalam Nita, kenapa pagi pagi udah nelfon, maaf ya, tadi malam hpku lowbat”
            “hehehe gpp kak, gini, kak Tama aku boleh minta tolong?”
            “apa? Nita?”
            “kak bisa datang ke rumah? Aku ga bisa bangun kak.”
            “maksudnya gimana? Ya uda ya uda kak Tama langsung meluncur” belum sempat pamit hp uda dimatikan oleh kak Tama.
Kak Tama memang penyelamat jiwaku. Pangeran yang sangat baik, dan hanya kak Tama lah yang mampu membuatku nyaman, setelah Aldo yang dihatiku. Kak Tama lah yang mampu memposisikan wanita pada kehormatan yang tak bernilai.
Tiba tiba saja, aku merasa pusing yang sangat hebat. Seperti dipukul dengan besi nih kepala. Dadaku sangat sesak. Seperi orang yang akan menempuh ajalnya. Sangat tersiksa. Dan aku tak tau apa yang terjadi lagi. Aku hanya menutup kedua mataku, menunggu seseorang datang kepadaku.
Aku membuka perlahan kedua mataku. Ku temui kembali ruang serba putih. Ruang yang sangat membuatku kesepian. Kulihat keadaan yang serba membuat orang merasa seperti dikucilkan dari keramaian orang orang.
“Nita! Kamu sudah sadar?”
            “Kak Tama?”
            “bentar bentar, dokter! Dokter! Nita siuman dok!”
Dan datanglah dua orang memakai pakaian serba putih. Dengan ahli memeriksaku. Kulihat lagi rungan ini.  Ternyata aku berada di bangsal, bukan lagi diruang ICU. Itu cukup membuat hatiku lega. Tapi infus dan alat bantu pernafasan ini tak lepas dariku.
“Nita, kita sangat benar benar butuh pendonor secepatnya. Saya khawatir, akan terjadi yang kita tidak inginkan.” Kata Dokter itu.
            kak Tama hanya berdiam memandangku. Terlihat sekali dia sangat penasaran apa yang terjadi terhadapku.dan wajah kak Tama berubah menjadi sangat sedih. Wajah yang tak pernah ku temui setelah kematian Aldo.
Aku hanya menutup rapat mulutku. Aku tak berani memandang kak Tama. Aku hanya terdiam, aku ingin seseorang menyelamatkanku dari tatapan kak Tama yang sangat menerkam.
“Nita! elo gapapa kan?” kata Dian yang tiba tiba datang dengan wajah yang sangat cemas.
            “elo gimana Nit? Apa kata dokter?” tanya Odi yang juga khawatir tapi berusaha tenang.
            “kata dokter harus nemuin pendonor yang cocok dan secepatnya, kalo ga akibatnya bisa fatal. Nah sekarang siapa yang mau njelasin ke gue Nita sakit apa? Mana mungkin Cuma kecapekan kaki Nita bisa bengkak kayak gitu? Cepet!” kata kak Tama yang membuat suasana begitu tegang. Kami hanya bisa melihat satu sama lain.
            “Nita, punya penyakit gagal ginjal kak, dan itu stadium akhir” kata Odi dengan sangat takut.
            “elo! BRAK!” pukulan mengenai wajah Odi.
            “kenapa elo ga bilang sama gue? Ha? Elo pikir gue ini siapa? Gue udah dikasih amanat sama Aldo buat jagain Nita! Kalo Nita kenapa kenapa gue ga segan segan mukulin elo sampe mati. Entah elo uda gue anggap kayak adek gue ato bukan!” nada kasar kak Tama. Dian mencoba melerai, tapi hanya melihat tatapn kak Tama mereka berdua hanya tertunduk diam.
            “kak.... aku yang  suruh mereka jangan bilang ke Kak Tama. Dulu kan kak Tama lagi pergi sama Silvi, aku pikir aku bakalan hanya nyusahin kak Tama. Odi ga salah kak, Odi lah yang menjagaku kak, uda kak, jangan marah lagi.” Kataku penuh penyesalan.
Kak Tama langsung mendekapku. Mendekapku dengan erat. Dan kurasakan tetesan air matanya membahasi bahuku. Kak Tama bangun dan pergi dari ruangan ini. Entah apa yang akan dilakukannya.
Dan yang ku tahui, kak Tama langsung menghubungi kedua orang tuanya dan kedua orang tuaku, hingga dari tadi aku sibuk mengangkat telfon dari pak Baskoro, dan ayah, ibuku.
Inilah disaat saat yang tak akan terlupakan, aku mempunyai kakak dan sahabat sahabat yang sangat aku sayangi, aku sangat beruntung dikelilingi oleh orang orang yang telah menyayangiku. Aku hanya bisa melihat mereka, aku tersenyum melihat keadaanku sekarang, aku mengetahui kalo mereka selalu ada buatku dalam keadaan apapun. Tak tahan lagi untuk melihat disekelilingku, akupun menutup mataku.
