Lanjutan SOL part 5
Odipun hanya
terdiam seribu bahasa. Aku tak mengerti, aku merasa tak pernah mempunyai sakit
apapun tapi kenapa, kenapa aku masih berada diruang ICU?
“Di, kamu sahabat aku kan?” tanyaku
yang terkujur lemas ditempat tidur ICU ini. Odi lagi lagi terdiam, dan Odi,
hanya mengangguk tanpa bersuara.
“Di, percayalah, aku siap mendengar apapun yang terjadi Di.”
“Nit, aku tak percaya, bila kamu tak segera disembuhkan, aku takut kehilangan sahabatku lagi Nit.” Odi pun akhirnya berbicara.
“Di, Aldo tak pernah menghilang dari kita Di, Aldo selalu ada disini, dihati kita Di, kamu selalu bicara padaku untuk aku harus mengikhlaskan kepergian Aldo, tapi kamu, kamu tak pernah mengikhlaskannya kan Di? Di, bila pada akhirnya aku akan menyusul Aldo, aku tak akan pernah menyesal Di, karena aku diberi kesempatan oleh Allah, aku mengenal Aldo, kamu, Dian, kak Tama, kedua orang tuaku, dan aku mengenal dunia ini, dunia yang sangat sangat menyayangiku Di” tangisku pecah, aku menangis dihadapan sahabatku Odi. Odi pun hanya memelukku, aku sangat mengetahui bagaimana perasaan Odi.
“loe sakit gagal ginjal Nit, kalo kita ga cepet cepet nemuin transplantasi ginjal, entah apa yang akan terjadi Nit, Nit, elo mengalami stadium akhir dalam penyakit ini Nit.....” Odi menangis, dan disusul tangisku begitu terisak isak. Aku Cuma mengalami pusing, mual dan perutku perih, hanya itu. Aku tak mengerti apa yang terjadi saat ini.
“Di, percayalah, aku siap mendengar apapun yang terjadi Di.”
“Nit, aku tak percaya, bila kamu tak segera disembuhkan, aku takut kehilangan sahabatku lagi Nit.” Odi pun akhirnya berbicara.
“Di, Aldo tak pernah menghilang dari kita Di, Aldo selalu ada disini, dihati kita Di, kamu selalu bicara padaku untuk aku harus mengikhlaskan kepergian Aldo, tapi kamu, kamu tak pernah mengikhlaskannya kan Di? Di, bila pada akhirnya aku akan menyusul Aldo, aku tak akan pernah menyesal Di, karena aku diberi kesempatan oleh Allah, aku mengenal Aldo, kamu, Dian, kak Tama, kedua orang tuaku, dan aku mengenal dunia ini, dunia yang sangat sangat menyayangiku Di” tangisku pecah, aku menangis dihadapan sahabatku Odi. Odi pun hanya memelukku, aku sangat mengetahui bagaimana perasaan Odi.
“loe sakit gagal ginjal Nit, kalo kita ga cepet cepet nemuin transplantasi ginjal, entah apa yang akan terjadi Nit, Nit, elo mengalami stadium akhir dalam penyakit ini Nit.....” Odi menangis, dan disusul tangisku begitu terisak isak. Aku Cuma mengalami pusing, mual dan perutku perih, hanya itu. Aku tak mengerti apa yang terjadi saat ini.
Malam ini, akupun harus tidur
diruang ICU ini. Disampingku selalu ada Odi, melihat Odi yang begitu sedih dan
kelelahan di raut wajahnya. Dan aku, sekarang aku sangat lemas, padahal ketika
aku sadar dari pingsanku, aku merasa aku sudah baik baik saja, tapi kenapa
perutku sakit sekali.
“Di...” panggilku lirih. Aku
memagang tangan Odi yang sangat dingin. Mungkin es batu pun kalah dengan tangan
Odi. AC dirungan ICU ini sangatlah dingin, walaupun dirungan ini hanya aku dan
Odi, ruangan ini sangat menyeramkan, begitu luas, putih dan sangat sunyi.
“Di...” panggilku lagi.
“iya Nit, maaf gue ga denger.”
“elo, pulang aja deh Di, elo juga belum makan kan Di? Kamu pucet banget Di”
“ga, Nit, tenang aja, gue kuat, loe jangan khawatir, elo tidur lagi ya? Oh ya gue ngabarin Dian tadi, mungkin besok dia kesini Nit. Maaf gue lancang, tapi Dian kurasa dia harus tau Nit. Nit, mata elo nit, mata elo bengkak.”