Aku mendengar suara seseorang mengaji, suaranya membuat hati nyaman, dan terdengar suara tangisan yang sangat terisak isak. Dan aku merasakan tanganku sangat hangat karena digenggam oleh seseorang. Ku dengar doa doa yang menginginkanku sembuh dari sakit ini. Ingin ku membuka mataku. Tapi aku tak mampu.
Aku terus memejamkan mataku. Aku ingin melihat siapa yang ada disekelilingku. Aku bertemu dengan seseorang dalam terpejamnya mataku. Kulihat Aldo tersenyum manis, senyum yang sangat bahagia. Senyum yang begitu kurindukan.
“Nita!” panggilnya.
            “Aldo? Kamu benar Aldo?”
            “iya Nita.. kamu kuat sayang. Kenapa kamu selemah ini, aku percaya kamu bisa sembuh sayang.”
            “Aldo!!!!!” aku memeluknya. Pelukan yang mewakili rindu yang selama 2th ini melandaku.
            “aku disini uda tenang sayang, aku disini sangat bahagia, kenanglah aku, tapi jangan jadikan aku sebagai pembatas kehidupanmu sayang. Percayalah, dari awal aku bertemu denganmu, hingga ketika aku tak sealam denganmu, perasaan itu tak akan pernah hilang sayang.” Kecupan didahiku berjalan dengan lembut dan sangat mendamaikan.
            “tapi, entah bagaimana aku hidup tanpa cintamu Do. Aku tak tau aku harus bagaimana. Aku masih mencintaimu Do. Dan perasaan itu tak akan pernah hilang.”
            “Nita, dengarkan aku, tataplah kehidupanmu didepanmu sayang aku percaya kamu mampu, liatlah kamu tak sendian, Odi, Dian Kak Tama. Ayah Ibumu, dan ayah Ibuku selalu disisimu sayang. Temukan cinta yang baru sayang, bila perlu lupakan aku, kita tak kan pernah bisa menyatu. Maut telah memisahkan kita. Percayalah aku disini bahagia melihatmu bahagia. Terima kasih kamu telah mencintaiku. Mawar putih yang selalu kau hadiahkan dipemakamanku.”
            “Aldo! Aku ga mungkin melupakanmu. Kamulah hidupku Do. Biarkan aku menemanimu Do. Maafkan aku, bila dulu aku tak menyetujui kencan itu kamu tak akan seperti ini.”
            “maafkan aku, aku meninggalkanmu Nita. Ini sudah takdir bila aku pergi tanpa permisi, dan kamu harus tau, aku bahagia melihatmu bahagia, jadi, pergilah dan bangun buatlah kamu bahagia maka disitulah aku merasakan hal sama.”
            “tapi? Bagaimana caranya? Aku akan membuatmu bahagia Do. Terima kasih kamu mencintaiku hingga kapan pun.”
            “iyaaa. Sekarang pejamkan matamu. Lihatlah orang orang yang menyayangimu. Aku pergi Nita.”
Pelukan itu terlepas. Aldo menghilang, sirna sudah bayangan Aldo. Dan aku sudah janji akan membuatnya bahagia. Aldooo.. aku disini mencintaimu.
Ku buka kedua mataku. Kulihat ruangan putih ini. Mentari pagi yang cerah memasuki cela cela jendela kamarku ini. Kulihat kedua orang tuaku yang duduk disofa dengan memeluk Al-Qur’an, kulihat kak Tama menggengam tanganku, dan Odi, Dian Ari yang duduk sambil tidur mengelilingi tempat tidurku.
“kak....”panggilku sayu.
            “Nita!” teriak kak Tama yang mampu membangunkan semua orang yang ada disini.
            “Nita! Kamu baik baik aja Nak? Kenapa kamu tidak pernah bilang kalo kamu sakit Nak?” kata Ibuku.
            Aku hanya mampu tersenyum melihat mereka. Dan mereka seakan bahagia melihat senyumku ini. Entah apa yang terjadi, yang ku tahu, aku sangat beruntung terlahir didunia memiliki mereka mereka yang kucintai.
Dokter dan perawat datang. Memeriksaku berkali kali. Mulai kecemasan tampak diwajah kedua orang tuaku. Maafkan aku Ayah, Ibu, karena Nita menyusahkan kalian.
“Baiklah Nita, kamu telah melewati masa kritismu. 4hari telah kau lalui dengan tidur tak sadarkan diri. Dan selamat Nita. Ada pendonor yang akan suka rela mendonorkan ginjalnya ke kamu, bila besok kesehatanmu sudah stabil, besok kita mengadakan transplantasi ginjal” kata dokter yang mampu membuat senyum dimata orang orang yang kusayangi ini.
Entah siapa yang baik hati, yang mau mendonorkan ginjalnya. Bila bertemu, dia lah penyelamatku. Dan dialah yang mampu membuatku hidupku lebih lama lagi.
Hari ini.... akhirnya aku operasi. Diantar oleh keluarga Baskoro, ayah, ibuku, kak Tama, Dian, Odi, dan Ari. Ari, kenapa dia disini? Haha aku sangat bahagia, aku masih diberi kesempatan untuk menatap dunia.