“masak sih Di? Mungkin gara gara gue nangis tadi”
“bukan Nit, bukan bengkak sembab, bentar gue panggil dokter dulu ya Nit.”
“gue takut Di, ntar juga sembuh sendiri.”
“ada gue Nit, ada gue yang selalu ada dideket elo Nit,”
“iya Nit, maaf gue ga denger.”
“elo, pulang aja deh Di, elo juga belum makan kan Di? Kamu pucet banget Di”
“ga, Nit, tenang aja, gue kuat, loe jangan khawatir, elo tidur lagi ya? Oh ya gue ngabarin Dian tadi, mungkin besok dia kesini Nit. Maaf gue lancang, tapi Dian kurasa dia harus tau Nit. Nit, mata elo nit, mata elo bengkak.”
“masak sih Di? Mungkin gara gara gue nangis tadi”
“bukan Nit, bukan bengkak sembab, bentar gue panggil dokter dulu ya Nit.”
“gue takut Di, ntar juga sembuh sendiri.”
“ada gue Nit, ada gue yang selalu ada dideket elo Nit,”
Odipun pergi memanggil dokter. Ruanganku
pun semakin menyeramkan. Muncul dibenakku, apakah kak Tama sedang khawatir
terhadapku? Ataukah dia masih bersenang senang dengan Silvi saudara kembar
Aldo. Kenapa aku begitu memikirkan kak Tama? Aneh.
“dokter, liat Anita matanya bengkak
dok” teriak Odi yang sangat cemas.
dokterpun dengan cepat memeriksaku. Aku yang tak sanggup berbicara banyak, aku hanya memilih untuk diam.
“bagaiman dok?” tanya Odi.
“yah, inilah gejala gejala dalam penyakit yang saya katakan dulu Odi. Bahkan Anita sering merasakan mual, dan kekurangan darah merah. Dan bahkan pencernaannya terganggu” jelas dokter.
dokterpun dengan cepat memeriksaku. Aku yang tak sanggup berbicara banyak, aku hanya memilih untuk diam.
“bagaiman dok?” tanya Odi.
“yah, inilah gejala gejala dalam penyakit yang saya katakan dulu Odi. Bahkan Anita sering merasakan mual, dan kekurangan darah merah. Dan bahkan pencernaannya terganggu” jelas dokter.
Dokterpun meninggalkan kami berdua
diruang serba putih ini. Aku terus menatap Odi dengan mata yang mulai sipit karena
bengkak. Odi melihatku dan memelukku. Lalu dia terus memegangi tanganku dan
terus menangis. Melihat Odi seperti itu, aku juga meneteskan air mata
kebahagiaan karena aku memiliki sahabat seperti Odi. Odi menghapus air mataku.
Dan dia terseyum dan menyuruhku istirahat.
“Nita.......huhuhu” tiba tiba suara
tangisan terdengar memanggilku. Akupun terbangun setelah mendengar tangisan
itu.
“Dian?” panggilku lirih, karena aku
berbicara sedikitpun rasanya sakit sekali.
“kamu kenapa sayang? Kenapa bisa seperti ini??”
akupun hanya menggeleng. Dian memelukku erat, dia menangis. Aku sangat terharu, aku memiliki sahabat sahabat yang begitu indah. Kumelihat sekitar, aku tak melihat Odi yang menjagaku semalam.
“Odi kemana?”
“dia kuliah dan sekarang gue yang akan menjagamu, oh ya, sewaktu gue melewati rumah loe Nit, gue liat seseorang karena penasaran, gue turun dari mobil. Gue sapa dia, dia diem aja Nit, tapi gue baru liat tuh orang. Waktu gue liat dia pergi, gue juga liat mobil kak Tama Nit. Apa dia pacarnya kak Tama ya?”
“gue tau orang itu siapa, dia cewek kan? Dia sepupunya kak Tama.”
“iya dia cewek, gue tadinya mau ngasih tau kak Tama tentang elo, tapi kemarin gue dilarang sama Odi katanya gue jangan kasih tau kak Tama. Tapiiii.....”
“tapi kenapa Ian?”
“tapi waktu kerumah elo Nit, ada seseorang yang muncul tiba tiba diteras elo. Tampangnya suntuk banget dan dia mbuntutin gue hingga kesini. Tapi ini dia di toilet. Gue tadi sempet dimarahin sama Odi karena bawa dia.”
“dia? Dia seiapa yang elo maksud Ian?”
“ntar elo juga tau, maaf banget gue ga bermaksud ngajak dia. Orang tua elo belum tau Nit? Terus kak Tama ga ngehubungin elo sama sekali?”
“kasihan orang tua gue, jangen pernah elo kasih tau mereka, toh bentar lagi gue bakalan sembuh. Kak Tama, ga ada sama sekali. Dian, gue kehilangan kakak gue Ian. Gue kangen kakak gue kak Tama”
“ehm,, gue ganggu ga?” terdengar seorang cowok yang gue kenal suaranya.
“sorry Nit, gue bawa cowok gila ini.”
“ya Allah Ian, gue ga bakalan sembuh kalo ada dia. Elo tau sendiri kan?”
“elooo tu ya ndut! Sakit aja masih bisa ngeluh, bersyukur kek gue kesini.”
“apanya yang harus gue syukurin dari eloo?”
“hahaha uda uda, nie rumah sakit kenapa jadi tengkar kayak gini? Nit, gue kedepan bentar ya”
“elooo tega ninggalin gue sama cowok gila ini sendirian?”
“hahaha nikmatin aja moment kalian berdua daaaaa”
“kamu kenapa sayang? Kenapa bisa seperti ini??”
akupun hanya menggeleng. Dian memelukku erat, dia menangis. Aku sangat terharu, aku memiliki sahabat sahabat yang begitu indah. Kumelihat sekitar, aku tak melihat Odi yang menjagaku semalam.
“Odi kemana?”
“dia kuliah dan sekarang gue yang akan menjagamu, oh ya, sewaktu gue melewati rumah loe Nit, gue liat seseorang karena penasaran, gue turun dari mobil. Gue sapa dia, dia diem aja Nit, tapi gue baru liat tuh orang. Waktu gue liat dia pergi, gue juga liat mobil kak Tama Nit. Apa dia pacarnya kak Tama ya?”
“gue tau orang itu siapa, dia cewek kan? Dia sepupunya kak Tama.”
“iya dia cewek, gue tadinya mau ngasih tau kak Tama tentang elo, tapi kemarin gue dilarang sama Odi katanya gue jangan kasih tau kak Tama. Tapiiii.....”
“tapi kenapa Ian?”
“tapi waktu kerumah elo Nit, ada seseorang yang muncul tiba tiba diteras elo. Tampangnya suntuk banget dan dia mbuntutin gue hingga kesini. Tapi ini dia di toilet. Gue tadi sempet dimarahin sama Odi karena bawa dia.”
“dia? Dia seiapa yang elo maksud Ian?”
“ntar elo juga tau, maaf banget gue ga bermaksud ngajak dia. Orang tua elo belum tau Nit? Terus kak Tama ga ngehubungin elo sama sekali?”
“kasihan orang tua gue, jangen pernah elo kasih tau mereka, toh bentar lagi gue bakalan sembuh. Kak Tama, ga ada sama sekali. Dian, gue kehilangan kakak gue Ian. Gue kangen kakak gue kak Tama”
“ehm,, gue ganggu ga?” terdengar seorang cowok yang gue kenal suaranya.
“sorry Nit, gue bawa cowok gila ini.”
“ya Allah Ian, gue ga bakalan sembuh kalo ada dia. Elo tau sendiri kan?”
“elooo tu ya ndut! Sakit aja masih bisa ngeluh, bersyukur kek gue kesini.”
“apanya yang harus gue syukurin dari eloo?”
“hahaha uda uda, nie rumah sakit kenapa jadi tengkar kayak gini? Nit, gue kedepan bentar ya”
“elooo tega ninggalin gue sama cowok gila ini sendirian?”
“hahaha nikmatin aja moment kalian berdua daaaaa”
Kenapa jantung berdebar kencang
ketika ada dia disampingku? Aneh, jangan bilang gue naksir sama anak gila ini
deh, masak iya pengganti Aldo itu cowok super rese ini.
Keheningan menyelimuti ruangan serba
putih ini. Aku yang terbaring lemas dengan memandangi seadanya ini hanya bisa
melihat cowok gila itu yang sedang bermain gitar, mungkin dia cowo paling gila,
gimana pasien mau sembuh kalo yang nunggu main alat musik?