Detik demi detik berjalan operasi yang kujalani sangatlah lancar. Aku masih berbaring ditempat tidurku. Mungkin inilah semangat dari Aldo dan doa doa dari orang orang yang kusayangi.
Ku buka mataku, kulihat semua orang tersenyum tapi aku tak melihat kak Tama dan Ari.dan aku masih penasaran siapa yang mendonorkan ginjal itu.
“nita! Selamat yaaaa” kata Dian.
Terlihat wajah bahagia di wajah Odi. Aku ingin sekali menceritakan kejadian pertemuanku dengan Aldo selama aku koma. Tapi biarlah, ketika waktu yang pas aku akan menceritakannya.
“Di, kak Tama mana?” tanyaku ke Odi
            “entah gue juga tau Nit,semenjak kamu operasi kak Tama sama Ari ga ada.”
            “ohh... Di, anterin gue dong”
            “loe gila nit? Loe baru ja operasi, elo mau pergi kemana?”
            “gue kuat Di. Gue mau kemakamnya Aldo.”
            “ya uda, ntar gue bilang dokter, sekarang elo istirahat, tapi kemakam sebentar aja. Elo masih sakit.”
            “iyaaa Di, eh Di sini deh deket sini”
            “apaan” odi mendekat. Kupeluk Odi dengan erat kulihat semua orang terkejut dan hanya Dian yang tertawa melihat tingkahku.
            “gue sayang elo DI! Elo sahabat gue” kataku sambil memeluk Odi.
Malampun tiba. Odi, Dian kembali kerumah mereka. Dan kudengar orang tua Aldo kembali ke negara kincir angin itu. Tanpa aku melihat mereka. Mereka ternyata masih peduli terhadapku.
Kulihat Ibuku, dan Ayah menemaniku, kasihan mereka harus balik ke Bandung Cuma karena aku sakit. Kasihan Ayah, dan Ibu, aku sayang mereka. Benar kata Aldo, disini banyak orang yang menyayangiku.
“buuuuu” kataku
            “kenapa Nit?”
            “ibu sama Ayah balik ke Palembang aja, Nita udah bisa ditinggal kog, maafkan Nita ya bu, ayah, Nita sudah merepotkan kalian. “
            “kamu ini bicara apa Nit? Kamu itu anak ibu dan Ayah, ayah sudah ambil cuti.”
            “oh ya buu yang donorin ginjal siapa bu? Ibu? Ayah?”
            “sebenarnya naaak, Odi, Dian Ayah dan Ibu ginjalnya tidak ada yang cocok untukmu.”
            “loh? Dian? Odi? Kalo enggak cocok aku percaya, tapi, Ayah dan Ibu?”
            “kamu sehat dulu baru ibu akan cerita sebenarnya.”
            “ibu, Nita udah sehat. Bila ibu tidak cerita sekarang, Nita akan kecewa karena Nita sudah sembuh Bu.”
            “sebenarnya Nita, bukan Anak kandung Ibu dan Ayah. Kedua orang tua Nita sudah meninggal, ibumu adalah sahabat Ibu. Sahabat Ibunya Aldo juga. Ibumu meninggal sewaktu kamu dilahirkan, dan ayahmu meninggal karena kecelakaan, dan ketika mendengar ayahmu kecelakaan ibumu pendarahan hebat setelah melahirkan kamu. Ibumu berpesan untuk merawat kamu, karena ibumu tau ibu tak bisa mempunyai anak.”
Bagai tersambar petir mendengar penjelasan Ibu. Jadi ibuku selama ini bukan ibu kandungku? Kenapa dulu aku dilahirkan? Kenapa semua kejadiaan ini terjadi. Aku hanya bisa menangis, dan ayahku masih saja menggenggam tanganku.
“kamu dirawat oleh keluarga Aldo. Setelah itu baru kami yang merawatmu nak, maafkan Ayah, ayah tak bisa menjagamu.” Kata Ayah.
            “sebenarnya, ketika Aldo meninggal, ibunya Tama sangat marah, tapi dia melihat ternyata Aldo sangat tulus menyayangimu, begitu pula kamu, kamu sangat menyayangi Aldo. Dan mengingat kamu adalah anak dari sahabat kami. Ibunya Aldo. Ikhlas”
Tangis hebatku mengalir, kenyataan yang pahit sangat pahit, padahal aku baru saja menikmati bahagia, langsung down seperti ini.
“Ayah, Ibu, Nita sayang sama kalian, walaupun kenyataannya Ayah dan Ibu bukan orang tua kandung Nita, tapi Kalianlah yang merawat Nita hingga sekarang. Nita sayang Ayah dan Ibu. Tapi makam kedua orang tua Nita dimana?”
“di Palembang Nak” jawab ayahku dan memelukku.
            “Palembang? Lalu siapa yang mendonorkan ginjal untuk Nita?” tanyaku
            “iya, setelah kamu sembuh kita kepalembang ya” kata ibuku.
            “iyaa buu. Bu, yang mendonorkan ginjalku siapa?”
            “ibu dan ayah juga ga tau Nita,”
Jawaban ayah dan ibu membuatku semakin penasaran siapa yang mendonorkan ginjal untukku? Dan aku ingin melihat seperti apa ibu dan ayahku kandung.
BERSAMBUNG..