Dia memetik senar senar itu,
menciptakan nada nada indah, siapapun yang mendengar pasti akan ikut bernyanyi
dengan irama yang sangat pas ditelinga. Penampilannya cukup rapi hari ini. Aku
heran kenapa dia tidak kuliah? Kalo dipikir pikir dia memang lucu. Hidup tanpa
beban dan menjalani hidup dengan kekonyolan yang dia buat.
Kudengar dia pernah membuat seisi
kelasnya tertawa hebat ketika bu Sarah sedang mengajar dan dia datang dengan
meniru gaya pak Jodi, dan langsung mengeluarkan jurus jurus rayuan untuk bu
Sarah. Dan dia pun dihukum bu Sarah karena perilakunya itu.
Aku memilih tidur senyenyak mungkin
untuk mengalihkan pandanganku ini yang sejak tadi hanya memandang cowok rese
itu. Tapi pikiranku terus melayang memikirkan dia. Aneh entah apa yang kurasa
saat ini.
“halo? Kenapa Tam? Elo tumben nelfon
gue kenapa?” suara cowok gila ini, membuyarkan lamunanku.
“oh gitu? Oke, tapi gue lagi jagain karung beras emak gue,”
“tenang Tam, terus elo kapan pulang dari Bali?”
“okey siaaap”
“oh gitu? Oke, tapi gue lagi jagain karung beras emak gue,”
“tenang Tam, terus elo kapan pulang dari Bali?”
“okey siaaap”
Ha? Kak Tama ke Bali ngapain? Pasti
dia baru sama Silvi. Tapi kenapa ke Bali? Memang sih besok udah liburan kuliah,
masak iya kak Tama mau liburan ke Bali? Tega amat gue sakit kayak gini dia ke
Bali. Hadeeeh gue harus tanya nih. Tapi kenapa sumbernya harus cowok rese ini sih.
Ga meyakinkan.
“kak Tama ngapain ke Bali?” tanyaku
sopan
“dia nganter sepupunya pulang. Tadi sepupunya marah marah pingen ketemu sama elo. Dan dia kemarin kerumah elo.”
“kerumah gue? Ngapain?”
“mana gue tau”
“dia nganter sepupunya pulang. Tadi sepupunya marah marah pingen ketemu sama elo. Dan dia kemarin kerumah elo.”
“kerumah gue? Ngapain?”
“mana gue tau”
Nih orang kadang baik, kadang jutek
banget. Coba aja gue sehat. Gue uda cubit tuh mulut.
Kembali ku memandang dia. Dia pun
bermain gitar lagi. Dia menyanyikan beberapa lagu. Ingin rasanya aku ikut
bernyanyi dalam alunan nada yang dia mainkan. Tapi ga mungkin, secara kita
seperti tom and jerry.
“nita, gue bawain elo mawar putih
nih” akhirnya sahabat gue Odi muncul dengan membawa bunga.
“thanks Odi”
“ups sorry gue nganggu kalian ya?”
“ga, untung elo dateng, dari tadi karung beras ini ga mau bicara. Ga asyik, ga seru, ga kayak biasanya, gue pulang deh, besok gue balik lagi” sahut Ari seketika.
“ga usa balik deh, elo juga ga penting juga. Mana ada pasien sakit elo maen gitar, bisa bisa tuh pasien ga sembuh sembuh” jawabku kesal
“siapa suruh elo dengerin, udah gue cabut”
“thanks Odi”
“ups sorry gue nganggu kalian ya?”
“ga, untung elo dateng, dari tadi karung beras ini ga mau bicara. Ga asyik, ga seru, ga kayak biasanya, gue pulang deh, besok gue balik lagi” sahut Ari seketika.
“ga usa balik deh, elo juga ga penting juga. Mana ada pasien sakit elo maen gitar, bisa bisa tuh pasien ga sembuh sembuh” jawabku kesal
“siapa suruh elo dengerin, udah gue cabut”
Dia pergi, mulai menjauh dan
menjauh. Mataku mengikuti arah dia pergi. Kecewa ya itu yang dibenakku. Sekarang
hanya aku dan Odi yang berada di ruang putih ini.
“udaaaah
hahaha elo ini, gue sih setuju setuju aja kalo pengganti Aldo dia.”
“idiiiih”
“haha oh ya, tadi gue uda tanya dokter, katanya kalo mata elo uda baikan elo boleh pulang yang penting jangan kecapekan. Nah elo bisa tinggal dirumah gue atau Dian.”
“gue tinggal dirumah gue aja Di.”
“ ya udah, kalo elo mau dirumah elo, ntar gue bilang sama pembantu gue datang kerumah elo buat bersih bersih rumah elo.”
“thank’s di”
“idiiiih”
“haha oh ya, tadi gue uda tanya dokter, katanya kalo mata elo uda baikan elo boleh pulang yang penting jangan kecapekan. Nah elo bisa tinggal dirumah gue atau Dian.”
“gue tinggal dirumah gue aja Di.”
“ ya udah, kalo elo mau dirumah elo, ntar gue bilang sama pembantu gue datang kerumah elo buat bersih bersih rumah elo.”
“thank’s di”
Kulihat buku biru tua bertulisan
“Dina Diandra”. Buku yang sangat unik menurutku. Buku yang didekap oleh Odi ini
menarik perhatianku.
“buku
apa yang lo pegang di?”
“oh ini, ini buat Dian, ini kumpulan foto foto dia yang berhasil gue jepret diem diem hahaha”
“yaelaaaaah uda pacaran juga kenapa harus diem diem??”
“dia cantik tanpa dibuat buat nit, apa adanya gitu haha”
“sok so sweet lu Di.”
“oh ini, ini buat Dian, ini kumpulan foto foto dia yang berhasil gue jepret diem diem hahaha”
“yaelaaaaah uda pacaran juga kenapa harus diem diem??”
“dia cantik tanpa dibuat buat nit, apa adanya gitu haha”
“sok so sweet lu Di.”
Sinar mentari menembus jendela kamar
putih ini. Kupandangi seluruh kamar ini. Ternyata ada Odi dan Dian disampingku
menjagaku sewaktu aku terlelap dalam tidurku. Dan kulihat disofa ada cowo rese
dengan bersebelahan gitar disampingnya.
Kenapa tuh anak bisa disini
lagi?katanya kemarin dia pulang. Eh muncul lagi tuh anak. Tapi dia tidur imut
banget tetep ganteng sih dengan gayanya sok cool.
“Nita, elo uda bangun?” tanya Dian.
“hehe iya nih, elo kapan dateng?
“tadi malem, bareng Ari. Elo uda ditidur semalem. Gue ga tega mau bangunin elo.”
“gue minta tolong dong beliin makanan buat mereka tuh kasihan.”
“oke siap”
“hehe iya nih, elo kapan dateng?
“tadi malem, bareng Ari. Elo uda ditidur semalem. Gue ga tega mau bangunin elo.”
“gue minta tolong dong beliin makanan buat mereka tuh kasihan.”
“oke siap”
Aku kembali memejamkan kedua mataku.
Aku melihat Aldo sedang tersenyum kepadaku. Tersenyum indah sangat indah. Dia
mencium mataku dengan lembut. Akankah aku akan bertemu dengan Aldo, ketika aku
telah tiada?
“heh
karung beras. Elo bukannya uda bangun? Kenpa tidur lagi? Elo mau ngalahin kebo
ya?”
Sialan nih orang bangun bangun
ucapin selamat pagi kek malah ngejek gue. Kulihat Odi, Dian dan cowo rese ini
telah rapi dan wangi. Lalu? Aku tidur kembali berapa jam? Bukannya aku menutup
kembali mataku ketika mereka masih tidur??
“Nit, elo uda boleh pulang.” Kata
Odi.
“asyiiiiik gue pulang nih?”
“iya sewaktu elo tidur dokter kesini liat mata elo, elonya aja tidur kayak orang mati ga bangun bangun” ejek Ari.
“asyiiiiik gue pulang nih?”
“iya sewaktu elo tidur dokter kesini liat mata elo, elonya aja tidur kayak orang mati ga bangun bangun” ejek Ari.
“Di, Ari tau penyakit gue?” bisikku
“ga, kan yang tau Cuma gue, elo sama Dian.”
“okeee”
“ga, kan yang tau Cuma gue, elo sama Dian.”
“okeee”
Ketika aku beres beres untuk
persiapan pulang, terdengar seseorang berlari menuju kamar ini.
“Nita! Nita!” tiba tiba kak Tama muncul dirumah sakit ini.
“loh kak Tama ngapain kesini?”