7 komentar:

  1. bagus siiih. tapi maksudnya kehormatan tak bernilai apa yaaa? jawab dong

    BalasHapus
  2. hehe maaf ya, maksudku sangat berharga, hehe
    maaf ya, bkin ga paham kamu yg baca,
    makasi uda baca:)
    mnurutmu gmna SOL part 6?

    BalasHapus
  3. ouw aku kira apa..
    keren sih keren, konfliknya tambah banyak ya
    tp nih cerita mau sampai part berapa?
    maaf ya cuma tanya, nama kamu siapa?

    BalasHapus
  4. terima kasih :)
    ga tau deh, mungkin sebentar lagi ni cerita uda selesai, jadi partnya ga bkalan bny" hehe

    namaku? hehehe
    ga usa aku jwb aja yaaa maaf

    ikuti part demi partnya ya

    BalasHapus
  5. ouw gituu
    loh kenapa kog namanya ga dijawab? yaudah deh

    iyaaa semakin penasaran, udah terlanjur baca nanggung kalo ga diikutin :)

    BalasHapus
  6. ah semakin panjang saja critanya kakak, bikin penasaran

    BalasHapus
  7. dana perdana :
    hehehe, namaku jg penting kog hehehe
    makasih ya uda mau bca :)

    rizki wulandari :
    hehe iya nih, semakin seru loh, ikuti terus ya :)
    makasi uda baca yaa :)

    BalasHapus