“kenapa kamu ga bilang kalo kamu sakit? Tadi Ari ngabarin kakak, katanya kamu sakit” gila tuh anak! Ga bisa jaga rahasia banget sih.nyesel kalo ada dia disini.
”aku gapapa kak, nih buktinya aku uda pulang.”
“kamu sakit apa?” kak Tama memelukku.
“Cuma kecapean doang kak” sambar Odi.
“ayo pulang, kamu ikut ke mobil kakak aja”
“iya kak.”
‘ya udah gue pulang yeeeeeee” pamit Ari
“loe ga bareng kita Ri?” tanya kak Tama.
“enggak, gue udah dari kemarin jagain tuh karung beras. Bosen gue.”
“oke thanks”
“Nita! Nita!” tiba tiba kak Tama muncul dirumah sakit ini.
“loh kak Tama ngapain kesini?”
“kenapa kamu ga bilang kalo kamu sakit? Tadi Ari ngabarin kakak, katanya kamu sakit” gila tuh anak! Ga bisa jaga rahasia banget sih.nyesel kalo ada dia disini.
”aku gapapa kak, nih buktinya aku uda pulang.”
“kamu sakit apa?” kak Tama memelukku.
“Cuma kecapean doang kak” sambar Odi.
“ayo pulang, kamu ikut ke mobil kakak aja”
“iya kak.”
‘ya udah gue pulang yeeeeeee” pamit Ari
“loe ga bareng kita Ri?” tanya kak Tama.
“enggak, gue udah dari kemarin jagain tuh karung beras. Bosen gue.”
“oke thanks”
Sialan tuh anak sok cool banget
idiiiiih. Seenaknya aja pulang gitarnya ditinggal terpaksa aku yang bawa.
Setelah kuamati gitar itu, kulihat didalam gitar itu ada sebuah foto. foto
seorang cewek yang sangat cantik.
Sampailah aku dirumah, bersama kak
Tama, Dian dan Odi. Kami mau barbaque bersama di halaman belakang. Didekat
kolam renangku inilah dulu Aldo mengungkapkan perasaannya terhadapku.
Angin malam dengan bercahaya lilin
lilin kecil kami makan bersama. Hingga kami selesai, kamipun tidur. Tidur,
dengan nyenyak.
Pagi harinya, mentari menyinari
indahnya dunia, ku lihat Dian yang berada disampingku masih tertidur lelap, aku
keluar kamar, kulihat kak Tama dan Odi juga terlihat masih sangat menikmati
mimpi indah mereka. Aku menuju dapur untuk membuat sarapan.
Kulirik jam masih pukul 7 pagi. Aku menuju
halaman depan, entah kenapa aku ingin sekali keluar menikmati cahaya pagi ini. Aku
duduk dipendopo kecil dihalaman rumah, kulihat ada sekuntum mawar putih disana.
Mawar
putih yang sangat indah dan cantik, ku nikmati harumnya bunga itu. Ini masih
fresh, masih baru, tapi kenapa ada disini? Siapa yang meletakkan ini? Aku menikmati
pagi ini dengan bunga mawar disampingku. Dan tidak terasa aku terbuai dengan
angin pagi ini, aku pun tertidur.
“hei, nduuuut! Loe ngapain disini?”
suara seseorang yang menggangguku tidur.
“ehm.... gue ketiduran...” jawabku seadanya.
“oh ya, Tama mana? Penting banget nih”
“didalam, masih tidur,”
“ya uda gue bangunin dia.”
“ehm.... gue ketiduran...” jawabku seadanya.
“oh ya, Tama mana? Penting banget nih”
“didalam, masih tidur,”
“ya uda gue bangunin dia.”
Ari
pun masuk kedalam rumah aku pun mengikutinya dari belakang. Dia mengamati
seluruh isi rumahku. Dia memang baru pertama kalinya masuk kerumahku.
“Tam, bangun gue mau bicara”
“apaan?”
“udah elo ikut gue”
“Tam, bangun gue mau bicara”
“apaan?”
“udah elo ikut gue”
Kak Tama dan Ari pergi begitu saja
tanpa pamit. Entah kenapa aku merasa sangat sedih ketika mereka berdua pergi. Apa
aku mulai jatuh cinta? Tapi? Aldo? Aldo baru dua tahun dia meninggalkanku, aku
masih menyayanginya. Tapi aku baru menyadari aku masih membawa mawar putih ini.
Siapa yang membawanya?
Setelah Odi dan Dian bangun kami pun
jalan jalan ke toko buku. Memburu buku buku yang telah membuatku tergila gila
setelah membaca karya Esti kinasih.
“bruk... haduh” tiba tiba buku buku itu jatuh.
“eloo gpp?” tanyaku dan membantunya.
“iyaa gue gpp. Makasih.”
“nama loe siapa? “
“Rani. Elo?”
“gue Nita.”
“Rani! Elo Sama siapa?” tanya seseorang yang dibelakangnya.
“ini sama Nita, tadi buku buku ini jatuh dan Nita yang menolongnya.”
“makasih ya Nita” jawab cowok dibelakangnya. Dan Rani pun pindah posisi dan aku dan cowok itu saling memandang.
“ya Allah kenapa gue ketemu sama elo lagi sih?”
“idiiiih gue juga ga mau ketemu sama elo kali nduuuut”
“loh Ari kenal sama Nita? Tanya Rani terkejut.
“gue ga kenal sama dia ayo pulang Rani, hilang mood gue”
“loh loh tapi?” jawab Rani.
“bruk... haduh” tiba tiba buku buku itu jatuh.
“eloo gpp?” tanyaku dan membantunya.
“iyaa gue gpp. Makasih.”
“nama loe siapa? “
“Rani. Elo?”
“gue Nita.”
“Rani! Elo Sama siapa?” tanya seseorang yang dibelakangnya.
“ini sama Nita, tadi buku buku ini jatuh dan Nita yang menolongnya.”
“makasih ya Nita” jawab cowok dibelakangnya. Dan Rani pun pindah posisi dan aku dan cowok itu saling memandang.
“ya Allah kenapa gue ketemu sama elo lagi sih?”
“idiiiih gue juga ga mau ketemu sama elo kali nduuuut”
“loh Ari kenal sama Nita? Tanya Rani terkejut.
“gue ga kenal sama dia ayo pulang Rani, hilang mood gue”
“loh loh tapi?” jawab Rani.
Mereka pun keluar dari toko buku
ini. Entah kenapa perasaan ini sakit sekali, kenapa sewaktu Ari berkata dia tak
mengenalku, kenapa aku tak membalas? Kenapa? Lalu siapa dia siapa Rani itu,
semua sekarang berada dibenakku.
“nita, uda ketemu bukunya?” tiba tiba Odi membuyarkan lamunanku
“iya udah, ayoo pulang, ayoo Ian”
“nita, uda ketemu bukunya?” tiba tiba Odi membuyarkan lamunanku
“iya udah, ayoo pulang, ayoo Ian”
Kamipun menuju parkiran, kulihat
mobil Odi terpasang sekuntum mawar putih. Kuambil mawar itu, lagi lagi ada
mawar putih, apa yang tadi pagi itu mawar putih untuk Odi ya??
“gila!
Siapa yang menaruh ini?” kata Odi.
“iyaaa siapa ya? Tadi padi juga ada yang meletakkan mawar putih dipendopo dihalaman rumah.” Sahutku.
“Nit, Di, lihat deh yang turun dari mobil sedan itu” kata Dian seketika.
“Aldo? Aldo? Itu Aldo? Aldo Di, Aldo..” jawabku.
“iyaaa siapa ya? Tadi padi juga ada yang meletakkan mawar putih dipendopo dihalaman rumah.” Sahutku.
“Nit, Di, lihat deh yang turun dari mobil sedan itu” kata Dian seketika.
“Aldo? Aldo? Itu Aldo? Aldo Di, Aldo..” jawabku.
Akupun mendekati sedan putih itu. Mendekati
seseorang yang begitu aku kenal. Tapi cowok itu memakai kacamata, dan dia masih
berada disamping mobilnya, dia sendirian, apakah itu Aldo? Tapi apa mungkin? Aku
melihat sendiri ketika Aldo dimakamkan. Lalu ini siapa? Kupercepat langkahku
dan kalo bener bener ini Aldo, ingin sekali aku memeluknya, Aldo yang selama
ini kurindukan, yang selama ini aku tunggu, yang selama ini ada didalam doa doa
yang setiap kuucapkan.
“Aldo?” sapa ku, menyentuh bahu
cowok itu. Dan dia menoleh kepadaku.
BERSAMBUNG.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar